Kapan Tempe Tak Lagi Aman Dimakan?
- 28 Agt 2026 20:06 WIB
- Ternate
RRI.CO.ID, Ternate - Tempe menjadi salah satu makanan yang mudah ditemukan dan sering menjadi pilihan lauk sehari-hari masyarakat Indonesia. Selain harganya terjangkau, tempe juga dikenal sebagai sumber protein nabati yang dapat diolah menjadi berbagai macam hidangan.
Namun, tempe juga memiliki masa simpan dan dapat mengalami perubahan setelah beberapa waktu. Menariknya, perubahan aroma atau warna pada tempe tidak selalu berarti makanan tersebut sudah busuk, karena ada kondisi yang dikenal sebagai tempe semangit akibat fermentasi yang berlanjut.
Pada tempe yang masih segar, lapisan putih hasil fermentasi biasanya tampak menutupi permukaan kedelai dan teksturnya cukup padat. Sementara pada tempe semangit, aromanya bisa menjadi lebih kuat, warna berubah kekuningan atau kecokelatan, dan teksturnya dapat menjadi lebih lunak.
Di sejumlah daerah, tempe semangit justru sengaja dimanfaatkan sebagai bahan masakan tradisional. Tempe yang mengalami fermentasi lanjutan ini dapat digunakan untuk berbagai hidangan karena memberikan aroma dan cita rasa gurih yang lebih kuat.
Lantas, bagaimana membedakan tempe semangit dengan tempe yang benar-benar sudah rusak? Anda perlu memperhatikan kondisi tempe secara keseluruhan, terutama jika muncul lendir, terlalu banyak air, tekstur yang sangat lembek, atau perubahan warna dan aroma yang tidak wajar.
Tempe yang mengalami perubahan tersebut sebaiknya tidak dipaksakan untuk dikonsumsi. Sebab, kondisi tersebut dapat menunjukkan bahwa tempe telah mengalami pembusukan dan berbeda dengan proses fermentasi lanjutan yang terjadi pada tempe semangit.
Jadi, tempe yang sudah berubah aroma atau warna tidak selalu berarti harus langsung dibuang. Kenali terlebih dahulu apakah perubahan tersebut merupakan bagian dari fermentasi lanjutan atau justru menunjukkan tanda-tanda kerusakan, dan jika kondisinya meragukan, pilihan paling aman adalah tidak mengonsumsinya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....