Belajar dari Pengalaman Kelam, Menyemai Mangrove untuk Kehidupan

  • 06 Nov 2023 16:52 WIB
  •  Ternate

KBRN, Tidore: Di antara khasnya keindahan pesisir tropis dengan nyiur yang melambai, terselip pemandangan kontras yang menarik mata. Rumah-rumah reot yang telah ditinggal seperti merekam peristiwa kelam di masa lalu.  

Tersisa di sana, sebuah masjid kampung yang masih tegak kokoh berdiri dan kawasan mangrove mulai tumbuh berseri. 

Desa Toseho yang terletak di Kecamatan Oba, Kota Tidore Kepulauan merupakan sebuah desa pesisir yang  dapat digapai kurang lebih 1,5 jam dari Sofifi, Ibu Kota Provinsi Maluku Utara. Di antara angin pantai yang berhembus ke daratan, Kepala Desa Toseho, Taufik Halil menyampaikan sejarah kegemilangan desanya yang telah ditinggalkan. 

“Toseho sebagai kepingan  peradaban di pesisir Halmahera, pada zaman Kesultanan Tidore merupakan salah satu wilayah penyuplai sagu terbesar,” ucapnya.

Tidak hanya sagu, menurut Taufik , desanya juga merupakan penghasil kelapa ketika Bangsa Spanyol datang ratusan tahun silam.  Terlebih, pada tahun 1980–1990-an, Toseho merupakan salah satu sentra produksi kopra terbesar di wilayah Tidore Kepulauan.

Taufik juga berkisah, sejarah kegemilangan desanya perlahan mulai menghilang.  Sagu yang dahulu menjadi primadona telah ditinggal karena kebijakan peralihan sumber pangan utama di masa lalu. 

Begitu pula dengan kelapa dan kopra sebagai produksi turunannya. Akibat dampak lingkungan dan abrasi menghempas pesisir, sekitar 50–60 hektare perkebunan kelapa tidak lagi menjadi tumpuan penghidupan.

Meski terbilang  muda, Taufik Halil mempunyai semangat besar untuk mengulang kejayaan desanya dengan basis kelestarian lingkungan. Kini, desa tersebut menggiatkan pelestarian mangrove sejak awal tahun 2020. 

Semangat besarnya berbuah manis karena mendapat tanggapan baik dari masyarakat serta berbagai pihak.

Tampaknya, mangrove kini menjadi salah satu tumpuan utama masyarakat untuk hidup yang lebih baik di masa mendatang. Opsi ekowisata berbasis kelestarian mangrove menjadi hal yang masuk akal. 

Taufik mengungkap bahwa desanya memiliki potensi besar sehingga sangat disayangkan jika tidak dikelola dengan baik. Geografis pesisir, keanekaragaman jenis mangrove, potensi bahari yang berlimpah merupakan dasar kemajuan Desa Toseho di masa mendatang.

Sebagai Sarjana Ilmu Sejarah, tampaknya dia berhasil dengan pencapaian yang telah diraih.  Belajar dari pengalaman masa lalu dan mengambil langkah demi langkah untuk menatap masa depan.

Menyusuri mangrove Desa Toseho (Dokumentasi Mario Panggabean/RRI)

Peran Penting Mangrove untuk Kehidupan

Menurut Akademisi Unkhair Ternate, Zulhan Harahap, mangrove memiliki berbagai manfaat dalam sisi ekonomis serta ekologis.  Manfaat ekonomis yang paling mudah dipahami yakni nilai ekonomi yang bersifat langsung.

Dalam hal ini pemanfaatannya untuk bahan bangunan, industri kayu,  bahan baku arang, hingga  kayu bakar. 

Di sisi lain, pemanfaatan ekonomis mangrove dalam bidang perikanan berkelanjutan belum banyak dikembangkan dengan baik dan sistematis. Dalam sisi ekologis, mangrove memiliki fungsi biologis, fisik, dan klimatologi.

Mangrove sebagai ‘rumah’ bagi makhluk hidup, penyaring, pelindung, penyerap karbon, penghasil oksigen, hingga pengatur kelembapan suhu udara. 

Penelitian CIFOR (Center for International Forestry Research) juga menyampaikan bahwa  hutan mangrove di Indonesia menyimpan lima kali lebih banyak karbon dibanding hutan daratan.  

Direktur Rehabilitasi Perairan Darat dan Mangrove (RPDM), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Inge Retnowati, menjelaskan bahwa mangrove merupakan salah satu kontribusi Indonesia bagi dunia.

 “Mangrove menjadi andalan Indonesia untuk berkontribusi dalam upaya pengendalian perubahan iklim,” ujarnya.

Dalam tataran pengetahuan masyarakat lokal, mangrove juga memiliki fungsi praktis dalam bidang medis.  Penuturan Taufik Halil, kulit dan daun mangrove dapat dijadikan media pengobatan.

Berbenah dan Belajar dari Pengalaman Masa Lalu

“Desa Toseho sudah ada sebelum Indonesia merdeka, sayangnya kini telah hilang akibat perubahan iklim,” ucap Taufik. 

Ia juga menambahkan bahwa akar masalahnya akibat minimnya kesadaran masyarakat akan kelestarian mangrove. Pemanfaatan mangrove tanpa mengindahkan keberlanjutan lambat laun mengikis habis mangrove di pesisir.

Kini, hamparan mangrove mulai tumbuh subur dan lestari di Toseho. Wilayah yang dahulu merupakan pemukiman yang telah ditinggalkan, diproyeksikan untuk menjadi hutan mangrove kembali. 

“Berangkat dari masa lalu yang kelam, melalui Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) 2020, kami mulai mengampenyakan pentingnya hutan mangrove kepada masyarakat,” ujar Taufik panggilan akrabnya.

Tidak hanya itu, dipersiapkan pula bahwa Toseho akan dijadikan sebagai destinasi ekowisata di masa mendatang.

Inge Retnowati dalam lawatan kerjanya di Toseho, September 2023 menyampaikan dukungannya .“Kita akan mempelajari konsep wisata yang tepat bagi Toseho, agar sesuai dengan karakter ekologi dan sosial ekonomi masyarakat,” ucapnya. 

Akademisi Universitas Halmahera, Johanna Tandisala, yang juga sempat menyambangi Toseho memberikan pendapatnya terkait modal dasar Toseho. “Toseho memiliki potensi besar, mangrove dan lautnya memiliki keindahan yang sangat luar biasa,” ucap Anna, sapaannya.

Keindahan pesisir Toseho yang memiliki potensi wisata di masa mendatang (Mario Panggabean/RRI)

Asa dalam Mendorong Pelestarian Mangrove 

Data dari Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Ake Malamo memperlihatkan dari tahun 2020–2021, rehabilitasi mangrove melalui PEN 2020 yakni 119,9 hektare di Maluku Utara. Desa Toseho mendapat porsi terbesar dalam rehabilitasi mangrove yaitu 10 hektare serta di tahun 2021 dengan luasan yang sama.  

Terpisah, Kepala Desa Toseho juga menyampaikan selama 3 tahun, kurang lebih 130.000 mangrove telah ditanam dengan dukungan PEN KLHK, Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), dan Dinas Lingkungan Hidup  Kota Tidore Kepulauan.

Dengan cakupan wilayah reboisasi yang tinggi bukan tidak mungkin Toseho akan menjadi acuan dalam program rehabilitasi mangrove nasional. Ditambah dengan pengalaman kelam di masa lalu yang menjadi pelajaran berharga. 

“Masyarakat perlu belajar dari pengalaman Toseho bahwa mangrove memiliki fungsi untuk menjaga kehidupan kita,” ucap Anna.

Kepala Bidang Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Hutan (PKSDH), Dinas Kehutanan, Provinsi Maluku Utara, Ibnu Khaldun, mengungkapkan rasa kagumnya melihat masyarakat Toseho. “Akibat dampak abrasi, masyarakat melakukan gerakan swadaya dengan kesadaran untuk melakukan reboisasi,” ucapnya. 

Pemerintah daerah Maluku Utara juga memiliki komitmen kuat dalam pelestarian dan pengembangan ekosistem mangrove. Perizinan perhutanan sosial, pendampingan, serta fasilitasi merupakan wujud komitmen pemerintah dalam pengembangan kelestarian dan kebermanfaatan mangrove," ujar Ibnu. 

Menanam kembali; tampak siswa-siswi SD di Toseho melakukan penanaman kembali ratusan bibit mangrove ( Mario Panggabean/RRI)

Harapan yang Tersemat 

Perhatian pemerintah serta berbagai pihak masih sangat dibutuhkan untuk meningkatkan nilai ekologis dan ekonomis di wilayah yang memiliki ekosistem mangrove.

Pemberdayaan masyarakat desa dalam pengembangan perikanan berkelanjutan, wisata alam, pusat pendidikan lingkungan, hingga untuk tujuan konservasi alam. 

Hal-hal tersebut diungkap oleh Akademisi Ilmu Kelautan Unkhair, Zulhan Harahap, dalam pemanfaatan dan pengelolaan mangrove yang berkelanjutan.  Di sisi lain, Zulhan melihat bahwa kegiatan penanaman mangrove sering kali hanya bersifat seremonial belaka.

Kepala Desa Toseho mengungkap bahwa ekosistem mangrove yang baik seharusnya tidak hanya untuk kelestarian lingkungan saja, namun juga diharapkan memiliki dampak langsung. “Masyarakat butuh dampak ekonomis, adanya destinasi wisata, mendapat penghasilan dari sana maka masyarakat dengan sendirinya akan menjaga mangrove,” ucapnya. 

Dukungan serta kolaborasi dari berbagai pihak menjadi hal yang penting agar ekosistem mangrove memiliki manfaat bagi kehidupan. Seperti juga halnya Toseho dan ‘Toseho’ lain di luar sana yang memiliki komitmen dalam menjaga mangrove.

Tidak hanya menanam  belaka, namun juga pengelolaan mangrove yang memiliki manfaat bagi semua. Bagi lingkungan hidup, bagi dunia, dan tentu saja bagi masyarakat lokal yang menjaga kelestariannya.

Oleh: Mario Panggabean (Angkasawan RRI Ternate).

Rekomendasi Berita