Stasiun Geofisika Ternate Gelar Pengamatan Hilal 1 Ramadan

  • 17 Feb 2026 16:36 WIB
  •  Ternate

RRI.CO.ID, Ternate - Stasiun Geofisika Kelas III Ternate bersama Kementerian Agama dan Tim Rukyatul Hilal Kota Ternate melaksanakan pengamatan hilal untuk menentukan 1 Ramadan 1447 Hijriah pada Selasa, 17 Februari 2026. Kegiatan ini digelar di Tower Observatorium Hilal Stasiun Geofisika, Kelurahan Afe Taduma, Kota Ternate, Maluku Utara, menjelang matahari terbenam.

Pengamatan tersebut menjadi bagian penting dalam rangkaian penentuan awal bulan suci Ramadan. Sejak sore hari, para petugas telah bersiap dengan peralatan observasi untuk memastikan proses rukyat berjalan sesuai prosedur dan kaidah ilmiah.

Kepala Stasiun Geofisika Kelas III Ternate, Gede Eriksana Yasa, dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari tugas dan fungsi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam memberikan pelayanan informasi tanda waktu dan posisi benda langit. Dalam konteks penentuan awal bulan Hijriah, BMKG berperan memberikan dukungan data ilmiah kepada para pemangku kepentingan.

Ia menjelaskan, selain menyediakan data hisab atau perhitungan astronomi, BMKG juga melaksanakan rukyat hilal di 37 titik pengamatan di seluruh Indonesia, termasuk di Kota Ternate. Observatorium Hilal Afe Taduma menjadi salah satu titik strategis pemantauan di wilayah timur Indonesia.

"Berdasarkan hasil hisab pada saat matahari terbenam, bertepatan dengan 29 Syakban 1447 Hijriah atau 17 Februari 2026, konjungsi (ijtimak) tercatat terjadi pada pukul 21:01:07 WIT. Sementara itu, matahari terbenam pada pukul 18:47:09 WIT dan bulan lebih dahulu terbenam pada pukul 18:40:08 WIT," kata Gede Eriksana.

Data astronomis menunjukkan tinggi hilal berada pada posisi minus 2 derajat 1,37 menit dengan elongasi 1 derajat 32,11 menit. "Secara teknis, posisi tersebut mengindikasikan hilal berada di bawah ufuk saat matahari terbenam sehingga berpotensi sulit untuk dirukyat," ujarnya.

Seluruh hasil pengamatan dari 37 titik di Indonesia nantinya akan dilaporkan kepada Kementerian Agama Republik Indonesia sebagai bahan pertimbangan dalam Sidang Isbat penetapan 1 Ramadan 1447 Hijriah. Keputusan resmi pemerintah akan menjadi rujukan bersama umat Islam dalam memulai ibadah puasa.

Melalui kesempatan itu, pihak Stasiun Geofisika Ternate mengajak masyarakat untuk mengikuti perkembangan informasi secara tertib dan bijak. Warga juga diimbau menjaga keamanan serta kondusivitas selama proses penetapan berlangsung dan menunggu hasil resmi Sidang Isbat.

Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku Utara, Amar Manaf, menyampaikan bahwa berdasarkan laporan BMKG, kemungkinan hilal 1 Ramadan sulit terlihat. Namun demikian, pengamatan tetap dilaksanakan sebagai bentuk tanggung jawab kepada umat Islam di daerah ini.

Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah memiliki kewajiban menjelaskan kepada masyarakat terkait penetapan awal Ramadan. Tidak hanya Kementerian Agama, tetapi seluruh unsur pemerintah diharapkan memberikan pemahaman yang utuh kepada publik.

Amar juga menyinggung kemungkinan adanya perbedaan penetapan awal Ramadan, mengingat Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan 1 Ramadan. "Apabila nantinya keputusan Sidang Isbat berbeda, ia mengajak seluruh masyarakat untuk tetap saling menghargai dan menghormati," ucap Amar.

Menurutnya, perbedaan dalam penetapan awal bulan Hijriah memiliki dasar hukum masing-masing yang kuat. Karena itu, ia mengimbau agar masyarakat tidak saling menyalahkan, melainkan menyikapi perbedaan sebagai bagian dari dinamika dalam persoalan syariat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....