Peran Guru dalam Suksesnya Program MBG

  • 25 Agt 2025 17:59 WIB
  •  Ternate
Oleh: Fahmil Usman, S.Gz., M.Gz (Ahli Gizi)

KBRN, Ternate: Pendidikan bukan hanya persoalan ilmu pengetahuan yang disampaikan di dalam kelas, melainkan juga mencakup pembentukan kebiasaan hidup sehat pada siswa. Salah satu aspek penting dari pembentukan kebiasaan hidup sehat adalah pola makan. Pola makan yang baik akan memengaruhi pertumbuhan fisik, perkembangan otak, daya konsentrasi, hingga prestasi belajar siswa.

Dalam konteks ini, kehadiran program dari presiden Prabowo Subianto yaitu makan Bergizi gratis (MBG) merupakan langkah nyata yang harus mendapat dukungan penuh dari semua pihak, terutama guru. Guru sebagai figur teladan di sekolah memiliki pengaruh besar untuk membimbing, mengarahkan, dan mendorong siswa dalam perubahan gaya hidup dan karakter ke arah yang lebih baik.

Mengapa peran guru begitu penting?. Karena pada dasarnya siswa menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah, di bawah pengawasan guru. Guru bukan hanya pengajar akademik, tetapi juga pendidik karakter dan pembentuk kebiasaan. Jika guru hanya berfokus pada materi pelajaran tanpa memperhatikan aspek kesehatan dan gizi siswa, maka tujuan pendidikan yang holistik akan sulit tercapai.

Pendidikan seharusnya memadukan pengembangan ilmu pengetahuan dengan pembentukan gaya hidup sehat. Oleh karena itu, guru harus mampu mengintegrasikan dukungan terhadap program gizi dengan aktivitas belajar sehari-hari.

Program MBG sendiri telah dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi siswa. Menu yang disediakan biasanya mempertimbangkan unsur gizi seimbang, seperti karbohidrat, protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral. Tidak hanya itu, aspek kebersihan dan keamanan pangan juga diperhatikan.

Dengan mengonsumsi makanan bergizi yang telah disiapkan melalui program ini, siswa diharapkan memiliki energi yang cukup untuk mengikuti pelajaran sepanjang hari, serta lebih fokus dalam menerima materi. Guru yang mendukung program ini tentu akan memperkuat pesan kepada siswa bahwa makanan bergizi adalah bagian penting dari keberhasilan belajar.

Lebih jauh, dukungan guru tidak sebatas pada pengawasan teknis. Guru juga dapat memberikan edukasi tentang manfaat gizi melalui materi pelajaran, diskusi kelas, atau kegiatan ekstrakurikuler. Misalnya, guru IPA dapat mengaitkan pelajaran tentang tubuh manusia dengan pentingnya asupan protein, vitamin, dan mineral. Guru olahraga bisa menekankan bahwa kekuatan fisik dan ketahanan tubuh berhubungan erat dengan pola makan seimbang.

Guru bimbingan konseling dapat mengajak siswa berbincang tentang kebiasaan jajan sehat. Dengan demikian, dukungan guru tidak hanya bersifat instruktif, tetapi juga edukatif dan inspiratif.

Selain itu, program MBG secara langsung dapat mengurangi kebiasaan siswa membeli jajanan di luar sekolah yang sering kali tidak memenuhi standar gizi. Banyak jajanan yang dijual di sekitar sekolah memiliki kandungan gula yang tinggi, lemak berlebihan, serta zat aditif yang berbahaya jika dikonsumsi terus-menerus.

Jajanan seperti minuman manis berkarbonasi, permen, gorengan berminyak, hingga makanan ringan instan mungkin memang menarik perhatian anak-anak karena rasanya yang gurih atau manis. Namun, dari sisi kesehatan, jajanan tersebut berisiko menyebabkan obesitas, diabetes dini, masalah gigi, hingga penurunan daya tahan tubuh.

Di sinilah letak pentingnya peran guru. Dengan mendukung siswa untuk mengonsumsi makanan MBG, guru secara tidak langsung membantu menekan konsumsi makanan jajanan yang rendah gizi dan tinggi gula. Guru dapat memberikan pemahaman dan memotivasi siswa agar bangga mengonsumsi makanan sehat, sehingga mereka tidak mudah tergoda dengan jajanan yang kurang bermanfaat.

Tentu saja, tantangan dalam menjalankan program ini tetap ada. Beberapa siswa mungkin merasa bosan dengan menu yang disediakan, atau masih lebih tertarik pada jajanan di luar sekolah.

Di sinilah dibutuhkan kreativitas guru untuk memberikan pendekatan yang positif. Guru juga bisa mengadakan kegiatan belajar mengajar yang terkait dengan pengenalan bahan makanan sehat, lomba kreasi menu bergizi, atau kunjungan ke dapur SPPG untuk melihat proses pengolahan makanan. Dengan begitu, siswa akan merasa bahwa mengonsumsi makanan MBG adalah kegiatan menyenangkan, bukan sekadar kewajiban.

Dalam sebuah penelitian oleh Elisa dkk, 2025 menjelaskan bahwa guru yang aktif memberikan edukasi, pengarahan dan motivasi kepada siswa dalam hal pola makan sehat maka siswa akan justru lebih mengenal dan meningkatkan pengetahuan terhadap makanan sehat.

Apabila program ini dijalankan dengan baik, kita akan melihat dampak jangka panjang yang signifikan. Anak-anak yang terbiasa mengonsumsi makanan bergizi di sekolah akan tumbuh menjadi generasi yang sehat, cerdas, dan produktif. Mereka akan memiliki daya pikir yang tajam, daya tahan tubuh yang kuat, serta lebih siap menghadapi tantangan di masa depan.

Masyarakat pun akan lebih sadar pentingnya gizi, sehingga permasalahan kesehatan akibat pola makan buruk dapat ditekan. Guru, sebagai ujung tombak pendidikan, memiliki peran besar untuk memastikan keberhasilan program ini.

Sebagai penutup, dapat ditegaskan bahwa guru memang harus mendukung siswa untuk mengonsumsi makanan yang diberikan oleh MBG. Dukungan guru menjadi kunci agar siswa benar-benar merasakan manfaat dari program ini.

Dengan peran aktif guru, siswa akan terbiasa dengan pola makan sehat, masyarakat akan semakin sadar akan pentingnya gizi, dan kebiasaan mengonsumsi jajanan rendah gizi serta tinggi gula dapat dikurangi. Program MBG bukan sekadar penyediaan makanan, tetapi sebuah upaya membangun generasi yang sehat dan berkualitas.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya guru tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membimbing siswa menuju gaya hidup sehat melalui dukungan penuh terhadap program gizi sekolah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....