Jembatan Merah Putih dari Brimob, Buka Harapan Kemanusiaan Masyarakat Salube
- 01 Mar 2026 23:18 WIB
- Ternate
RRI.CO.ID, Halmahera Utara - Langit kelabu dan hujan deras pada tanggal 1 Desember 2025 menjadi saksi bisu peristiwa yang menggetarkan nurani publik. Sebuah video yang viral di media sosial memperlihatkan warga Desa Salube, Kecamatan Loloda Kepulauan, Kabupaten Halmahera Utara, harus mempertaruhkan nyawa demi satu kewajiban terakhir yaitu mengantarkan jenazah ke Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang berada di seberang sungai.
Jembatan darurat dari batang pohon yang sebelumnya dibangun secara swadaya oleh masyarakat telah hancur diterjang banjir besar. Arus sungai menggila, dan tak ada pilihan lain selain turun langsung ke sungai, saling bergantian menggotong jenazah menembus derasnya air.

Video itu menyebar cepat, tangis, doa dan rasa cemas terekam jelas hingga di sejumlah media nasional yang ikut mengangkat tragedi sosial ini desa Salube. “”Kami tidak punya pilihan,” kata Kepala Desa Salube, Sabri Duduaka dengan mata berkaca, Minggu, 1 Maret 2026.
Dirinya mengakui, kondisi ini bukan baru melainkan sudah bertahun-tahun apalagi akses jembatan kayu yang dibuat secara swadaya hilang terbawa banjir.
“Saat itu hujan deras sekali. Jembatan kayu yang kami bangun bersama hanyut begitu saja. Kami tidak punya pilihan. TPU ada di seberang sungai. Mau tidak mau, warga turun langsung ke air dan menggotong jenazah secara bergantian,” ucap Sabri dengan nada berat.

Ia menegaskan, peristiwa tersebut bukan sekedar insiden sesaat, melainkan gambaran nyata kondisi infrastruktur desa yang selama ini rentan saat musim hujan. “Kami sudah lama berharap ada jembatan permanen. Peristiwa itu membuka mata banyak pihak bahwa akses ini sangat vital bagi kehidupan masyarakat Salube,” katanya dengan nada tegas.
Dirinya juga mengakui, dengan viralnya video tersebut, Kapolda Maluku Utara langsung merespons dengan menerjunkan personel Satuan Brigade Mobil (Satbrimob) untuk mengambil langkah cepat dengan membangun jembatan sesuai dengan yang diharapkan masyarakat.
Pada Minggu, 25 Januari 2026, 17 personel Satbrimob Polda Maluku Utara yang dipimpin Ipda, Ikram Kadir diberangkatkan ke lokasi guna mempercepat pembangunan jembatan permanen yang disebut jembatan Merah Putih Polri.

Jembatan baru yang dibangun memiliki panjang sekitar 12 meter dan lebar 3 meter, dengan konstruksi model beton yang dirancang lebih kokoh dan tahan terhadap arus sungai saat musim hujan maupun banjir.
Personel Brimob tak bekerja sendiri bersinergi dengan warga yang bahu-membahu mengumpulkan material batu dari lokasi sekitar 200 meter dari titik pembangunan. Kerangka cor tiang jembatan mulai dibentuk, papan kayu dikumpulkan dan semangat gotong royong kembali menyala.
Aksi nyata tak pantang menyerah yang ditunjukkan personel Brimob mendapat apresiasi dari para tokoh termasuk tokoh Pemuda Desa Salube ata nama Waldi.

Waldi juga bilang, kehadiran Brimob bukan hanya datang sebagai aparat, tapi sebagai saudara yang ikut bekerja, angkat batu, dan berkeringat bersama warga. “Ini bukan sekadar jembatan, pembangunan ini bukan hanya proyek fisik, melainkan simbol harga diri dan keselamatan warga,” katanya.
Dirinya berharap, jembatan yang dibuat secara tulus, kerja keras tanpa menyerah tersebut, dibuat agar peristiwa 1 Desember tidak lagi terulang. “Jembatan ini, bukan hanya soal akses, tapi soal kemanusiaan. Jembatan ini adalah urat nadi desa. Anak sekolah, petani, ibu-ibu, sampai jenazah pun harus lewat sini,” tegas Waldi.
Ia juga mengapresiasi kehadiran Brimob yang turun langsung membantu masyarakat. Dari tragedi ke titik balik, bagi masyarakat Salube, video viral itu adalah luka sekaligus titik balik. Dari derasnya arus sungai yang hampir merenggut keselamatan warga, kini berdiri pondasi jembatan beton yang menjanjikan keamanan dan aksesibilitas lebih baik.
Salah satu warga, Sabri Duduaka juga berharap pembangunan ini menjadi awal perubahan yang lebih besar. “Kami ingin desa kami maju. Jembatan ini bukan hanya untuk hari ini, tapi untuk masa depan anak-anak kami,” katanya, mengakhiri.
Kini, di tengah suara palu dan adukan semen, Salube tak lagi hanya dikenal karena video viralnya. Desa kecil di Loloda Kepulauan itu sedang membangun harapan, setapak demi setapak, dari duka menuju kesejahteraan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....