Mengenang Sosok Ibu Negara Tiga Dekade Yang Mininggal Pada 28 April

  • 27 Apr 2025 07:08 WIB
  •  Ternate

KBRN, Ternate: Siti Hartinah yang lebih dikenal dengan ibu Tien Soeharto, adalah Ibu Negara Indonesia dan istri Presiden Indonesia kedua, Jenderal Besar Purnawirawan Soeharto. Lahir pada 23 Agustus 1923 dan wafat pada 28 April 1996.

Berasal dari keluarga yang memiliki latar belakang kebangsawanan. Ia adalah anak dari KPH Soemoharjomo dan Raden Ayu Hatmanti Hatmohoedojo, yang berasal dari trah Mangkunegara III.

Hidupnya berpindah-pindah mengikuti penempatan tugas ayahnya sebagai pamong praja. Ibu Tien sempat mengenyam pendidikan Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk bangsawan bumiputera. Semasa sekolah ia juga ikut dalam organisasi Kepramukaan Puteri Javaansche Padvinders Organisatie (JPO).

Pada tanggal 26 Desember 1947, ia menikah dengan Soeharto. Pada saat itu Soeharto berumur 26 tahun, Siti Hartinah berumur 24 tahun.

Adalah ciri kehidupan keluarga militer, bahwa tiga dari enam anak mereka lahir ketika sang suami sedang bertugas dan berpisah dari keluarganya. Anak pertama mereka lahir ketika Soeharto sedang bertempur dalam perang gerilya di luar kota Yogyakarta. Sang suami tidak melihat putri pertama mereka selama tiga bulan setelah dilahirkan. Anak yang kedua, seorang anak laki-laki, lahir selagi Soeharto bertugas di Sulawesi Selatan. Dan anak kelima mereka, lahir ketika Soeharto bertindak sebagai Panglima Mandala pembebasan Irian Barat.

Ibu Tien Soeharto banyak memberikan sumbangsih dalam dunia Pramuka Indonesia. Sebagai Ibu Negara, ia memberikan perhatian khusus terhadap pramuka. Ibu Tien beberapa kali menjabat Wakil Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka pada masa bakti 1970-1974, 1974-1978, 1978-1983, 1983-1988 dan 1988-1993. Pada awal 1970-an, Ibu Tien mengusulkan lahan dan menginisiasi pembangunan pusat perkemahan pramuka nasional di Cibubur, Jakarta Timur.

Sampai saat ini, bumi perkemahan ini dikenal dengan nama Bumi Perkemahan dan Graha Wisata (Buperta) Wiladatika Cibubur. Karya lain Ibu Tien untuk Gerakan Pramuka adalah prakarsanya membangun gedung Kwartir Nasional yang hingga saat ini menjadi kantor pusat Kwartir Nasional Gerakan Pramuka

Selama hidupnya, Ibu Tien Soeharto dikenal sebagai sosok Ibu Negara yang memiliki pengaruh besar. Salah satu tindakannya yang mencolok adalah menentang poligami dan mendorong perlunya larangan berpoligami bagi pegawai negeri sipil, yang kemudian diwujudkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 10 tahun 1983.

Selain itu, Tien Soeharto juga berperan dalam pendirian berbagai fasilitas publik yang masih berdiri hingga saat ini, seperti Taman Mini Indonesia Indah, Taman Buah Mekarsari, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, dan RSAB Harapan Kita.

Tien Soeharto meninggal dunia pada tanggal 28 April 1996 setelah mengalami serangan jantung. Namun, kematiannya sempat menjadi sorotan karena munculnya rumor yang menyebutkan bahwa ia meninggal karena tertembak dalam adu kekuatan antara Bambang Soeharto dan Tommy Soeharto. Rumor tersebut kemudian diklarifikasi oleh Tutut Soeharto melalui unggahannya pada tanggal 30 April 2020, yang menyatakan bahwa rumor tersebut tidak benar dan menegaskan bahwa Tien Soeharto meninggal akibat serangan jantung.

Siti Hartinah dimakamkan di Astana Giri Bangun, Jawa Tengah. Upacara pemakaman tersebut dipimpin oleh inspektur upacara yaitu Ketua DPR/MPR saat itu, Wahono dan Komandan upacara Kolonel Inf Getson Manurung, Komandan Brigade Ifanteri 6 Kostrad saat itu.

Sedangkan sebelumnya saat pelepasan almarhumah, bertindak sebagai inspektur upacara, Letjen TNI (Purn) Achmad Tahir dan Komandan Upacara Kolonel Inf Sriyanto Muntasram, Komandan Grup 2 Kopassus Kartasura. (Di rangkum dari berbagai sumber)


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....