Pemanfaatan Produk Lokal Upaya Percepatan Penurunan Stunting di Maluku Utara

  • 01 Des 2022 14:35 WIB
  •  Ternate

KBRN, Sofifi : Maluku Utara telah ditetapkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai Provinsi dengan penduduk paling bahagia di Indonesia pada 2021. Ada beragam keindahan yang bisa ditemukan di Provinsi Maluku Utara dengan kekayaan alam melimpah ini. Daerah penghasil rempah – rempah ini juga memiliki deretan daya tarik yang menambah lengkap sumber kebahagiaan penduduk.

Roda perekonomian Maluku Utara sebagian besar bersumber dari sektor pertanian khususnya rempah-rempah, serta perikanan dan lainnya. Agrosistem di Provinsi Maluku Utara sangat mendukung untuk pengembangan komoditas pertanian terutama komoditi pangan lokal sesuai habitatnya. Pangan lokal sendiri merupakan makanan yang dikonsumsi oleh masyarakat setempat sesuai dengan potensi dan kearifan lokal.

”Provinsi Maluku Utara itu sendiri memiliki potensi hasil laut terutama ikan yang banyak didapati di sepanjang perairan. Potensi ini jika disandingkan dengan kearifan lokal penduduk Maluku Utara dapat dimanfaatkan sebagai pemenuhan asupan gizi yang baik bagi balita dan ibu hamil,” ungkap Renta Rego Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Maluku Utara.

Sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo kata Renta Rego untuk mendorong penggunaan produk lokal, maka pemanfaatan kearifan lokal harus diutamakan dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, karena perangi stunting tidak harus mahal.

Berdasarkan hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tingkat prevalensi balita stunted Provinsi Maluku Utara pada tahun 2021 adalah sebesar 27,5 persen, berada di atas angka stunting nasional yaitu sebesar 24,4 persen. Oleh karena itu diperlukan Rencana Aksi dan upaya-upaya percepatan yang strategis dalam rangka menurunkan prevalensi balita yang mengalami stunting sebagaimana ditargetkan secara nasional pada tahun 2024 turun menjadi 14 persen.

Salah satu akselerasi yang dilakukan adalah dengan memanfaatkan potensi Sumber Daya Alam yang memiliki nilai gizi yang baik sesuai dengan kearifan lokal, kata Renta Rego.

Pemanfaatan hasil laut oleh penduduk lokal seperti yang terlihat pada Kabupaten Halmahera Selatan dengan pangan lokal ikan fufu dapat menjadi salah satu alternatif pemilihan makanan pendamping balita maupun ibu hamil.

Teknik pengerjaan Ikan Fufu (Ikan Asar) ini boleh dibilang cukup mudah, ikan hanya tinggal diasapi di bawah tungku persegi empat yang besar. Membuat ikan fufu sendiri memang butuh kesabaran, sebab butuh waktu 2 – 4 jam untuk ikan yang sudah dibelah bisa matang. Fufu dalam bahasa lokal Maluku Utara adalah proses mengasapi.

Ikan fufu juga dapat ditemui di seluruh Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Maluku Utara.

Untuk membuat ikan fufu ini biasanya menggunakan ikan jenis cakalang. Ikan cakalang merupakan salah satu sumber protein hewani dengan kandungan omega-3 yang dibutuhkan tubuh. Ikan ini juga tersusun atas beragam kandungan mineral, vitamin, dan antioksidan yang menawarkan manfaat besar untuk kelangsungan fungsi organ tubuh.

Tidak hanya menjadi makanan primadona Maluku Utara, ikan fufu juga diburu oleh tamu dan wisatawan yang berkunjung sebagai buah tangan khas Maluku Utara yang wajib dicoba dan dibawa pulang,sehingga disamping memperkenalkan wisata kuliner juga membantu peningkatan perekonomian penduduk lokal di tanah maloko Kieraha.

Selain memiliki kandungan gizi yang tinggi, ikan fufu juga dapat dimodifikasi untuk berbagai menu olahan seperti abon ikan cakalang, ikan fufu pampis (suwir) pare rebus ikan fufu dan opor ikan fufu yang bisa menambah variasi olahan makanan kepada balita dan ibu hamil agar tidak bosan

Selain itu, Maluku Utara juga memiliki potensi atau kekayaan alam yang tumbuh subur di hutan atau di sekitar rumah penduduk, yaitu daun kelor. Yang juga dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai makanan lokal yang dapat disandingkan dengan makanan pokok seperti nasi, nasi jagung, kasbi (singkong), batata (ubi jalar) dan papeda.

Daun kelor mengandung kalsium yang tinggi yakni empat kali lipat lebih tinggi daripada susu. Selain itu daun kelor juga tinggi Vitamin C bahkan tujuh kali lipat daripada buah jeruk, mengandung 18 asam amino, Vitamin B1 dan B2.

Tingginya kandungan asam folat yang ada dalam daun kelor, dapat membantu ibu hamil agar tidak terjadi anemia atau kekurangan darah saat mengandung yang akan berakibat lahirnya bayi stunting baru.

Daun kelor juga dapat diolah dalam bentuk yang lebih menarik seperti nugget kelor, bakwan kelor yang dapat menstimulasi balita tertarik dengan bentuk dan cara penyajiannya. Sedangkan untuk ibu hamil, olahan kelor seperti sup ikan kelor dan sup kelor yang menjadi menu masyarakat Maluku Utara sejak dahulu dapat menjadi asupan gizi yang penting pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....