Balai Bahasa Maluku Utara Gelar Bimtek SKKNI Berbasis Inovasi Pedagogi

  • 24 Jul 2026 09:11 WIB
  •  Ternate

RRI.CO.ID, Ternate - Balai Bahasa Provinsi Maluku Utara, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, menyelenggarakan Bimbingan Teknis Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Aula KPKNL Ternate pada Kamis, 23 juli 2026. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kompetensi diplomasi bahasa, pedagogi, dan profesionalisme para pengajar serta pegiat BIPA sebagai bagian dari upaya memperkuat internasionalisasi Bahasa Indonesia.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Maluku Utara, Nukman mengatakan penguatan kompetensi pengajar merupakan bagian penting dalam implementasi Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Pengajar BIPA tidak hanya dituntut menguasai aspek kebahasaan, tetapi juga memiliki kompetensi pedagogi, profesional, sosial, dan kepribadian yang mampu menjawab kebutuhan pembelajar internasional di era global.

"Peserta memperoleh penguatan materi dari Asosiasi Pengajar dan Pegiat Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (APPBIPA) mengenai implementasi kompetensi pengajar BIPA sesuai standar nasional, strategi pembelajaran, serta tantangan pengajaran Bahasa Indonesia bagi penutur asing di tengah perkembangan teknologi dan meningkatnya mobilitas mahasiswa internasional," kata Nukman.

Sementara itu Akademisi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, Faujia Umasugi menyampaikan materi bertajuk “Aspek Pedagogi Pengajar BIPA”. Materi disusun berdasarkan hasil penelitian disertasinya yang berjudul Pengembangan Model Pembelajaran Imersif Adaptif Berbasis Transformasi Sosial-Budaya untuk Meningkatkan Penguasaan Bahasa dan Adaptasi Kultural Mahasiswa Internasional.

Dalam pemaparannya, Faujia menjelaskan bahwa pembelajaran BIPA pada era global tidak lagi berorientasi pada penguasaan tata bahasa semata, tetapi harus mampu membangun kompetensi komunikatif yang terintegrasi dengan kemampuan beradaptasi terhadap budaya Indonesia. Pengajar BIPA perlu menerapkan pendekatan pembelajaran yang kontekstual, adaptif, dan berpusat pada pengalaman belajar mahasiswa internasional.

Sebagai implementasi model tersebut, peserta diperkenalkan pada pemanfaatan media pembelajaran berbasis kearifan lokal dan teknologi digital, meliputi pengembangan buku ajar kontekstual, media pembelajaran digital interaktif, Learning Management System (LMS), serta berbagai platform pembelajaran yang telah digunakan dalam proses pembelajaran BIPA. Integrasi teknologi dengan nilai-nilai budaya lokal diharapkan mampu menciptakan pengalaman belajar yang lebih efektif, menarik, dan relevan dengan kebutuhan pembelajar abad ke-21.

"Pembelajaran BIPA idealnya menerapkan pendekatan immersive learning, yaitu menghadirkan pengalaman belajar secara langsung melalui interaksi dengan masyarakat. Dalam implementasinya, mahasiswa internasional tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga diturunkan ke lingkungan masyarakat untuk mempraktikkan penggunaan Bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari, memahami budaya lokal, serta mengeksplorasi berbagai destinasi budaya dan situs bersejarah di Kota Ternate sebagai laboratorium pembelajaran autentik," ujar Faujia

Melalui penyelenggaraan Bimbingan Teknis SKKNI ini, Balai Bahasa Provinsi Maluku Utara berharap lahir semakin banyak pengajar BIPA yang profesional, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta mampu mengembangkan pembelajaran Bahasa Indonesia yang inovatif, berbasis budaya, dan berstandar nasional. Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen bersama dalam memperkuat posisi Bahasa Indonesia di kancah internasional, sekaligus mendukung visi Indonesia sebagai pusat pembelajaran Bahasa Indonesia bagi masyarakat dunia Penulis.

Sesi diskusi berlangsung setelah pemaparan materi menjadi ruang kolaboratif bagi peserta untuk bertukar pengalaman, mendiskusikan berbagai tantangan dalam pembelajaran BIPA. Serta merumuskan strategi pembelajaran inovatif yang dapat diterapkan di berbagai lembaga penyelenggara BIPA di Indonesia.

Bimbingan teknis diikuti oleh 20 peserta yang berasal dari berbagai unsur, mulai dari instansi pemerintah, perguruan tinggi, organisasi profesi, lembaga kursus, hingga pegiat BIPA di Provinsi Maluku Utara. Keberagaman peserta mencerminkan komitmen bersama dalam membangun ekosistem pembelajaran Bahasa Indonesia bagi penutur asing yang berkualitas dan berstandar nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....