Jejak Kepemimpinan Irjen Pol. Stephen Napiun di Timur Indonesia
- 17 Sep 2026 17:08 WIB
- Ternate
RRI.CO.ID, Ternate – Karier panjang di kepolisian membawa Brigadir Jenderal Polisi Stephen Maleachi Napiun melewati berbagai medan tugas. Dari dunia lalu lintas, operasi kepolisian, hingga memimpin penanganan situasi konflik dan bencana, pengalaman itu menjadi bagian dari perjalanan panjangnya sebagai perwira Polri.
Kini, setelah sekitar dua tahun berada di Maluku Utara, perjalanan tugas Stephen M. Napiun memasuki babak baru. Wakapolda Maluku Utara itu mendapat promosi menjadi Inspektur Jenderal Polisi dan dipercaya menduduki jabatan Widyaiswara Kepolisian Utama Tingkat I Sespim Lemdiklat Polri.
Promosi tersebut tertuang dalam Surat Telegram Kapolri Nomor ST/1877/VIII/KEP./2026 tertanggal 30 Agustus 2026 yang ditandatangani Wakapolri Komjen Pol. Dedy Prasetyo.
Posisi Wakapolda Maluku Utara selanjutnya ditempati Brigjen Pol. Slamet Haryadi, yang sebelumnya menjabat Widyaiswara Madya Sespim Lemdiklat Polri.
Bagi Stephen, perpindahan tugas ini bukan sekadar pergantian jabatan. Ada pengalaman, interaksi, dan berbagai peristiwa yang telah menjadi bagian dari perjalanannya selama berada di Maluku Utara.
Salah satu pengalaman yang memperlihatkan keterlibatannya langsung di lapangan adalah ketika terjadi konflik di Sibenpopo dan Banemo. Bersama Wakil Gubernur Maluku Utara dan Danrem, Stephen turun langsung untuk melihat situasi sekaligus memastikan langkah penanganan dilakukan dengan cepat.
Pada malam itu, penguatan pasukan dilakukan untuk mengantisipasi konflik meluas. Di saat yang sama, proses evakuasi warga terdampak juga menjadi bagian dari penanganan.
Namun, penyelesaian konflik tidak hanya ditempuh melalui pengerahan personel. Komunikasi dengan tokoh masyarakat dari kedua pihak juga dilakukan untuk meredakan ketegangan dan mencegah persoalan berkembang lebih jauh.
Pengalaman lain datang dari situasi berbeda. Pada 8 Mei 2026, Gunung Dukono di Halmahera Utara mengalami erupsi yang menimbulkan korban jiwa, termasuk dua warga negara asing asal Singapura dan seorang warga negara Indonesia.
Dalam situasi tersebut, Stephen kembali berada di lapangan. Ia memastikan proses penanganan dan evakuasi korban berjalan, termasuk hingga proses penyerahan jenazah warga negara asing kepada pihak keluarga.
Dua peristiwa itu memperlihatkan satu sisi lain dari tugas seorang pimpinan kepolisian. Ketika konflik atau bencana terjadi, keputusan tidak selalu dapat menunggu. Koordinasi harus berjalan cepat, sementara kondisi di lapangan dapat berubah sewaktu-waktu.
Polisi harus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, TNI, tim penyelamat, tenaga medis, tokoh masyarakat, hingga unsur lainnya. Di tengah kondisi seperti itu, seorang pimpinan dituntut hadir, mengambil keputusan, sekaligus menjaga agar seluruh unsur bergerak dalam arah yang sama.
Pengalaman tersebut melengkapi perjalanan panjang Stephen di kepolisian yang sebagian besar juga bersinggungan dengan bidang lalu lintas dan operasional kepolisian.
Lahir di Jakarta pada 21 Desember 1968, Stephen merupakan lulusan Akabri yang kini dikenal sebagai Akademi Kepolisian tahun 1990. Ia kemudian menempuh pendidikan PTIK pada 1999, Sespim pada 2004, dan PKN pada 2019.
Sejumlah jabatan pernah dipercayakan kepadanya. Di antaranya Kasubdit Administrasi, Registrasi dan Identifikasi Ditlantas Polda Daerah Istimewa Yogyakarta, Kapolres Bantul, Wakil Direktur Lalu Lintas Polda DI Yogyakarta, hingga Direktur Pembinaan Masyarakat Polda DI Yogyakarta.
Kariernya kemudian berlanjut sebagai Direktur Lalu Lintas Polda Sulawesi Utara, Kepala Detasemen Pengawalan dan Patroli Jalan Raya Korps Lalu Lintas Polri, serta Direktur Lalu Lintas Polda Papua.
Ia juga pernah menjabat Kepala Biro Operasi Polda Sulawesi Selatan dan Kepala Biro Operasi Polda Jawa Barat. Sebelum bertugas di Maluku Utara, Stephen dipercaya sebagai Wakapolda Maluku pada 2023.
Setahun kemudian, ia ditugaskan sebagai Wakapolda Maluku Utara. Selama menjalankan tugas tersebut, ia berhadapan dengan beragam dinamika keamanan dan sosial di wilayah kepulauan yang memiliki karakter geografis serta tantangan tersendiri.
Kini, seragam dan ruang tugasnya akan berganti. Pangkatnya meningkat dari Brigjen Pol menjadi Irjen Pol, sementara tugas baru sebagai Widyaiswara Kepolisian Utama Tingkat I Sespim Lemdiklat Polri akan membawanya lebih banyak ke ruang pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia Polri.
Sebelum meninggalkan Maluku Utara dan bertolak ke Jakarta, Stephen menyampaikan apresiasi kepada Kapolda, seluruh personel Polda Maluku Utara, serta masyarakat yang selama ini memberikan dukungan dan menerima kehadirannya selama bertugas.
Baginya, hubungan yang terbangun selama menjalankan tugas tidak berhenti ketika jabatan dan tempat penugasan berubah.
“Saya juga berharap silaturahmi dan hubungan baik yang telah terjalin selama bertugas di Maluku Utara dapat terus terjaga, meski nantinya saya tidak lagi berada di lingkungan Polda Maluku Utara,” ujar Stephen saat ditemui di ruang kerjanya sebelum bertolak ke Jakarta.
Dari jalan raya hingga ruang operasi, dari situasi konflik hingga lokasi bencana, berbagai pengalaman itu menjadi bagian dari perjalanan Stephen M. Napiun selama menjalankan tugas di Maluku Utara.
Kini, perjalanan itu berlanjut. Bukan lagi sebagai Wakapolda di wilayah kepulauan ini, tetapi dengan tugas baru di lingkungan pendidikan Polri, membawa pengalaman lapangan yang telah dilewatinya ke ruang pembelajaran bagi generasi perwira berikutnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....