Gerakan Ayah Antar Anak Sekolah Pererat Hubungan Keluarga
- 11 Agt 2025 13:10 WIB
- Ternate
KBRN, Ternate: Suasana pagi di Kota Ternate dipenuhi aktivitas warga yang bersiap memulai rutinitas harian. Di tengah kesibukan, sejumlah orang tua menyempatkan mengantar anak ke sekolah sebelum melanjutkan pekerjaan.
Salah satunya Ikbal, warga kawasan Tabona Puncak, Kota Ternate Selatan, yang tetap meluangkan waktu bersama keluarga. Meski jadwal kerja padat, ia mengawali hari dengan sarapan bersama dan mengantar putrinya ke sekolah.
Menurut Ikbal, momen perjalanan ke sekolah menjadi kesempatan berharga berbincang ringan, memberi semangat, dan menanamkan nilai positif. “Kadang kami ngobrol tentang pelajaran, teman-temannya, atau rencana kegiatan sekolah,” ujarnya sambil tersenyum.
Ia menambahkan, walau waktu singkat, kebersamaan itu membuat hari terasa lebih menyenangkan sebelum ia berangkat bekerja. Baginya, memulai hari bersama keluarga adalah cara menjaga kedekatan emosional dengan anak.
Dari sudut pandang psikologis, aktivitas mengantar anak ke sekolah memiliki dampak positif pada perkembangan sosial anak. Ratih Zulhaqqi dari RaQQi – Human Development & Learning Centre mengatakan, hal ini membantu anak mengenali lingkungan baru.
“Dengan mengantar, anak merasa lebih percaya diri dan aman menghadapi hari di sekolah,” kata Ratih. Menurutnya, keterlibatan orang tua secara langsung memiliki efek jangka panjang terhadap kemandirian dan rasa tanggung jawab anak.
Pemerintah Indonesia baru-baru ini meluncurkan kebijakan transformasi budaya pengasuhan melalui Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah. Program ini bertujuan mendorong keterlibatan ayah secara aktif dalam kehidupan anak.
Sekilas, kebijakan ini terlihat sederhana, hanya mengantar anak ke sekolah di pagi hari. Namun, di baliknya terdapat upaya mengatasi fenomena sosial tingginya angka fatherless atau hilangnya peran ayah dalam keluarga.
Kegiatan mengantar anak ke sekolah menjadi momentum membangun kedekatan emosional dan komunikasi yang lebih intens antara ayah dan anak. Selain itu, anak memulai hari belajar dengan perasaan gembira dan termotivasi.
Ratih menilai, gerakan ini dapat menjadi langkah awal membentuk pola pengasuhan yang lebih seimbang di keluarga. Peran ayah yang aktif memberikan teladan positif dan memperkuat fondasi karakter anak sejak usia dini.
Ikbal berharap, semakin banyak ayah di Ternate yang ikut meluangkan waktu mengantar anak mereka. “Meski sebentar, dampaknya besar untuk hubungan keluarga,” ujarnya.
Gerakan ini diharapkan terus berkembang menjadi budaya positif yang melekat di tengah masyarakat Indonesia. Dengan begitu, peran keluarga sebagai pendidik pertama anak dapat berjalan optimal.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....