Warisan di Balik Benang Tenun Koloncucu Ternate
- 06 Okt 2026 07:30 WIB
- Ternate
RRI.CO.ID. Ternate – Suara kayu yang beradu terdengar pelan dari sebuah rumah di Kelurahan Toboleu, Kecamatan Ternate Utara. Di sana, jemari Sehat Lamasila masih lincah mengatur benang demi benang pada alat tenun kayu tradisional.
Perempuan yang akrab disapa Mama Cia itu telah berusia hampir 60 tahun. Namun, usia tidak membuat tangannya berhenti bekerja. Di hadapannya, benang-benang yang semula terpisah perlahan berubah menjadi selembar kain dengan motif khas Tenun Koloncucu.

Bagi Mama Cia, aktivitas itu bukan sekadar pekerjaan. Menenun adalah cara untuk menjaga sesuatu yang diwariskan kepadanya dari generasi sebelumnya. Ia menyebut dirinya sebagai generasi keenam penenun Tenun Koloncucu dalam keluarganya.
“Saya generasi keenam dari nenek saya,” ujar Mama Cia, Senin 5 Oktober 2026.
Sejak tahun 1987, ketika masih duduk di bangku sekolah menengah atas, ia mulai serius menenun. Saat itu, keadaan ekonomi keluarga membuatnya ikut membantu sang ibu memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Ayahnya bekerja sebagai tukang kayu. Mama Cia merupakan anak kedua dari tujuh bersaudara. Jarak rumah dan sekolah yang cukup jauh juga membuat kebutuhan sehari-hari menjadi tantangan tersendiri.
Menenun kemudian menjadi salah satu cara yang dilakukannya untuk membantu keluarga.Setiap kain yang berhasil terjual, sebagian hasilnya diberikan sang ibu kepadanya. Dari situlah keterampilan menenun perlahan tumbuh menjadi bagian dari kehidupan Mama Cia.
Puluhan tahun kemudian, keterampilan tersebut bukan lagi sekadar cara mendapatkan penghasilan. Ia telah menjadi bagian dari identitas dan tanggung jawab untuk mempertahankan warisan keluarga.
Di rumahnya, Mama Cia menyimpan sembilan alat tenun tradisional yang disebut gedokan.
Alat-alat itu bukan semuanya ia dapatkan dengan membeli. Sebagian merupakan peninggalan anggota keluarganya yang telah meninggal dunia dan tidak lagi memiliki penerus untuk menggunakannya. Karena Mama Cia masih terus menenun, alat-alat tersebut akhirnya dipercayakan kepadanya.
Setiap gedokan menyimpan cerita. Ada jejak tangan orang-orang terdahulu yang pernah menggunakannya untuk menghasilkan kain, sekaligus mempertahankan keterampilan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dahulu, proses pembuatan kain Tenun Koloncucu juga jauh lebih panjang. Bahan benang berasal dari serat daun nanas. Daun dikeringkan, seratnya dipisahkan, kemudian disambung menjadi benang, dipintal, digulung, dan diberi warna.
Rangkaian pekerjaan tersebut membutuhkan waktu, ketelitian, dan kesabaran.Kini prosesnya telah mengalami perubahan. Bahan dan teknik tertentu lebih mudah diperoleh. Namun, Mama Cia tetap mempertahankan gedokan sebagai bagian penting dari proses menenun. Baginya, alat tradisional itu bukan sekadar benda lama. Gedokan adalah penghubung antara masa lalu dan masa kini.
Pernah Menyimpan 12 Kain
Menjadi penenun tidak selalu mendatangkan hasil dengan cepat.Ada masa ketika kain hasil tenunan Mama Cia menumpuk karena belum banyak orang mengetahui Tenun Koloncucu. Pada 1990, ia bahkan pernah menyimpan hingga 12 lembar kain. Kain-kain itu tetap ia simpan meski belum ada pembeli.
Hingga suatu hari, seorang tamu dari Angkatan Laut datang mencari kain dalam jumlah banyak. Persediaan yang sebelumnya hanya tersimpan di rumah ternyata menjadi sesuatu yang sangat berarti. Pengalaman itu membuat Mama Cia semakin percaya bahwa Tenun Koloncucu memiliki nilai yang layak dipertahankan.

Namun, setelah persoalan pemasaran, muncul tantangan yang jauh lebih besar bagi regenerasi. Menurutnya, melestarikan tenun tidak cukup hanya dengan menggelar pelatihan dalam waktu singkat. Perlu mempelajari prosesnya secara menyeluruh, dari mengenal alat, menyiapkan benang, membuat pola, hingga mampu menghasilkan kain secara mandiri.
“Walaupun ini merupakan generasi ke generasi, saya minta diperhatikan biar Kota Ternate yang ada ini punya hasil yang memuaskan, bisa membanggakan hasil-hasil tenun sendiri,” ujarnya.
Mama Cia mengakui, perhatian terhadap Tenun Koloncucu dari pemerintah belum selalu berjalan seperti yang diharapkan. Namun, ia melihat perubahan mulai terjadi pada 2023 ketika pemerintah mulai memberikan perhatian melalui pelatihan menenun yang berlangsung selama beberapa bulan.
Pelatihan tersebut menjadi salah satu upaya memperkenalkan kembali keterampilan menenun kepada generasi penerus.
Masalahnya, jumlah peserta perlahan berkurang. Tidak semua orang yang memulai pelatihan bertahan hingga selesai.
Bagi Mama Cia, kondisi tersebut menunjukkan bahwa regenerasi penenun memang tidak mudah. Menenun membutuhkan ketekunan. Hasilnya tidak bisa diperoleh dalam sehari.Karena itu, ia tidak berhenti mengajak anak, dan generasi muda untuk belajar.
Upaya itu perlahan membuahkan hasil. Sejumlah anggota keluarganya telah mengetahui keterampilan menenun. Bahkan, salah seorang keponakannya mulai mengajarkan keterampilan tersebut kepada anaknya yang masih duduk di bangku SMP. Bagi Mama Cia, itu adalah tanda bahwa rantai pewarisan belum benar-benar terputus.
Menenun untuk Mandiri
Di balik kegigihannya mempertahankan tradisi, ada alasan lain yang membuat Mama Cia tetap menenun hingga sekarang yakni kemandirian. Meskipun suaminya bekerja dan memiliki penghasilan, Mama Cia tidak ingin hanya bergantung pada pendapatan suami.
Ia ingin memiliki penghasilan dari hasil kerja tangannya sendiri.
Setiap kain yang terjual menjadi hasil dari ketekunan yang telah ia bangun selama puluhan tahun. Sebagian digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk membeli bahan makanan, sementara sebagian lainnya menjadi pemasukan keluarga. Menenun memang tidak selalu menghasilkan uang setiap hari.Tetapi bagi Mama Cia, selama dilakukan secara rutin dan tekun, pekerjaan tersebut tetap dapat memberikan hasil.
“Kalau kita tekun, pasti ada hasilnya,” menjadi semangat yang terus ia pegang dalam menjalani pekerjaannya.
Lima Motif, Satu Identitas
Tenun Koloncucu memiliki sejumlah motif yang menjadi ciri khasnya. Mama Cia menyebut lima motif yang dikenal dalam Tenun Koloncucu, yakni bunga rica, bunga pupia, irisan pandan, waji, dan tanjung. Masing-masing memiliki peminat.
Namun, di tengah generasi muda, motif waji disebut lebih banyak diminati. Perubahan selera zaman membuat para penenun juga perlu beradaptasi. Motif-motif lama mulai dikembangkan dengan memberikan variasi agar tampil lebih menarik bagi masyarakat masa kini.
Bagi Mama Cia, perubahan bukan berarti meninggalkan tradisi. Justru, pengembangan motif menjadi salah satu cara agar Tenun Koloncucu tetap dapat diterima generasi baru tanpa kehilangan akar budayanya.
Tradisi, menurutnya, tidak harus selalu tampil dalam bentuk yang sama. Yang terpenting adalah nilai dan pengetahuan di baliknya tetap diwariskan.
Tenun Koloncucu juga memiliki hubungan dengan masyarakat Buton. Menurut Mama Cia, terdapat salah satu kampung bernama Koloncucu di Buton yang diyakini memiliki kaitan dengan asal-usul masyarakat Koloncucu di Ternate. Perpaduan budaya Ternate dan Buton tersebut kemudian tumbuh bertahan dari generasi ke generasi.
Kini, Mama Cia menjadi salah satu penenun yang masih aktif menjaganya. Ada alasan sederhana yang membuatnya bertahan. Ia merasa sayang jika warisan yang ditinggalkan orang-orang terdahulunya hilang begitu saja.
“Kasihan kalau saya tidak teruskan, hasil dari orang tua saya bisa hilang bahkan punah, sudah tidak ada lagi yang teruskan,” katanya.
Karena itu, meski pembeli tidak selalu datang, ia tetap menenun. Kain yang telah selesai dibuat akan disimpan. Jika suatu hari ada orang yang mencari, kain tersebut masih tersedia. Sebab bagi Mama Cia, menenun bukan semata tentang apakah hari itu ada kain yang terjual. Menenun adalah tentang memastikan sesuatu yang diwariskan kepadanya tidak berhenti di tangannya.
Mama Cia tidak ingin Tenun Koloncucu hanya tinggal sebagai cerita tentang masa lalu. Ia ingin masyarakat Ternate mengenal, menggunakan, dan ikut menjaga tenun tersebut. Lebih dari itu, ia berharap semakin banyak orang bersedia belajar menenun.
“Harapan saya itu kalau boleh masyarakat yang ada di Kota Ternate ikut untuk tenun, biar tenun ini yang hanya satu-satunya yang ada di Kota Ternate tidak akan punah. Walaupun saya tidak ada, masih bisa ada generasi-generasi yang bisa meneruskan. Saya ingin orang belajar,” harapnya.
Namun, di baliknya terdapat kegelisahan seorang perempuan yang menyadari bahwa sebuah tradisi bisa hilang ketika tidak ada lagi tangan yang mengerjakannya. Sebab warisan tidak akan bertahan hanya karena pernah ada. Warisan harus dikerjakan, diajarkan, dan diteruskan.
Selama jemarinya masih mampu mengatur benang, Mama Cia akan terus duduk di hadapan gedokan. Di sana, ia tidak hanya membuat kain. Ia sedang merajut kembali cerita enam generasi keluarganya. Setiap tarikan benang adalah ingatan. Setiap hentakan gedokan adalah penanda bahwa tradisi itu masih hidup. Dan di balik selembar Tenun Koloncucu, seorang pewaris yang memilih bertahan agar warisan leluhurnya tidak berakhir pada satu generasi.(Reporter/Najla Firishta).
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....