Meti Cottage, Tempat Ketenangan Menemukan Rumahnya di Halmahera Utara
- 30 Jul 2026 13:25 WIB
- Ternate
RRI.CO.ID, Tobelo - SESAAT setelah menjejakkan kaki di Pulau Meti, Chaca hampir lupa menyimpan telepon genggamnya. Jurnalis Kalesang.id itu berkali-kali mengarahkan kamera ke hamparan laut yang bening, pasir putih yang membentang, serta bangunan-bangunan bergaya klasik yang berdiri menghadap laut. Pemandangan yang selama ini hanya ia lihat lewat foto, kini terbentang nyata di depan mata.
Ini merupakan kunjungan pertamanya ke Meti Cottage. Kesan yang muncul bukan sekadar takjub oleh panorama. Chaca juga merasakan ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
"Rasanya seperti berada di dunia yang berbeda. Tempat ini tenang sekali. Saya tidak sabar berenang menikmati air lautnya," ujar Chaca, di sela-sela kunjungannya ke Meti Cottage, Rabu, 29 Juli 2026.
Perjalanan menuju Meti Cottage memang bukan perjalanan yang selesai hanya ketika tiba di tujuan. Dari pusat Kota Tobelo, Kabupaten Halmahera Utara, wisatawan harus menempuh perjalanan darat sekitar 30 hingga 45 menit menuju Desa Mawea di pesisir timur. Dari desa itu, perjalanan dilanjutkan menggunakan longboat sekitar 10 hingga 15 menit dengan tarif Rp20 ribu per orang.
Sepanjang perjalanan laut, mata seperti enggan berkedip. Air laut berwarna hijau toska membentang luas, sementara terumbu karang terlihat jelas dari atas perahu. Sesekali gerombolan ikan berenang di sela-sela karang, menghadirkan pemandangan yang membuat perjalanan singkat terasa begitu berkesan.
Sesampainya di Pulau Meti, hamparan pasir putih langsung menyambut. Air laut yang jernih bak kristal berpadu dengan bangunan-bangunan bergaya klasik di kawasan Meti Cottage menciptakan suasana yang berbeda dari kebanyakan destinasi wisata di Maluku Utara. Dari atas dermaga, ikan-ikan tampak berenang bebas, sementara semilir angin laut dan suara ombak menjadi musik alami yang menemani setiap langkah.
Di tempat ini, tidak ada kebisingan kendaraan, tidak ada hiruk pikuk kota. Hanya suara ombak kecil, sesekali bunyi ketinting dan dayung perahu nelayan yang melintas, dan kicau burung dari pepohonan yang mengiringi setiap langkah. Suasana inilah yang membuat banyak orang merasa seolah memasuki tempat yang berbeda.

Bagi Chaca, Meti Cottage bukan hanya tempat menikmati pemandangan. Pulau kecil itu menjadi ruang untuk mengistirahatkan pikiran dari rutinitas yang padat. Ia bahkan mengaku ingin kembali suatu hari nanti bersama keluarga.
"Ini salah satu destinasi favorit saya di Maluku Utara. Sangat saya rekomendasikan bagi siapa saja yang ingin mencari ketenangan dan menikmati alam yang masih sangat terjaga," katanya.
Keindahan yang kini dinikmati para wisatawan ternyata lahir dari sebuah keputusan yang tidak sederhana. Di balik Meti Cottage ada sosok Adhi, pria kelahiran Aceh dari keluarga besar Yogyakarta yang pernah menempuh pendidikan Master of Business Administration (MBA) di Jerman. Sekitar satu dekade lalu, seorang rekannya mengajaknya berkunjung ke Tobelo dan memperkenalkan Pulau Meti.
Bagi Adhi, memilih Pulau Meti bukan keputusan yang muncul begitu saja. Sebelum menetapkan lokasi pembangunan, ia lebih dulu menjelajahi sejumlah daerah di Indonesia, mulai dari Papua, Sulawesi, Sumatera hingga Maluku Utara. Dari semua tempat yang ia datangi, Pulau Meti menghadirkan sesuatu yang tidak ia temukan di tempat lain.
"Kalau memilih Pulau Meti, artinya saya sudah melalui beberapa seleksi. Saya melihat beberapa daerah di Papua, Sulawesi, Sumatera hingga Maluku Utara. Kenapa akhirnya memilih Meti? Karena menurut saya, Meti memiliki karakter yang berbeda dan menjadi referensi yang tepat untuk konsep yang ingin saya bangun," ucap Adhi.
Keputusan itu kemudian diwujudkan pada 2017 dengan membangun Meti Cottage. Kini kawasan wisata tersebut berdiri di atas lahan sekitar 500 meter persegi dan dikelola bersama 13 pekerja yang setiap hari melayani tamu dari berbagai daerah, bahkan wisatawan mancanegara.
Sejak awal, Adhi memang tidak ingin menghadirkan destinasi yang serupa dengan tempat wisata lain. Bangunan bergaya klasik yang ramah lingkungan dipadukan dengan material alami agar tetap menyatu dengan lingkungan sekitar.

Sementara sebagian konstruksi menggunakan beton demi menjaga kekuatan bangunan. "Kami memang ingin membuat sesuatu yang berbeda. Kalau sama dengan yang lain, orang mungkin datang sekali lalu lupa. Tapi kalau berbeda, mereka akan selalu ingat," ujarnya.
Bagi Adhi, keberhasilan Meti Cottage tidak diukur dari banyaknya tamu yang datang, melainkan dari seberapa besar keinginan mereka untuk kembali. Menurutnya, ketika seorang wisatawan rela menempuh perjalanan yang sama hanya untuk menikmati suasana Pulau Meti sekali lagi, di situlah kepuasan benar-benar hadir.
"Kalau tamu ingin datang lagi, berarti mereka puas. Itu yang menjadi ukuran keberhasilan kami," katanya.
Meti Cottage kini memiliki delapan unit bangunan dengan total sebelas kamar yang disewakan kepada wisatawan. Tarif menginap berkisar Rp2,5 juta hingga Rp4,5 juta per malam, sementara gazebo dapat disewa mulai Rp750 ribu per malam.

Wisatawan yang tidak menginap pun tetap dapat menikmati kawasan ini dengan tiket masuk Rp100 ribu, termasuk minuman penyambutan serta pisang goreng yang disajikan bersama dabu-dabu atau sambal khas Meti.
Pengalaman di Meti Cottage juga dilengkapi sajian kuliner lokal berbahan hasil kebun dan laut Halmahera Utara, mulai dari pisang, ubi, aneka sayuran hingga makanan laut segar. Sebagian besar wisatawan datang dari Tobelo dan berbagai daerah di Maluku Utara, terutama saat musim laut tenang yang membuat penyeberangan menuju Pulau Meti semakin nyaman.
Mungkin itulah alasan mengapa banyak orang ingin kembali ke Meti Cottage. Bukan semata karena pasir putihnya, laut sebening kristal, atau bangunan-bangunan yang fotogenik. Di pulau kecil di timur Tobelo ini, pengunjung menemukan menemukan ketenangan dan alam yang tetap terjaga.
Selain menikmati pantai, wisatawan juga dapat merasakan keindahan bawah laut Pulau Meti. Pengelola menyediakan penyewaan berbagai perlengkapan renang dan snorkeling, mulai dari kacamata snorkeling seharga Rp50 ribu per unit, hingga baju renang, celana renang, dan sepatu renang yang masing-masing dapat disewa dengan tarif Rp25 ribu per item. Fasilitas ini memudahkan pengunjung yang datang tanpa membawa perlengkapan pribadi untuk tetap menikmati jernihnya laut Meti.

Menariknya, seluruh hasil penyewaan perlengkapan tersebut tidak menjadi keuntungan pengelola. Adhi mengatakan, seluruh dana yang terkumpul disalurkan untuk membantu sekolah-sekolah yang membutuhkan, baik di Kabupaten Halmahera Utara maupun di sejumlah daerah lain di Indonesia.
Bagi Meti Cottage, setiap wisatawan yang menyewa perlengkapan renang bukan hanya membawa pulang pengalaman menikmati keindahan laut, tetapi juga ikut berkontribusi menghadirkan manfaat bagi dunia pendidikan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....