RRI.CO.ID, Tidore - Hampir lima dekade sejak pertama kali ditemukan pada tahun 1976 di Zaire (kini Republik Demokratik Kongo), Ebola virus (Orthoebolavirus zairense, disingkat EBOV) tetap menjadi salah satu patogen paling menakutkan yang pernah dikenal umat manusia. Namun, ketakutan itu seharusnya tidak hanya berhenti pada gambar-gambar dramatis pasien berdarah yang kerap beredar di media.
Ada dimensi ilmiah yang jauh lebih dalam, lebih kompleks, dan lebih penting untuk dipahami—baik oleh komunitas saintifik maupun masyarakat luas. Disadur dari portal resmi ayosehat.kemkes.go.id, Selama bertahun-tahun, Ebola virus disease (EVD) dikenal sebagai "demam berdarah Ebola" (Ebola hemorrhagic fever).
Namun istilah itu kini dianggap tidak lagi tepat. Manifestasi pendarahan sebenarnya hanya terjadi pada kurang dari separuh pasien yang terinfeksi, dan tidak ada korelasi langsung antara pendarahan dan tingkat keparahan penyakit. Spektrum klinis EVD jauh lebih luas: mencakup encephalitis, disfungsi hepatik dan renal, gangguan kardiovaskular, bahkan gangguan pendengaran dan penglihatan yang dapat menetap pada para penyintas.
Pergeseran terminologi dari "hemorrhagic fever" ke "Ebola virus disease" mencerminkan pemahaman ilmiah yang semakin matang tentang multisistemik virus ini. Angka fatalitas kasusnya (case fatality rate) bervariasi antara 25–90% tergantung wabah dan strain, dengan EBOV jenis Zaire yang paling mematikan.
Wabah terbesar sepanjang sejarah terjadi antara 2013–2016 di Afrika Barat, mencatat hampir 29.000 kasus dan sekitar 11.300 kematian. Lebih mengkhawatirkan lagi, antara 2021 hingga 2025 terjadi serangkaian wabah berturut-turut—termasuk EBOV di Uganda (2021), Sudan virus di Guinea (2022), Marburg di Guinea (2023), Marburg di Rwanda (2024), dan wabah Sudan ebolavirus di Uganda yang berakhir April 2025—mengindikasikan bahwa ancaman filovirus terhadap umat manusia sama sekali belum mereda.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....