Workshop Kursi Bambu, Dorong Pelestarian Budaya Bernilai Ekonomi

  • 20 Jul 2026 12:14 WIB
  •  Ternate

RRI.CO.ID, Ternate–Kepala Subbagian Umum Balai Pelestarian (BP) Kebudayaan Maluku Utara, Stenli R. Loupatty, secara resmi membuka workshop dan diskusi pembuatan kursi bambu berlangsung di Kelurahan Tongole, Kota Ternate.

Kegiatan yang dijadwalkan sejak 20-21 Juli 2026 ini diikuti warga setempat sebagai upaya mendorong pelestarian budaya sekaligus pengembangan ekonomi kreatif berbasis bambu.

Workshop mengusung tema "Transformasi Bambu sebagai Warisan Budaya Menjadi Produk Kreatif Bernilai Ekonomi dan Berkelanjutan." Hadir sebagai narasumber Akademisi ISDIK Taufik H. Taher, Sekretaris Dinas Kebudayaan Kota Ternate Rinto Taib, serta Akademisi Universitas Khairun (Unkhair) Muktar Adam.

Kegiatan yang diinisiasi Rasno Ahmad tersebut merupakan bagian dari Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Tahun 2026 yang didukung BP Kebudayaan Maluku Utara.

Rasno Ahmad mengatakan, bambu tidak sekadar menjadi bahan baku pembuatan kursi, tetapi telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Tongole. Karena itu, workshop ini diharapkan mampu mendorong perhatian pemerintah, mulai dari tingkat kelurahan hingga kecamatan, terhadap pengembangan dan pelestarian identitas budaya.

"Bambu adalah jati diri yang harus dirawat dan dilestarikan. Tongole sebagai kampung bambu, kedepan perlu mendapatkan perlindungan hukum, terutama melalui Hak Kekayaan Intelektual (HKI), agar tidak diklaim oleh daerah lain. Ini menjadi perhatian bersama," ujarnya.

Sementara itu, Stenli R. Loupatty menilai industri kerajinan kursi bambu memiliki prospek yang menjanjikan sebagai sektor ekonomi kreatif berbasis budaya. Menurutnya, workshop ini tidak hanya memperkuat pengetahuan masyarakat tentang warisan budaya, tetapi juga membuka peluang peningkatan kesejahteraan.

"Melalui diskusi seperti ini, diharapakan juga mendorong pelaku usaha memanfaatkan pasar digital agar produk kursi bambu dapat dipasarkan hingga ke luar daerah. Dengan begitu, kerajinan bambu dapat menjadi sumber pendapatan ekonomi yang kuat," katanya.

Ia berharap kegiatan tersebut menjadi pemantik bagi generasi muda untuk terus mengembangkan potensi bambu di Kelurahan Tongole. Selain menjaga kelestarian budaya, pengembangan kerajinan bambu mampu meningkatkan perekonomian masyarakat secara berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....