Pasokan Terbatas, Harga Cabai Rawit di Tidore Capai Rp150 Ribu

  • 21 Sep 2026 19:04 WIB
  •  Ternate

RRI.CO.ID, Tidore - Harga cabai di Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara, mengalami lonjakan signifikan. Harga cabai rawit kini mencapai Rp150.000 per kilogram, sedangkan cabai keriting berada di kisaran Rp120.000 per kilogram.

Asisten Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Tidore Kepulauan Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Taher Husain, mengatakan kenaikan harga tersebut terjadi akibat terbatasnya pasokan komoditas cabai.

Hal itu disampaikan Taher setelah mengikuti Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah bersama Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) secara daring di Ruang Rapat Sekda Kota Tidore Kepulauan, Senin 21 September 2026.

Menurut Taher, kenaikan harga cabai terjadi di sejumlah daerah di Maluku Utara. Harga tertinggi tercatat di Kabupaten Halmahera Timur dan Halmahera Utara.

"Di atas rata-rata, ada empat kabupaten/kota. Yang paling tinggi adalah Haltim sama Halut. Kaitannya dengan langkah-langkah yang diantisipasi memang kita tidak bisa hindari karena ini musim kemarau yang panjang," kata Taher.

Ia menjelaskan, musim kemarau panjang menyebabkan petani cabai mengalami kendala dalam memenuhi kebutuhan air untuk produksi. Kondisi tersebut berdampak terhadap berkurangnya pasokan cabai dari sentra produksi.

"Untuk petani cabai sedikit terkendala karena terbatasnya suplai air," ujarnya.

Taher mengatakan produksi cabai lokal saat ini sangat terbatas. Bahkan, produksi yang tersedia belum mampu memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat setempat. Kondisi itu kemudian mendorong kenaikan harga cabai rawit dan cabai keriting di pasar.

Sementara itu, harga sejumlah komoditas pangan lainnya, seperti ikan dan ayam, masih relatif terkendali. Namun, Taher mengingatkan kedua komoditas tersebut tetap berpotensi mengalami kenaikan harga apabila kondisi pasokan terganggu.

"Untuk komoditas yang lain seperti ikan dan ayam untuk sementara masih bisa terkendali, namun berpotensi juga naik," katanya.

Menurut Taher, persoalan pasokan juga terjadi di daerah yang selama ini menjadi pemasok cabai untuk Kota Tidore Kepulauan, seperti Halmahera Timur dan Halmahera Utara.

Pasokan dari wilayah lain di luar Maluku Utara juga menghadapi kendala. Pasar dari Gorontalo dan Sulawesi Utara, misalnya, belum dapat menjadi alternatif pasokan karena harga komoditas cabai di kedua provinsi tersebut juga mengalami kenaikan.

"Sepuluh besar itu nominasinya dua provinsi itu, Gorontalo dan Sulawesi Utara. Sudah masuk dua digit, sudah di atas sepuluh. Itu memang secara nasional baru terjadi sekitar tiga bulan terakhir," ujar Taher.

Untuk mengatasi keterbatasan pasokan, Pemerintah Kota Tidore Kepulauan menyiapkan langkah intervensi dengan mendatangkan cabai dari luar daerah, di antaranya dari Makassar atau Pulau Jawa.

"Langkah yang kita diskusikan akan kita lakukan intervensi menyangkut suplai dari luar, apakah dari Makassar atau dari Jawa. Karena itu tentu juga butuh konsekuensi pendanaan," katanya.

Selain mendatangkan pasokan dari luar daerah, pemerintah daerah juga akan mengoordinasikan pelaksanaan pasar murah dan penyaluran cadangan pangan dengan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM.

Taher mengatakan pelaksanaan program tersebut perlu disesuaikan dengan kebijakan anggaran tahun 2026, sementara kondisi fiskal daerah saat ini masih sangat terbatas.

Pemerintah Kota Tidore Kepulauan berharap langkah intervensi pasokan dan program stabilisasi pangan dapat membantu menjaga ketersediaan komoditas sekaligus menekan kenaikan harga di tingkat masyarakat.(*)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....