Sepotong Catatan Pinggiran
- 21 Jul 2026 20:29 WIB
- Ternate
Oleh: Abdul Wahab Hasyim, Pecinta Sepak bola.
Puncak euforia Piala Dunia 2026 yang paling layak disanjung sesungguhnya adalah nilai universal sepak bola sebagai perpaduan olah fisik, olah pikir, dan olah jiwa (psikis). Pemirsa di depan layar kaca selalu menantikan pertunjukan di lapangan hijau yang menyajikan kedisiplinan taktik, kekuatan fisik, dan kolektivitas tim khas Eropa, berhadapan dengan keterampilan individu, kreativitas mengolah bola, serta kecepatan tinggi ala Amerika Latin.
Di tengah gegap gempita turnamen, para penggemar kerap terjebak dalam pemujaan terhadap para superstar, seperti Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, Harry Kane, Neymar, Lamine Yamal, dan lainnya. Padahal, kualitas mereka sama-sama berkelas dunia dengan keunggulan masing-masing. Ketangguhan, keunggulan, kecemerlangan, maupun kekalahan sering kali merupakan blessing in disguise yang bersifat relatif dan kontekstual. Kita acap kali lupa bahwa dalam setiap perjuangan selalu hadir faktor-faktor intrinsik yang bekerja layaknya software of knowledge dalam sanubari epistemologi sepak bola.
Jika mengikuti logika ontologi sepak bola, negara-negara raksasa seperti Argentina, Prancis, Brasil, Inggris, Belanda, Portugal, dan Uruguay tidak selalu berada dalam situasi membahagiakan ketika gagal menambah bintang juara dunia. Ada kenyataan yang sering enggan diterima, bahwa di balik keras dan ketatnya kompetisi selalu bersemayam dua kemungkinan: menang atau kalah. Kapasitas aksiologi seorang pemain tidak selalu berbanding lurus dengan epistemologi sepak bola. Di sinilah terdapat jarak antara idealitas dan realitas yang terjadi di lapangan hijau.
Semangat Amigos para Siempre persahabatan yang abadi sesungguhnya menolak polarisasi semata antara menang dan kalah. Olah fisik, olah pikir, dan olah jiwa merupakan representasi nilai-nilai spiritual dalam sportivitas yang menjunjung tinggi kejujuran, ketangguhan, dan penolakan terhadap segala bentuk kecurangan. Seorang juara sejati tidak hanya ditentukan oleh jumlah trofi atau bintang yang diraih, melainkan oleh cara kemenangan itu diperoleh melalui perjuangan yang sportif.
Namun, ketika olah fisik, olah pikir, dan olah jiwa bertransformasi menjadi semata-mata olah finansial, sepak bola berisiko berubah menjadi komoditas industri yang lebih sibuk mengejar profit daripada memelihara sportivitas. Pada titik itulah ruh fair play perlahan memudar dari lapangan hijau.
Sebagai pemain maupun penggemar, kita tentu berhak berharap setinggi langit untuk melihat tim kesayangan mengangkat trofi. Harapan itu adalah emosi yang wajar dan sah. Akan tetapi, yang semestinya tetap dijunjung tinggi adalah semangat sportivitas melalui praktik fair play, karena pada akhirnya nilai terbesar sepak bola bukan sekadar kemenangan, melainkan kemanusiaan yang tumbuh di dalamnya.
Jerbus, Senin dini hari, 20 Juli 2026
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....