Kelenteng Thian Hou Kiong dan Sejarah Eksistensi Etnis Tionghoa di Ternate
- 22 Jan 2023 18:33 WIB
- Ternate
KBRN, Ternate: Bunyi petasan dan warna-warni kembang api mengangkasa menghiasi langit atas Kelenteng Thian Hou Kiong kala malam tahun baru Imlek di Kota Ternate, Maluku Utara, Sabtu (21/1/2023).
Ya, kelenteng yang berada di Lingkungan Kampung Tengah, Kelurahan Gamalama, Kota Ternate persis diantara himpitan pertokoan lokasi ramai pusat kota. Kelenteng ini menjadi satu-satunya tempat ritual sembahyang bagi etnis Cina atau Tionghoa pemeluk agama Konghucu di Ternate sejak ratusan tahun lalu. Keberadaannya nyaris tenggelam diantara sekian banyak benteng peninggalan Portugis dan Belanda.
Saat memasuki area vihara, seperti umumnya di kelenteng-kelenteng lain, warna merah dan emas mendominasi penglihatan. Diketahui warna ini dipercaya sebagai simbol kemakmuran bagi komunitas Cina. Ada tempat untuk sembahyang, penyembahan kepada dewa-dewa, sesuai keyakinan dan ajaran dalam agama Konghucu.
Menilik pada catatan sejarah, kelenteng yang akrab dengan sebutan Ibu Suri Agung pertama kali dibangun tahun 1657. Kemudian pada tahun 2007 harus mengalami pemugaran. Pemugaran bukan tanpa tujuan, kelenteng dengan tatanan bangunan dan ornamen lama, kala itu mengalami penuaan dan pelapukan sehingga perlu dipugar agar tetap kokoh berdiri dan terus menjadi kebanggan sejarah seluruh masyarakat Ternate, tak sebatas etnis Tionghoa saja.
Hingga sekarang, kelenteng ini tak hanya jadi tempat ibadah, tetapi juga jadi daya tarik wisata religi bagi pelancong persada tanah air maupun mancanegara yang ke Ternate sekadar berwisata ke kelenteng ini, serta memanjakan mata menikmati keelokan puluhan objek sejarah peninggalan bangsa-bangsa Eropa kala Perang Dunia II.
Tampak dalam kelenteng.
Lantas sejak kapan kulturasi etnis Cina di Maluku Utara dimulai?
Tak banyak catatan sejarah yang terungkap dari eksistensi etnis Cina di Ternate. Namun dari fakta sejarah, keberadaan orang Cina di Ternate dan Kepulauan Maluku umumnya tak terlepas dari misi perdagangan rempah.
"Sumber-sumber terdahulu menyebut, keberadaan orang Tionghoa tercatat sejak Dinasti Tang pada tahun 618-906. Itu gelombang pertama yang masuk ke Maluku, tetapi tidak disebutkan di kota mana. Kedatangan mereka dengan satu tujuan, yaitu pencarian rempah-rempah," jelas Sejarawan Unkhair yang juga Peneliti Etnis Tionghoa Ternate, Irfan Ahmad.
Sebagai negeri kaya akan rempah-rempah, tujuan utama mereka adalah membeli rempah-rempah, selanjutnya dijual kembali di negerinya dengan harga tinggi. Saat itu, orang-orang Cina sudah mengenal cengkeh, pala dan rempat-rempah sebelum abad masehi, jauh sebelum bangsa Portugis dan Belanda menjajah Indonesia.
Kehadiran mereka bukan untuk menguasai atau merampas hasil bumi di 'Moloku Kie Raha', tetapi murni berdagang. Membawa barang-barang dari Cina untuk dijual di Maluku Utara, begitupun sebaliknya.
"Kedatangan etnis Cina berikutnya pada tahun 1225, 1300, 1304 sampai dengan 1399. Akan tetapi dari lima gelombang yang datang kesini,, keberadaan mereka semata untuk berdagang. Setelah bertransaksi atau barter cengkeh, mereka kemudian pulang,"
"Gelombang selanjutnya, berangsur-angsur mulai berdatangan pada abad 15-17. Di abad ini masih sama misi mereka yaitu barter cengkeh dengan warga pribumi. Waktu itu kedatangan mereka agak banyak, meskipun eksistensi mereka untuk membangun permukiman disini belum tampak," sambung dia.
Proses jual beli ini berlangsung terus-menerus hingga akhirnya keberadaan etnis Tionghoa yang mulai membaur dengan masyarakat lokal memberi warna bagi kehidupan pemerintahan Ternate kala itu. Alhasil, transaksi dan bisnis kala itu mulai dikenal masyarakat pribumi.
Sekira abad 17-19, eksistensi dagang orang-orang Cina di Ternate perlahan mulai memasyarakat dan mereka diterima bak warga pribumi.
Irfan Ahmad menyebut, berdasarkan catatan sejarah yang menjadi rujukannya, orang Cina mulai membangun permukiman 'Kampung Cina' di Maluku, persis diantara abad 17-19. Hampir sebagian besar daerah di Maluku Utara diantara abad itu, permukiman Cina mulai terbentuk, mulai dari Ternate, Tobelo, Morotai, hingga Bacan, dan sejumlah daerah lainnya.
"Di Ternate sendiri, permukiman Cina mulai dibangun pada abad ke-18," ungkapnya.
Orang-orang Ternate kala itu sangat terbuka dengan keberadaan etnis Cina (1882 dan 1854), mereka diterima, bahkan dianggap sebagai warga pribumi. Hal itu dibuktikan dengan pemberian gelar bangsawan oleh Kesultanan Ternate kepada etnis Tionghoa.
"Pada periode 1822, Kesultanan Ternate memberi gelar bangsawan Kapita Cina" kepada etnis Cina. Itu menunjukan bahwa kesultanan Ternate dan masyarakat Maluku Utara umumnya sangat terbuka menerima keberadaan orang Cina," tuturnya.
Dari cikal bakal itu eksistensi Cina di Maluku Utara menyebarluas ke seantero wilayah Maluku Utara. Mereka bebas beraktivitas, berdagang, bahkan melakukan perkawinan silang dengan warga asli, hingga tak sedikit dari mereka memeluk agama yang dianut penduduk pribumi.
Hingga hari ini, keberadaan etnis Cina mendominasi pusat perbelanjaan, pertokoan, ritel-ritel bersakala besar dan turut mendorong perekonomian daerah ini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....