Hari Kartini di tengah Darurat Kekerasan Perempuan Morotai

  • 21 Apr 2026 10:14 WIB
  •  Ternate

RRI.CO.ID, Morotai – Memperingati Hari Kartini pada 21 April, momentum ini dinilai harus menjadi ajang introspeksi Pemda terhadap maraknya kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Pulau Morotai.

Staf Pendampingan dan Advokasi LBH Perempuan dan Anak Morotai, Julyati Muhammad, menegaskan peringatan Hari Kartini seharusnya tidak berhenti pada seremoni, penggunaan pakaian adat, atau sekadar kata-kata pujian terhadap perempuan.

“Hari Kartini harus menjadi momen introspeksi bersama, karena di saat yang sama kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak justru terus terjadi. Ini bukan sekadar angka kasus, tetapi gambaran kegagalan kita menghadirkan ruang aman bagi perempuan dan anak di daerah ini,” ujar Julyati, Selasa 21 April 2026.

Ia menjelaskan, dalam banyak kasus, korban justru kerap disalahkan. Perempuan yang mengalami pelecehan, pemerkosaan, kekerasan dalam rumah tangga, hingga eksploitasi seksual sering menghadapi stigma sosial. Sementara itu, kasus kekerasan seksual terhadap anak kerap disembunyikan demi menjaga nama baik keluarga.

“Ketika korban berani bicara, mereka dihadapkan pada tekanan sosial, rasa malu, intimidasi bahkan ancaman. Situasi ini menunjukkan bahwa yang darurat bukan hanya kasusnya, tetapi budaya diam yang melindungi pelaku. Lebih menyedihkan lagi, tidak sedikit pelaku berasal dari lingkungan terdekat korban,” katanya.

Menurutnya, semangat Kartini masa kini bukan hanya soal emansipasi pendidikan, tetapi keberanian membongkar ketidakadilan yang masih terjadi. Perempuan yang berani melapor adalah wujud nyata Kartini masa kini.

Ia juga menekankan pentingnya peran pemerintah daerah, lembaga pendidikan, tokoh agama, tokoh adat, serta masyarakat untuk tidak lagi menganggap kekerasan seksual sebagai persoalan privat. “Ini adalah kejahatan serius dan ancaman terhadap masa depan daerah. Dibutuhkan sistem perlindungan yang nyata, mulai dari layanan pengaduan yang aman hingga pendampingan hukum dan psikologis,” katanya.

Julyati menambahkan, peringatan Hari Kartini tahun ini harus menjadi alarm keras bagi Pulau Morotai agar tidak hanya bangga merayakan, tetapi juga memastikan perempuan dan anak hidup aman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....