Maluku Utara Dilanda Kemarau Panjang , BMKG Ingatkan Waspada Kebakaran
- 12 Agt 2026 08:07 WIB
- Ternate
RRI.CO.ID, Ternate - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau di Maluku Utara masih akan berlangsung hingga Oktober 2026. Kondisi ini menyebabkan curah hujan di sejumlah wilayah menjadi sangat rendah dan meningkatkan potensi kekeringan.
Koordinator BMKG Maluku Utara, Desindra Deddy Kurniawan, mengatakan kondisi kemarau tahun ini diperkuat oleh fenomena El Niño yang turut mengurangi pasokan uap air di wilayah Indonesia, termasuk Maluku Utara. Kondisi tersebut membuat periode kemarau berpotensi lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Karena kita ini di puncak musim kemarau ditambah juga El Nino, di bulan Agustus, September sampai Oktober curah hujannya sangat sedikit, bahkan mungkin tidak ada hujan sama sekali,” ujar Desindra, Selasa, 11 Agustus 2026.
| Baca juga: Jaksa Agung Lantik Kajati Maluku Utara |
Menurutnya, kondisi tersebut dapat menyebabkan kekeringan secara meteorologis, yakni kekeringan yang terjadi akibat rendahnya curah hujan dalam periode tertentu. Dampak kekeringan terutama perlu diwaspadai pada sektor pertanian yang sangat bergantung pada ketersediaan air.
BMKG mencatat sejumlah wilayah di Maluku Utara saat ini telah mengalami hari tanpa hujan dalam kategori sangat panjang atau very long. Berdasarkan pemantauan BMKG, terdapat wilayah yang telah mengalami lebih dari 31 hari tanpa hujan.
Desindra mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan apabila kondisi tanpa hujan berlangsung lebih dari satu bulan. Bahkan, di sejumlah wilayah terdapat periode tanpa hujan yang telah mendekati dua bulan sehingga kondisi permukaan tanah, ranting, daun, dan semak-semak menjadi sangat kering.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko terjadinya kebakaran, terutama ketika disertai angin yang cukup kencang. Percikan api kecil sekalipun dapat dengan cepat memicu kebakaran dan menyebabkan api meluas ke wilayah sekitarnya.
BMKG mengimbau masyarakat, khususnya yang beraktivitas di lahan pertanian atau perkebunan, tidak membuka lahan dengan cara membakar. Masyarakat juga diminta berhati-hati dalam menggunakan api di kawasan yang memiliki vegetasi kering dan mudah terbakar.
Selain itu, warga yang berada di sekitar semak-semak maupun permukiman yang rawan kebakaran diminta tidak membuang puntung rokok sembarangan. Puntung rokok yang masih menyala dapat menjadi sumber api dan dengan mudah memicu kebakaran ketika tertiup angin. “Ketika puntung rokok dibuang di semak-semak, itu akan menjadi titik api dan akan cepat sekali menyebar ketika angin bertiup cukup kencang,” kata Desindra.
BMKG menegaskan kewaspadaan masyarakat perlu ditingkatkan selama periode puncak musim kemarau. Selain mengantisipasi dampak kekeringan terhadap aktivitas pertanian dan ketersediaan air, masyarakat juga perlu mencegah potensi kebakaran yang dapat membahayakan keselamatan dan lingkungan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....