Mengenang Pahlawan Nasional Gatot Subroto Wafat 11 Juni

  • 10 Jun 2025 05:16 WIB
  •  Ternate

KBRN, Ternate: Tepat pada tanggal 11 Juni 1962, seorang pahlawan besar meninggal karena sakit, setelah berhasil menumpas pemberontakan PRRI/Permesta di Sumatera dan Sulawesi. Kenangan akan perjuangan dan sikap ksatrianya tentu dapat menjadi tauladan bagi para aparat militer yang sejatinya berasal dari rakyat.

Gatot Subroto dilahirkan di Banyu mas Jawa Tengan pada tahun 1907 adalah putra sulung dari Sayid Yudoyuwono.

Tahun 1928 Pemerintah Hindia Belanda membuka kesempatan. bagi anak-anak Indonesia berijazah sekolah rendah untuk mema­suki pendidikan militer. Kesempatan itu digunakan Gatot. la mendaftarkan diri dan diterima sebagai siswa Cader School di Magelang. Ketika itu ia sudah berusia 21 tahun.

Tiga tahun lamanya ia dididik dalam sekolah militer itu. Setelah selesai, dengan pangkat Sersan Kelas II KNJL b BNN (Koninklijk Nederlands lndische Leger), ia ditugaskan di Padang Panjang, Sumater Barat. Lima tahun lamanya ia bertugas di kota dingin itu, sebelum dikirim ke Sukabumi, Jawa Barat, untuk mengikuti pendidikan marsose. Agaknya atasannya melihat bahwa Sersan yang bertubuh kekar itu cocok untuk tugas di lapangan yang bersifat khusus.

Ketika Perang Dunia II pecah, Gatot bertugas di Ambon. Di sini ia mengalami pengalaman tempur melawan pasukan Jepang. Tetapi ternyata lawannya lebih kuat. Setelah pertahanan Ambon jatuh ke tangan Jepang, Gatot menyingkir ke Makassar. Di kota itu ia menyempatkan diri berziarah ke makam Pangeran Diponegoro.

Ketika kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, Gatot berada di Banyu­mas. Hari-hari berikutnya para pemuda terlibat dalam usaha merebut senjata pasukan Jepang. Tujuannya adalah untuk mempertahahkan RI dari ancaman musuh. Di Banyumas, Gatot berhasil mengambil alih kekuasaan kepolisian dan sesudah itu ia diangkat menjadi KepaIa Kepolisian seluruh Karesidenan Banyumas.

Selain itu ia juga aktif bersama-sama pimpinan BKR mengadakan perundingan dengan pihak Jepang dalam rangka mengambil alih kekuasaan. Hasilnya, Jepang menyerahkan seluruh persenjataan, sehingga BKR Banyumas memiliki persenjataan yang cukup banyak pada waktu itu. Malahan sebagian dari senjata itu dikirimkan untuk membantu BKR Jawa Barat.

Ketika masa jabatan sebagai wakil KSAD hampir habis, pemerintah merencanakan untuk menyediakan kursi jabatan Penasehat Militer Presiden. Akan tetapi manusia boleh berencana hanya Tuhan yang menentukan. Pada tanggal 11 Juni 1962 Letnan Jenderal Gatot Subroto meninggal dunia setelah menderita serangan penyakit jantung.

Sebagai tempat peristirahatan terakhir, sesuai dengan pesannya, ia dimakamkan di Ungaran. Ia memiliki bintang jasa sebanyak tujuhbelas. Untuk menghargai jasa-jasanya, pemerintah menaikkan pangkatnya menjadi Jenderal Anumerta. Penghargaan tertinggi diberikan Pemerintah berupa gelar Pahlawan Nasional pada tanggal 18 Juni 1962.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....