Ditandai Prosesi Sora Guto, Ela-Ela Jadi Cahaya Spiritual Sofifi

  • 18 Mar 2026 16:35 WIB
  •  Ternate

RRI.CO.ID, Sofifi - Malam ke-27 Ramadan di ibu kota Maluku Utara itu terasa berbeda. Angin laut yang berembus pelan berpadu dengan gemerlap cahaya obor yang perlahan menyala di pelataran Masjid Raya Shaiful Khairat, Selasa 17 Maret 2026. Di sanalah, tradisi tahunan Festival Ela-Ela kembali digelar, menghadirkan perpaduan antara kekhusyukan dan kemeriahan yang sarat makna spiritual.

Prosesi Sora Guto menjadi penanda dimulainya festival. Dalam ritual ini, obor-obor Ela-Ela dinyalakan sebagai simbol penerang jiwa, sekaligus warisan budaya masyarakat Maluku Utara dalam menyambut malam penuh kemuliaan, Lailatul Qadar. Cahaya obor yang berderet menciptakan panorama magis, seolah menuntun langkah umat dalam perenungan menuju malam seribu bulan.

Di tengah suasana tersebut, Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin Sehe, secara resmi membuka festival. Dalam sambutannya, ia mengajak masyarakat untuk memaknai Lailatul Qadar tidak hanya melalui ibadah ritual, tetapi juga melalui kepedulian sosial.

“Wajah Lailatul Qadar itu juga hadir pada anak-anak yatim yang belum kita bantu, pada tangisan mereka, dan pada bakti seorang anak kepada orang tuanya,” ujarnya. Pesan itu menggema di antara jamaah yang hadir, mengingatkan bahwa spiritualitas sejati lahir dari keseimbangan antara hubungan dengan Tuhan dan sesama manusia.

Festival ini turut dihadiri Sekretaris Daerah Maluku Utara Samsuddin A. Kadir, pimpinan OPD, pengurus masjid, tokoh agama, serta masyarakat dari berbagai penjuru. Kehadiran mereka memperlihatkan bagaimana tradisi ini bukan sekadar seremoni, melainkan ruang kolektif untuk merawat nilai-nilai kebersamaan.

Bagi masyarakat Sofifi, Ela-Ela bukan hanya perayaan, tetapi juga identitas. Obor-obor yang dinyalakan serentak oleh peserta dari desa-desa di Kecamatan Oba hingga paguyuban di Sofifi menjadi simbol harapan bahwa cahaya keberkahan akan terus menyinari “Bumi Moloku Kie Raha”.

Wakil Gubernur pun mengapresiasi inisiatif panitia dan berharap festival ini terus berkembang. Ia mendorong agar Ela-Ela di masa mendatang semakin inovatif, tanpa meninggalkan akar tradisi yang menjadi ruhnya.

Di penghujung malam, cahaya obor masih menari di pelataran masjid, memantulkan harapan yang sama: agar Ramadan tidak hanya dikenang sebagai ritual tahunan, tetapi sebagai momentum memperkuat iman, solidaritas, dan kemanusiaan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....