Mengenal Ikan Sapu-sapu yang Dianggap Berbahaya
- 28 Apr 2026 10:20 WIB
- Ternate
RRI.CO.ID, Ternate – Baru-baru ini jagat sosial media dihebohkan dengan gerakan memberantas ikan sapu-sapu di DKI Jakarta. Pasalnya Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur bersama warga berhasil menangkap hampir 1,83 ton ikan sapu-sapu di sejumlah titik, hal ini merupakan upaya pengendalian ikan sapu-sapu yang dianggap invasif.
Melansir laman unair.ac.id, ikan sapu-sapu memiliki nama latin Hypostomus plecostomus. Habitat asli ikan sapu-sapu berada di kawasan sungai di Amerika Utara seperti di Argentina Utara, Paraguay, dan Uruguay. Selain itu, spesies ini juga ditemukan di Brazil bagian selatan, tepatnya di Sungai Rio Paraguay, Rio de Plate, Rio Uruguay, dan Rio Panama.
Secara fisik, ikan ini memiliki sisik yang keras dan pola seperti titik-titik putih. Selain sisik yang keras, ikan sapu-sapu juga memiliki mulut penghisap yang terletak dibagian bawah kepala yang berfungsi untuk menyedot makanan dan membersihkan permukaan yang ditempati.
Karena kondisi fisik seperti itu, ikan sapu-sapu mampu bertahan hidup di perairan dengan kadar oksigen rendah. Oleh karenanya ikan sapu-sapu dinobatkan sebagai salah satu spesies ikan yang sangat mudah beradaptasi.
Dibalik pertumbuhannya yang cukup invasif, ikan sapu-sapu juga memiliki dampak positif bagi ekosistem perairan. Ikan sapu-sapu dianggap sebagai spesialis “vakum” alami bagi dasar sungai karena memakan alga, lumut, hingga sisa-sisa makanan yang menumpuk. Dengan begitu, ikan sapu-sapu turut membantu jaga kualitas air perairan dan menciptakan lingkungan yang bersih.
Namun pertumbuhan ikan sapu-sapu sangat cepat, satu ekor ikan sapu-sapu betina dapat menghasilkan 200 telur per musim dan tahan terhadap pH air keruh 6-8. Dan pertumbuhan yang cepat ini dapat mengancam keberadaan spesies ikan lokal seperti ikan lele dan ikan nila, akibatnya rantai makanan di perairan air tawar dapat terancam.
Selain pertumbuhan yang cepat, ikan sapu-sapu juga memiliki perilaku menggali atau burrowing behavior. Ikan ini gemar membuat lubang di tepi sungai dan danau sebagai sarang, yang berpotensi menyebabkan erosi tebing serta meningkatkan sedimentasi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....