Merawat Denyut Asa Lewat Lembaran Kain di Rumah Tenun Rapidino

  • 21 Jul 2026 15:40 WIB
  •  Ternate

RRI.CO.ID, Ternate - Di bawah ritme ketukan alat kayu tradisional yang saling beradu, helai demi helai benang perlahan menyatu membentuk berbagai motif. Di sebuah sudut Kota Ternate, Rumah tenun Rapidino terus berjuang menjaga denyut nadi tradisi yang telah bertahan selama lebih dari empat dekade. Namun, di balik keindahan kain bermotif lokal tersebut terselip kecemasan akan masa depan warisan leluhur ini, siapakah yang akan meneruskannya ketika para senior tak lagi mampu menenun?

Hj. Sehat Lamasila selaku pengelola Rumah Tenun Rapidino (Kain yang rapih), mengatakan, kain tenun miliknya kini telah berbadan hukum yayasan, sekaligus memutar kembali memorinya saat pertama kali ia mengenal seni tenun. Ia belajar merangkai sejak duduk di bangku SMA sekitar 42 tahun yang lalu.

Bagi dirinya dan 10 pengrajin lain yang masih bertahan di rumah tenun rapidino, menenun bukanlah sekedar mata pencaharian melainkan identitas budaya yang melekat erat dengan tanah Maluku Kie Raha.

"Harapan saya, supaya generasi muda seperti kalian mahasiswa jangan putus harapan. Bila suatu saat punya gelar tapi belum punya pekerjaan, usahakan cari kerja yang mandiri. Kalau boleh, belajarlah menenun. Ini juga masa depan," ujarnya. Pesan tersebut mencerminkan kerinduan mendalam agar anak-anak muda Ternate tidak memandang sebelah mata kerajinan tenun sebagai profesi yang usang, melainkan sebagai peluang wirausaha budaya yang berharga.

Menenun bukan sekadar melintaskan benang, melainkan merajut seni dan ketelitian tinggi. Setiap lembar kain melalui proses panjang, mulai dari Penggulungan benang (klos), penghanian, pencucukan pada gun, penyisiran, hingga penyetelan benang agar seimbang.

Kesalahan kecil dalam penyetelan dapat membuat kain tidak tercipta sempurna. Untuk satu helai kain bermotif rumit, dibutuhkan waktu 3 hari pengerjaan bahkan bisa ber minggu-minggu tergantung tingkat kefokusan pengrajin. Kain-kain tersebut dibalut dengan ragam motif khas daerah, seperti cengkeh, pala, kora-kora, potong wajik, hingga iris pondak.

Tak hanya itu, nilai estetika kain kian bernilai tinggi dengan sentuhan pewarnaan alami yang ramah lingkungan. Bahan-bahan dari alam sekitar seperti kunyit, daun ketapang, buah manggis, buah pala, hingga air asin dan kapur sirih direbus selama 3 hingga 4 jam bersama kain untuk menghasilkan warna kuning, ungu, coklat keemasan hingga kemerahan yang khas.

Kain tenun sepanjang 4 meter ini dipasarkan dengan harga berkisar Rp1.800.000 hingga Rp2.000.000, tergantung pada kerumitan motif serta jenis bahan pewarna yang digunakan.

"Dulu bahan baku benang sangat sulit, harus dicari sampai ke Toko Manado sebelum akhirnya toko itu tutup sekitar tahun 2000-an. Sekarang bahan baku sudah lebih mudah didapatkan, tetapi tantangan barunya justru pada regenerasi," ucapnya.

Meski kini telah mendapat kemitraan dan pembinaan dari Bank Indonesia (BI) serta dinas terkait, keberlanjutan Rumah Tenun Rapidino Ternate menghadapi tantangan besar, minimnya minat anak muda untuk menekuni kerajinan ini. Dari puluhan anggota yang terdaftar, tidak banyak yang bertahan dan konsisten berkarya.

Agus, salah satu pekerja mengungkapkan bahwa tantangan dalam pekerjaan ini adalah susahnya mendapatkan tenaga kerja, padahal setiap hasil tenunan mereka selalu habis terjual, baik ke masyarakat umum, wisatawan, hingga ke pejabat daerah. Selain menjadi jalan kemandirian ekonomi, menenun adalah cara nyata menjaga identitas daerah agar tidak punah ditelan zaman.

Harapannya anak-anak muda bisa lebih fokus dan mau belajar. Budaya tenun Ternate harus terus ditingkatkan supaya masyarakat luas dan generasi mendatang semakin kenal dengan budayanya sendiri.

Perjalanan panjang para penenun di Ternate membuktikan bahwa ketekunan, kemauan belajar, dan rasa cinta pada budaya lokal mampu menciptakan karya bernilai tinggi yang diakui pasar. Tenun bukan lagi sekadar warisan masa lalu yang berdebu, melainkan sebuah peluang usaha mandiri yang menjanjikan bagi generasi muda yang kreatif dan berani mengambil peran.

Setiap lembar kain yang ditenun adalah ikhtiar menjaga tradisi sekaligus membuka jalan masa depan. Kini, giliran generasi muda untuk meneruskan estafet tersebut mengambil kayu tenun, menyusun benang, dan menenun masa depan budaya mereka sendiri. (Mahasiswa PPL IAIN Ternate -Herlina & Hikmah).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....