Kadikbud Malut Serukan Gerakan Hormati Guru dan Cintai Sekolah

  • 01 Agt 2026 14:05 WIB
  •  Ternate

RRI.CO.ID, Ternate – Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi dunia pendidikan, mulai dari perubahan perilaku peserta didik hingga menurunnya penghormatan terhadap profesi guru, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara, Dr. Abubakar Abdullah, mengajak seluruh elemen masyarakat menghidupkan kembali gerakan “Hormati Guru dan Cintai Sekolah.”

Ajakan itu disampaikan Abubakar saat menjadi narasumber dalam seminar yang digelar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Rektorat Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU), Sabtu 1 Agustus 2026. Mengusung tema Kolaborasi Pemerintah dan Masyarakat terhadap Dunia Pendidikan, seminar tersebut menjadi ruang refleksi bahwa kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh budaya menghargai guru dan menjaga sekolah sebagai ruang pembentukan karakter.

Di hadapan pelajar, mahasiswa, dosen, dan pengurus IMM, Abubakar menilai gerakan menghormati guru dan mencintai sekolah perlu kembali dikampanyekan secara masif. Menurutnya, guru dan sekolah merupakan dua fondasi utama yang menentukan lahirnya generasi berkualitas.

“Guru bukan sekadar mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga mendidik karakter, akhlak, moral, serta menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada peserta didik. Karena itu, sudah sepatutnya profesi guru mendapatkan penghormatan dari seluruh elemen masyarakat. Bagaimana mungkin kita menitipkan anak-anak untuk dibentuk akhlak dan karakternya, jika gurunya sendiri tidak kita hormati,” kata Abubakar.

Ia menjelaskan, sekolah bukan sekadar tempat berlangsungnya proses belajar mengajar, melainkan ruang tumbuh yang membentuk cara berpikir, karakter, dan masa depan anak-anak. Karena itu, menjaga nama baik, keamanan, dan kenyamanan lingkungan sekolah merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, keluarga, masyarakat, dan peserta didik.

Namun, Abubakar menegaskan bahwa penghormatan terhadap guru harus berjalan seiring dengan meningkatnya profesionalisme tenaga pendidik. Menurutnya, kepercayaan publik hanya dapat tumbuh apabila guru terus menjaga integritas, disiplin, etika profesi, dan kompetensi dalam menjalankan tugas.

“Kepercayaan publik lahir ketika masyarakat menghormati guru, dan pada saat yang sama guru menunjukkan dedikasi, keteladanan, serta pelayanan pendidikan yang berkualitas,” ujarnya.

Melalui forum tersebut, Abubakar juga mengajak organisasi kemahasiswaan, termasuk IMM, menjadi mitra strategis pemerintah dalam membangun budaya pendidikan yang sehat. Keterlibatan mahasiswa dinilai penting untuk menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab seluruh elemen bangsa, bukan hanya institusi sekolah.

Seminar yang berlangsung di lingkungan Universitas Muhammadiyah Maluku Utara itu menjadi momentum memperkuat kolaborasi antara pemerintah, dunia akademik, dan masyarakat. Harapannya, gerakan “Hormati Guru dan Cintai Sekolah” tidak berhenti sebagai slogan, tetapi menjadi budaya yang mengembalikan kepercayaan publik terhadap dunia pendidikan sekaligus memperkuat pembentukan karakter generasi muda Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....