9 Jenis Kekerasan Berbasis Gender Online
- 15 Apr 2025 19:34 WIB
- Ternate
KBRN, Ternate: Ruang digital yang semestinya menjadi perluasan ruang publik yang aman dan setara kini berubah menjadi arena kontestasi kekuasaan, bias, dan kekerasan simbolik. Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) tidak bisa hanya dipahami sebagai gangguan sesaat atau penyimpangan perilaku, melainkan sebagai refleksi dari struktur sosial, politik, dan kultural yang lebih luas.
Dari rilisan laman ayosehat.kemkes.co.id, Dokter Dito Anurogo, M.Sc., Ph.D menjelaskan beberapa hal yang perlu kita pahami tentang kekerasan berbasis gender Online yakni :
1. Dunia Maya, Luka Nyata
Era digital menyediakan panggung interaksi sosial. Konektivitas itu juga melahirkan paradoks memilukan. Teknologi yang menjanjikan pencerahan justru menjadi alat untuk melanggengkan kekerasan berbasis gender. KBGO seolah menjelma simtomatologi zaman yang memanifestasikan ketimpangan lama dalam realitas baru. Dari pelecehan daring hingga penyebaran konten intim tanpa persetujuan, KBGO melampaui sekadar “masalah internet”—ia adalah pertarungan nilai, etika, dan kemanusiaan yang nyata.
2. Dari Ruang Domestik ke Arena Digital
Dari perspektif historis, KBGO bukanlah anomali, melainkan kelanjutan dari kekerasan berbasis gender yang telah mengakar selama berabad-abad dalam sistem patriarkal. Ruang digital, seperti yang ditunjukkan oleh transisi dari milenium baru ke era media sosial, hanya memperluas panggung ekspresi kekuasaan dan dominasi.
Revolusi digital menciptakan ilusi ruang netral, namun pada kenyataannya, media sosial menjadi arena baru di mana kekuasaan diekspresikan dalam bentuk ujaran kebencian dan kontrol terhadap tubuh serta citra perempuan dan kelompok minoritas gender. Ini bukan hanya soal teknologi, melainkan kelanjutan narasi historis tentang siapa yang punya suara, dan siapa yang dibungkam.
3. Luka Psikis dalam Dunia yang Tidak Terlihat
Ilmu kedokteran dan psikologi menegaskan bahwa trauma digital meninggalkan jejak yang tak kalah serius dibanding luka fisik. Korban KBGO mengalami peningkatan gangguan kecemasan, depresi, hingga PTSD. Namun yang membuatnya unik dan ironis: traumanya tak memiliki “lokasi geografis” yang jelas. Dunia digital bersifat ubikuitas—ada di mana-mana, sekaligus tak terlihat.
4. Trauma Digital dan Biokimia Ketakutan
Dari kacamata neurosains, respons otak terhadap ancaman digital menyerupai respons terhadap ancaman fisik: sistem limbik aktif, amigdala menyala, dan kortisol memuncak. Namun, yang membedakannya adalah durasi: konten digital bisa berulang tanpa henti. Dengan kata lain, KBGO bukan hanya kejadian satu kali, tetapi rangkaian pemicu stres yang berulang—membuat otak berada dalam mode waspada kronis.
5. Wajah Pelaku dan Perilaku Anonimitas
KBGO juga harus dipahami dari sisi pelaku. Teori deindividuasi menjelaskan bagaimana anonimitas digital menghapus rasa tanggung jawab. Orang biasa, ketika bersembunyi di balik layar, dapat berubah menjadi pelaku kekerasan. Ini mencerminkan kegagalan sistem edukasi sosial dalam menanamkan empati dan literasi etika digital.
6. Hak atas Keamanan dalam Dunia Virtual
Apakah kita punya “hak untuk merasa aman” di dunia digital? Filsafat politik modern, seperti dikemukakan Habermas, mengidealkan ruang publik yang rasional dan setara. Namun realitas digital kita justru menciptakan ruang publik yang penuh kebisingan, bias, dan kekerasan simbolik.
Feminisme post-strukturalis, seperti yang dikemukakan oleh Judith Butler, membaca KBGO sebagai “kekerasan performatif”—cara sistem mempertahankan dominasi dengan cara simbolik. Maka, pertarungan ini bukan hanya tentang teknologi, tetapi tentang etika dan tanggung jawab kolektif untuk menciptakan ruang yang etis dan adil.
7. Narasi yang Menindas, Narasi yang Membebaskan
Budaya digital membentuk cara kita berpikir, berbicara, dan merespons kekerasan. KBGO terjadi dalam konteks narasi budaya yang mengakar: perempuan diposisikan sebagai objek, dan kekerasan sering kali dinormalisasi atau dijustifikasi. Media, film, hingga meme ikut melanggengkan bias ini
Namun, di sisi lain, narasi juga menjadi alat perlawanan. Kampanye seperti #MeToo menunjukkan kekuatan storytelling dalam membuka ruang kesaksian dan solidaritas. Humaniora memberi kita alat untuk membaca, menafsirkan, dan mengubah wacana.
8. Menuju Etika Digital yang Membebaskan
KBGO adalah cermin dari dunia digital kita yang masih jauh dari adil dan manusiawi. Solusi bukan hanya pada tombol “laporkan”, tetapi pada perubahan paradigma: dari sistem yang pasif terhadap kekerasan, menjadi sistem yang aktif melindungi martabat manusia.
Sebagaimana sains memberi kita data, filsafat memberi kita arah. Bagaimana dengan feminisme? Ia mengingatkan bahwa tubuh, suara, dan pengalaman perempuan bukan sekadar statistik—tetapi pusat dari perjuangan keadilan yang harus kita menangkan, baik di dunia nyata maupun di ruang-ruang digital.
9. Menyalakan Cahaya di Ruang Digital
Pada akhirnya, perjuangan melawan KBGO bukan sekadar soal melindungi individu, tetapi tentang membayangkan kembali dunia digital sebagai ruang yang lebih manusiawi—ruang di mana martabat tidak bisa diperdagangkan, suara tidak bisa dibungkam, dan keberagaman identitas dipeluk, bukan ditakuti. Dunia digital tidak netral; ia dibentuk oleh nilai-nilai yang kita izinkan hidup di dalamnya. Maka tugas kita bukan hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga penjaga nuraninya. Ketika kita memilih untuk berpihak pada korban, membongkar norma-norma yang menindas, dan menanamkan etika dalam setiap algoritma dan interaksi, saat itulah kita sedang membangun bukan sekadar sistem digital yang canggih, melainkan peradaban yang layak untuk diwariskan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....