Perahu Kayu Saksi Perjuangan Siswa MAN 1 Halsel Taklukkan Laut Demi Pendidikan

  • 07 Okt 2026 09:30 WIB
  •  Ternate

BAGI Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Halmahera Selatan, perahu kayu bukan sekadar alat transportasi. Ia adalah saksi bisu perjuangan anak-anak kepulauan di Pulau Makian dalam menggapai cita-cita.

Sejak tahun 2012, Kementerian Agama melalui MAN 1 Halmahera Selatan menyediakan layanan antar-jemput gratis menggunakan kapal kayu bagi siswa dan guru. Layanan ini menjangkau empat desa di seberang, yakni Desa Suma, Ploli, Soma, dan Wayloa.

Jika di perkotaan anak sekolah berangkat dengan berjalan kaki, motor, mobil atau bus sekolah, berbeda dengan siswa di sini. Setiap pagi, mereka harus terlebih dahulu menaklukkan ombak dan lautan untuk sampai ke ruang kelas.

MAN 1 Halmahera Selatan yang berlokasi di Desa Dauri, Kecamatan Pulau Makian, Kabupaten Halmahera Selatan, merupakan satu-satunya madrasah tingkat Aliyah di pulau tersebut. Kondisi geografis yang terpisah laut tak menyurutkan semangat mereka untuk terus bersekolah.

Kepala MAN 1 Halmahera Selatan, Tamrin Hamisi, mengatakan keterbatasan akses darat membuat laut menjadi jalur utama pendidikan. "Kalau madrasah di perkotaan punya bus sekolah, kami di sini punya perahu kayu. Perahu tua ini sudah menjadi saksi perjuangan anak-anak menempuh pendidikan hingga mereka lulus dan menjadi penerus bangsa," kata Tamrin.

Ia menegaskan layanan antar-jemput tersebut gratis. Kehadiran madrasah di wilayah kepulauan tidak hanya soal menyediakan ruang kelas, tetapi juga menjawab persoalan geografis agar tidak ada anak yang putus sekolah. Seiring waktu, madrasah terus berbenah. Salah satu terobosan yang dilakukan adalah menghadirkan akses internet.

"Dulu di sini tidak ada jaringan internet sama sekali. Kami kemudian berupaya menghadirkan akses internet melalui Starlink, sehingga anak-anak dan guru bisa mendapatkan informasi dan pembelajaran yang lebih luas," ujarnya.

Penguatan sarana juga didukung melalui program Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dari Kementerian Agama. Tujuannya untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan madrasah di daerah 3T.

Perjuangan anak-anak Pulau Makian ini pun mendapat perhatian pemerintah daerah. Gubernur Maluku Utara sebelumnya telah melihat langsung kondisi siswa yang harus menyeberangi laut setiap hari. Tamrin berharap, pembangunan infrastruktur jalan penghubung antar desa di Pulau Makian dapat terealisasi pada tahun 2027.

"Harapannya tahun 2027 jalan yang menghubungkan antar desa bisa segera terealisasi. Dengan begitu, orang tua, guru, dan anak-anak tidak perlu lagi merasa khawatir saat pergi dan pulang sekolah," ucapnya berharap.

Baginya, jalan yang diimpikan bukan sekadar infrastruktur. Melainkan tentang keselamatan anak, ketenangan orang tua, dan kemudahan guru dalam menjalankan tugas.

Sementara jalan belum terhubung sepenuhnya, deru mesin perahu kayu itu akan terus terdengar setiap pagi. Setiap kali perahu bergerak meninggalkan tepian desa menuju madrasah, ada pesan sederhana yang ikut menyeberang: jarak dan laut tak boleh memutus harapan anak pulau untuk mendapatkan pendidikan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....