Mengenal Tradisi 'Falo Laor' di Morotai

  • 03 Des 2024 19:58 WIB
  •  Ternate

KBRN, Morotai: Masyarakat Morotai memiliki tradisi yang telah berlangsung sejak zaman dulu, yakni falo laor. Masyarakat setempat juga menyebut laor dengan sebutan wao, merupakan sejenis cacing laut yang hanya muncul pada bulan April dan Mei.

Mengutip tulisan Sofyan Togubu, dalam buku berjudul "Jejak Maluku Utara Untuk Indonesia" dijelaskan bahwa cuaca ekstrim seperti hujan deras dan petir selama sehari atau dua hari, merupakan tanda munculnya cacing laut ini. Saat air pasang di waktu subuh, laor biasanya akan keluar dari habitatnya yakni dari celah terumbu karang.

"Laor memiliki beragam warna, yakni orange, merah dan hijau berukuran 2 sampai 30 cm" Jelas Sofyan dalam bukunya.

Laor akan menghilang ketika terbit matahari, karena laor akan mencair ketika terkena sinar matahari. Dalam tradisi falo laor, masyarakat terlebih dahulu harus berada di tepi pantai sejak tengah malam untuk mencari posisi dan tempat yang sesuai, karena diyakini semakin banyak orang maka semakin sedikit hasil tangkapan laor.

"Alat yang digunakan dalam berburu laor adalah jaring berlubang kecil, kelambu dan sejenisnya" kata Sofyan, yang juga merupakan reporter RRI Ternate ini.

Laor yang sudah dipanen akan dibersihkan kemudian diolah dengan cara dimasak atau digoreng. Sajian ini biasanya dihidangkan dengan singkong rebus, pisang goreng bahkan dengan nasi hangat, tergantung selera makan.

Dosen Prodi Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Pasifik Morotai (Unipas), Iswandi Wahab mengatakan protein dalam laor bahkan mengalahkan protein telur ayam dan susu sapi. Laor juga mengandung karbohidrat, fosfor dan zat besi yang tinggi.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....