Dampak Membuang Sampah Elektronik bagi Lingkungan

  • 05 Feb 2026 19:58 WIB
  •  Ternate

RRI.CO.ID, Ternate - Sampah elektronik menjadi salah satu ancaman serius bagi lingkungan global. Dilansir dari Global E-Waste Monitor 2024 menunjukkan peningkatan signifikan limbah elektronik dunia.

Kawasan Asia tercatat sebagai penyumbang sampah elektronik terbesar dengan sekitar 25 juta ton. Amerika menyumbang sekitar 13 juta ton, disusul Eropa dengan 12 juta ton. Sementara itu, Afrika dan Oceania secara gabungan menghasilkan sekitar tiga juta ton sampah elektronik. Jumlah tersebut menunjukkan masalah limbah elektronik bersifat lintas kawasan.

Indonesia termasuk konsumen elektronik terbesar dunia dengan populasi terbesar keempat.Kondisi tersebut berkontribusi pada tingginya produksi limbah elektronik nasional. Limbah elektronik merupakan peralatan listrik dan elektronik yang telah berakhir masa pakainya.

Limbah ini tidak lagi memiliki nilai guna bagi pemiliknya. Limbah elektronik mengandung bahan berbahaya dan beracun atau B3. Kandungan tersebut membuat limbah elektronik tidak dapat dibuang secara sembarangan. Jenis limbah elektronik meliputi ponsel, laptop, komputer, baterai, hingga peralatan rumah tangga besar. Televisi, lemari es, dan mesin cuci juga termasuk dalam kategori tersebut.

Daur ulang plastik dan logam telah menjadi praktik umum. Namun, gerakan daur ulang limbah elektronik masih relatif terbatas. Sebagian besar limbah elektronik dunia belum dikelola dengan benar.

Hanya sekitar 20 persen limbah elektronik yang didaur ulang setiap tahunnya. Jika tidak dikelola, limbah elektronik dapat mencemari udara, tanah, dan air. Pencemaran tersebut berdampak langsung pada kesehatan makhluk hidup.

Sebagian besar perangkat elektronik sebenarnya masih dapat digunakan kembali. Namun, banyak perangkat berakhir di tempat pembuangan sampah. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan pencemaran udara dan air, Risiko lingkungan meningkat seiring penumpukan limbah elektronik.

Pembuangan sembarangan limbah elektronik menimbulkan berbagai dampak lingkungan. Berikut beberapa dampak negatif sampah elektronik terhadap lingkungan: 

1. Merupakan Limbah Sangat Beracun

Limbah elektronik dikategorikan sebagai limbah bahan berbahaya dan beracun. Kandungan timbal, merkuri, dan kadmium berbahaya bagi kesehatan manusia. Paparan zat beracun dapat merusak sistem saraf, ginjal, dan fungsi otak. Risiko kesehatan meningkat melalui kontak langsung maupun tidak langsung.

2. Mudah Mencemari Lingkungan Sekitar

Pembuangan limbah elektronik ke tanah atau air menimbulkan dampak serius. Zat toksik dapat meresap dan mencemari tanah serta sumber air. Pencemaran tersebut berpotensi memengaruhi lingkungan yang digunakan masyarakat sehari-hari. Dampaknya bersifat jangka panjang dan sulit dipulihkan.

3. Makin Berbahaya Jika Dibakar

Pembakaran limbah elektronik tidak dianjurkan karena menghasilkan senyawa berbahaya. Plastik dan logam dapat membentuk zat karsinogenik saat dibakar. Senyawa tersebut dapat menyebar melalui udara, Paparan udara tercemar berisiko membahayakan kesehatan masyarakat.

4. Dari Tahun ke Tahun Makin Meningkat

Jumlah limbah elektronik di Indonesia terus meningkat setiap tahun. Peningkatan dipicu perkembangan teknologi dan kebutuhan pembaruan perangkat. Masyarakat cenderung mengganti perangkat untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Kondisi tersebut mempercepat akumulasi limbah elektronik.

5. Lebih Baik Dijual daripada Dibuang

Menjual kembali perangkat elektronik bekas menjadi pilihan yang lebih bijak. Perangkat tersebut masih dapat dimanfaatkan oleh pihak lain. Sebagian perangkat digunakan kembali atau dijadikan suku cadang. Langkah ini lebih menguntungkan dibandingkan membuang atau menimbun di rumah.

Itulah dampak-dampak dari membuang sampah elektronik sembarangan. Pengelolaan limbah elektronik memerlukan kesadaran bersama. Upaya tersebut penting untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....