Mimpi Rumah Layak Penarik Ojek Ternate Terwujud, Wahid: Terima Kasih Ibu Gubernur
- 02 Sep 2026 20:07 WIB
- Ternate
RRI.CO.ID, Ternate - Abdul Wahid Setya Budi menggenggam erat kunci rumah yang baru saja diserahkan kepadanya, Rabu, 2 September 2026. Wajah penarik ojek di Kelurahan Tubo, Kota Ternate, itu tampak semringah. Rumah yang selama ini hanya menjadi impian kini berdiri di hadapannya.
Bagi Abdul Wahid, rumah baru itu bukan sekadar bangunan. Hunian yang layak, aman, dan sehat menjadi sesuatu yang sulit dia wujudkan dengan penghasilan sebagai penarik ojek. Kondisi ekonomi keluarganya menempatkannya dalam kategori kemiskinan ekstrem atau desil 1.
Hari itu, Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda bersama Ketua Umum Tim Pembina Posyandu Nasional Tri Tito Karnavian meresmikan rumah tersebut secara simbolis dengan pemotongan pita. Abdul Wahid menerima kunci rumahnya dengan penuh haru.
“RTLH ini bukan sekadar program pembangunan fisik, tetapi tentang mengembalikan harkat, martabat, dan menghadirkan kebahagiaan di tengah keluarga masyarakat kita yang paling membutuhkan,” kata Sherly.
Rumah Abdul Wahid merupakan bagian dari program rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) Pemerintah Provinsi Maluku Utara. Program tersebut menyasar keluarga yang membutuhkan, terutama masyarakat dengan kondisi sosial-ekonomi rentan.
Pemerintah Provinsi Maluku Utara mengalokasikan bantuan untuk 1.200 unit pada 2026. Jumlah itu meningkat dibandingkan 700 unit pada 2025. Bantuan tahun ini tersebar di 10 kabupaten dan kota, dengan Kota Ternate memperoleh alokasi 70 unit.
Dari total 1.200 unit tersebut, sebanyak 150 unit merupakan pembangunan rumah baru, 700 unit peningkatan kualitas atau rehabilitasi rumah, dan 325 unit dapur sehat untuk menunjang kebutuhan gizi keluarga.
Hingga kini, sekitar 40 persen dari target 1.200 unit telah rampung 100 persen. Adapun 60 persen lainnya masih dalam proses pembangunan dengan progres fisik sekitar 70 persen.
Namun, bagi Sherly, persoalan rumah tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan dasar lain. Saat berdialog dengan warga Tubo setelah penyerahan kunci, sejumlah warga menyampaikan persoalan keterbatasan air bersih dan akses jalan.
Sherly mengatakan pemerintah akan mencari solusi untuk kebutuhan tersebut. Pemerintah provinsi, kata dia, akan mengusulkan pemanfaatan dana tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR untuk pembangunan sumur bor.
“Kami tidak hanya membangun rumahnya, tapi juga ekosistem kehidupannya,” ujar Sherly.
Ia juga mengatakan akses jalan di Kelurahan Tubo akan diusulkan untuk mendapat penanganan melalui Pemerintah Provinsi Maluku Utara.
Bagi Abdul Wahid, perhatian itu melampaui dinding rumah barunya. Setelah bertahun-tahun bekerja menarik ojek untuk memenuhi kebutuhan keluarga, hari itu ia pulang dengan membawa sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kunci, kepastian bahwa keluarganya memiliki tempat tinggal yang lebih layak.
“Terima kasih ibu gubernur, semoga selalu diberikan kesehatan yang baik, sehingga lebih banyak lagi program untuk masyarakat,”kata Wahid kepada rri.co.id.
Program RTLH tersebut menjadi salah satu bentuk intervensi pemerintah dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat berpenghasilan rendah. Pemerintah tidak hanya mengejar pembangunan fisik, tetapi juga mencoba memastikan rumah yang ditempati warga dapat menjadi ruang yang aman dan sehat bagi keluarga.
Selain Tri Tito Karnavian dan Sherly Tjoanda, penyerahan rumah tersebut turut dihadiri Direktur Fasilitasi LKAD PKK dan Posyandu Kementerian Dalam Negeri Nita Roslin, Pelaksana Tugas Sekretaris Umum TP Posyandu Safriyati Safrizal, Ketua Tim Pembina Posyandu Maluku Utara Rusni Sarbin, serta sejumlah pimpinan organisasi perangkat daerah Pemerintah Provinsi Maluku Utara.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....