Mengenal Budaya Konsumtif di Bulan Ramadan

  • 20 Feb 2026 20:36 WIB
  •  Ternate

RRI.CO.ID, Ternate - Fenomena meningkatnya pengeluaran masyarakat saat Ramadan kembali menjadi sorotan karena memicu perilaku konsumtif tahunan. Banyak umat Muslim mengaku pengeluaran bulanan bertambah besar dibandingkan bulan biasa sepanjang tahun umumnya. Kondisi ini berkaitan erat dengan perilaku konsumen yang menjadikan belanja sebagai sumber kepuasan pribadi.

Ramadan dikenal sebagai bulan suci penuh berkah yang dimaknai umat Islam dengan berbagai tradisi khas. Salah satu tradisi menonjol di Indonesia adalah meningkatnya aktivitas belanja menjelang hingga akhir Ramadan. Pusat perbelanjaan dan toko pakaian biasanya dipadati masyarakat yang ingin memenuhi kebutuhan serta keinginan lebaran.

Fenomena lonjakan belanja juga terjadi pada warga yang sebelumnya jarang berbelanja di luar kebutuhan utama. Momentum Ramadan mendorong perubahan perilaku karena suasana sosial memengaruhi keputusan pembelian individu secara konsisten. Akibatnya rencana menabung sering tertunda karena anggaran dialihkan untuk memenuhi dorongan konsumsi musiman masyarakat.

Perencana keuangan Edy Kurniawan dalam wawancara yang dikutip dari economy.okezone.com menyebut kecenderungan konsumtif Ramadan meningkat akibat kebutuhan tambahan dan godaan promosi. Ia menjelaskan banyak pengeluaran muncul di luar rencana karena dorongan membeli sering lebih dominan. Menurutnya faktor sosial seperti ajakan lingkungan turut memperbesar kecenderungan belanja masyarakat selama bulan puasa.

Pengaruh sosial dinilai berperan besar mengubah pola pengeluaran dibandingkan bulan biasa dalam kehidupan sehari-hari. Edy mencontohkan pengeluaran belanja yang biasanya tiga puluh persen dapat meningkat hingga tujuh puluh persen. Peningkatan tersebut dipicu tuntutan tradisi seperti penyediaan hidangan berbuka serta kebutuhan perayaan lainnya keluarga.

Pakar pemasaran Yuswohady menilai masyarakat Indonesia terbiasa merayakan Ramadan dengan suasana kegembiraan dan belanja. Kondisi psikologis tersebut mendorong masyarakat membeli beragam panganan serta perlengkapan guna menyambut hari raya. Ia memperkirakan tambahan pengeluaran Ramadan dapat mencapai kisaran satu hingga empat juta rupiah per keluarga.

Lonjakan konsumsi biasanya semakin terasa ketika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadan setiap tahunnya. Masyarakat umumnya disibukkan membeli kue kering, pakaian muslim, hingga parsel untuk kerabat maupun rekan. Tradisi tersebut terus berlangsung karena dianggap bagian penting memeriahkan suasana Idulfitri bersama keluarga besar.

Meski demikian pakar mengingatkan belanja Ramadan sebaiknya tetap dikendalikan agar tidak menimbulkan pemborosan berlebihan. Pengeluaran yang melonjak drastis berisiko mengganggu kondisi keuangan setelah bulan suci berakhir nanti sepenuhnya. Karena itu perencanaan anggaran dinilai penting sebagai langkah pencegahan perilaku konsumtif musiman masyarakat modern.

Membuat daftar belanja sebelum bertransaksi disebut efektif membantu mengontrol pengeluaran selama menjalankan ibadah puasa. Langkah tersebut memudahkan masyarakat mengetahui prioritas kebutuhan dibandingkan keinginan yang bersifat impulsif pribadi masing-masing. Dengan pencatatan rutin masyarakat dapat memantau arus uang keluar secara jelas setiap hari belanja.

Data NielsenIQ menunjukkan pengeluaran masyarakat meningkat sekitar empat belas persen selama periode Ramadan tahunan. Laporan itu membandingkan tren belanja Ramadan dengan periode biasa pada tahun sebelumnya secara umum. NielsenIQ juga mencatat pembelian produk makanan dan minuman naik sekitar tiga koma sembilan persen. Meski meningkat angka tersebut lebih kecil dibandingkan tahun sebelumnya yang sempat mencapai dua puluh delapan persen. Kategori biskuit, sirup, susu kental manis, keju, serta minuman bersoda mencatat kenaikan signifikan penjualan.

Sementara beberapa minuman seperti air mineral dan kopi siap minum tidak mengalami peningkatan berarti. Pengecualian terjadi pada minuman isotonik yang justru mencatat pertumbuhan selama Ramadan dibandingkan bulan biasa. Perubahan pola konsumsi tersebut menunjukkan preferensi masyarakat dapat bergeser sesuai kondisi ekonomi dan situasi kesehatan.

Pengendalian diri menjadi kunci utama agar masyarakat tidak terjebak perilaku konsumtif selama Ramadan berlangsung. Masyarakat disarankan menahan keinginan membeli barang yang tidak termasuk kebutuhan prioritas harian utama pribadi. Nilai esensial puasa mengajarkan pengendalian nafsu sehingga pengelolaan keuangan tetap sehat setelah Ramadan usai.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....