Jangan Lengah, Musim Kemarau Justru Bisa Tingkatkan Risiko DBD
- 14 Agt 2026 09:58 WIB
- Ternate
RRI.CO.ID, Ternate – Musim kemarau kerap dianggap sebagai masa "aman" dari nyamuk dan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Padahal, anggapan itu keliru. Sejumlah data kesehatan justru menunjukkan risiko DBD tetap tinggi, bahkan bisa meningkat, selama musim kemarau berlangsung.
Nyamuk Aedes aegypti, penyebab utama DBD, memang identik berkembang biak saat musim hujan karena banyaknya genangan air. Namun saat kemarau, pola hidup masyarakat justru menciptakan kondisi baru yang tak kalah berisiko: kebiasaan menampung air bersih di berbagai wadah untuk mengantisipasi kesulitan air. Jika wadah-wadah penampungan air seperti bak mandi, ember, drum, hingga barang bekas itu tidak rutin dibersihkan dan dibiarkan terbuka, tempat tersebut justru berubah menjadi sarang ideal bagi jentik nyamuk untuk berkembang biak.
Ada fakta menarik dari sisi ilmiah yang mendukung fenomena ini. Kementerian Kesehatan RI pernah mengungkapkan bahwa frekuensi gigitan nyamuk berkaitan erat dengan suhu udara, semakin tinggi suhu, semakin sering pula nyamuk menggigit manusia. Berdasarkan hasil penelitian yang dirilis Kemenkes, pada suhu 25 derajat Celsius nyamuk menggigit rata-rata sekali dalam lima hari. Namun ketika suhu turun ke 20 derajat Celsius, frekuensi gigitan justru meningkat menjadi sekali dalam dua hari. Kondisi cuaca panas dan kering yang menjadi ciri khas musim kemarau di Indonesia pun dinilai turut mendorong potensi lonjakan kasus DBD, terutama pada periode puncak kemarau.
Untuk mencegah penyebaran DBD di tengah musim kemarau, masyarakat diimbau tetap disiplin menerapkan gerakan 3M Plus, yaitu menguras tempat penampungan air secara rutin idealnya seminggu sekali, menutup rapat seluruh wadah penyimpanan air agar tidak dimasuki nyamuk, serta memanfaatkan atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air hujan atau genangan. Langkah tambahan (Plus) yang bisa dilakukan antara lain menaburkan bubuk larvasida pada penampungan air yang sulit dikuras, memelihara ikan pemakan jentik seperti ikan cupang atau ikan sapu-sapu, menggunakan losion atau semprotan anti-nyamuk, memasang kelambu, serta menanam tanaman pengusir nyamuk seperti serai dan lavender di sekitar rumah.
Masyarakat juga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami demam tinggi mendadak selama dua hingga tiga hari disertai gejala seperti nyeri kepala, nyeri otot dan sendi, hingga ruam kemerahan, agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....