Kalaodi, Kampung Penjaga Hutan di Lereng Kie Matubu
- 24 Mei 2026 11:49 WIB
- Ternate
RRI.CO.ID, Tidore – DI LERENG timur Gunung Kie Matubu, Pulau Tidore, berdiri sebuah kampung yang menawarkan panorama alam sekaligus kearifan lokal yang masih terjaga hingga kini. Kampung Kalaodi, atau dikenal masyarakat setempat disebut “Sekalaodi” memiliki makna “petunjuk” dalam Bahasa Tidore. Berada di ketinggian sekitar 900 meter di atas permukaan laut, kampung ini juga dikenal sebagai “kampung di atas awan”.
Dari kawasan ini, hamparan Pulau Halmahera tampak jelas di sisi timur. Sementara di bagian barat, panorama Pulau Maitara dan Pulau Ternate menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Udara sejuk pegunungan dan kabut kerap menyeliputi kawasan ini menambah pesona Kalaodi sebagai salah satu destinasi berbasis alam dan budaya di Kota Tidore Kepulauan.
Kalaodi terdiri dari empat lingkungan utama yang dipisahkan oleh kawasan perkebunan, yakni Lingkungan Dola yang menjadi pusat pemerintahan kelurahan, Lingkungan Kola, Lingkungan Golili atau Gulili, serta Lingkungan Suwom (Swom).

Akses menuju wilayah Kalaodi, Kecamatan Tidore Timur dapat ditempuh melalui dua jalur utama, yakni jalur Rum–Fobaharu serta jalur Kelurahan Cobodoe. Untuk jalur melalui Kelurahan Cobodoe, waktu tempuh perjalanan diperkirakan sekitar satu jam. Sementara itu, jalur Rum–Fobaharu relatif lebih singkat dengan estimasi waktu tempuh berkisar antara 20 hingga 30 menit dengan menggunakan kendaraan roda dua.
Memasuki kawasan, disuguhi hamparan perkebunan pala, cengkih, kayu manis, serta berbagai tanaman konservasi yang menjadi penyangga ekosistem kawasan itu.
Sesampainya di Kalaodi, suasana kampung yang asri langsung terasa. Kicauan burung dari hutan yang masih terjaga berpadu dengan aktivitas warga yang sebagian besar menggantungkan hidup dari sektor perkebunan. Namun, yang menarik dari kampung ini adalah kuatnya tradisi masyarakat dalam menjaga kelestarian alam.
Salah satu warisan budaya yang masih dipertahankan hingga kini adalah ritual Paca Goya. Tradisi ini dilaksanakan setelah musim panen sebagai bentuk syukur sekaligus pengingat bagi masyarakat untuk menjaga keseimbangan alam. Selama tiga hari seluruh warga diwajibkan menghentikan aktivitas, termasuk berkebun dan pekerjaan lainnya, sebelum pelaksaan ritual.

Tokoh adat Kalaodi, Sulfi Husen dari Lingkugan Golili, mengatakan bahwa sistem pelestarian hutan yang diterapkan masyarakat bukanlah sesuatu yang baru. Nilai-nilai tersebut telah diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur dan masih dipatuhi hingga sekarang.
“Menjaga alam sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kalaodi sejak dahulu. Pengelolaan hutan dilakukan secara bersama-sama dan tidak boleh sembarangan. Setelah panen padi maupun jagung, masyarakat berkumpul dalam ritual Paca Goya. Di situ ada pesan-pesan untuk anak cucu agar tidak menebang pohon secara sembarangan,” ujar Sulfi, saat temui di kediamannya, Sabtu 16 Mei 2026.
Menurut Sulfi, masyarakat memahami bahwa kerusakan hutan di kawasan pegunungan akan berdampak langsung pada wilayah pesisir. Kesadaran itulah yang membuat warga tetap menjaga kawasan hutan sebagai sumber kehidupan bersama.
Ia juga menjelaskan bahwa pada tahun 1973 Kalaodi pernah menjadi lokasi program penghijauan. Saat itu masyarakat mulai beralih dari menanam jagung ke tanaman bernilai ekonomi dan konservasi seperti cengkih dan pala yang hingga kini menjadi komoditas utama warga. Pelaksanaan Paca Goya tidak memiliki jadwal melainkan mengikuti musim panen. Ritual tersebut digelar di lokasi khusus.
“Selama ritual berlangsung, masyarakat tidak melakukan aktivitas apa pun. Tradisi ini membutuhkan suasana yang tenang. Selain itu, Paca Goya juga menjadi momentum silaturahmi karena warga Kalaodi yang berada di luar kampung akan pulang untuk berkumpul bersama keluarga dan masyarakat,” kata Sulfi.
Banga eno, Bukti Hutan Kalaodi Masih Terawat

Jojau Kesultanan Tidore, Ishak Naser, menjelaskan bahwa berbagai ritual adat yang berlangsung di Kalaodi merupakan urusan marga setempat sehingga tidak ada campur tangan langsung dari Kesultanan Tidore. Peran kesultanan lebih pada penetapan norma yang menjadi pedoman masyarakat.
Menurut Ishak, di wilayah Kalaodi terdapat kawasan hutan yang dikenal sebagai Banga Eno. Dalam bahasa Tidore, eno berarti sampah. Kawasan ini berada di sisi kiri tebing sebelum memasuki Kantor Kelurahan Kalaodi. Pada masa lalu, wilayah tersebut menjadi habitat rusa dan hingga kini tetap terjaga kelestariannya.
“Pohon tidak bisa ditebang. Bahkan masyarakat dilarang membuka kebun di kawasan itu,” ujarnya.
Ia menjelaskan, letak Banga Eno yang berada di kawasan puncak membuat lapisan serasah daun dan bahan organik terus menumpuk di permukaan tanah. Tumpukan alami tersebut membentuk lapisan tanah yang subur sekaligus berfungsi menjaga keseimbangan ekosistem hutan.
Saat hujan turun, unsur hara dari material organik meresap ke dalam tanah dan membantu mempertahankan kesuburan serta daya serap air. Kondisi ini membuat kawasan hutan tetap lestari. Di bawah kawasan Banga Eno terdapat salah satu mata air yang dikenal sebagai Ake Saragi, yang dalam bahasa Tidore berarti air yang suaranya bergema menyerupai bunyi gong.
Hingga kini, sumber mata air tersebut tetap jernih karena tutupan hutan di sekitarnya masih terpelihara dengan baik. “Kejernihan Ake Saragi menjadi bukti bahwa Kalaodi masih lestari dan berfungsi menjaga keseimbangan lingkungan bagi masyarakat,” katanya.
Terpisah, Wali Kota Tidore Kepulauan, Muhammad Sinen, mengatakan bahwa masyarakat Tidore terus merawat kearifan lokal yang berkaitan erat dengan pelestarian lingkungan, salah satunya yang masih terjaga di Kalaodi. “Bicara kearifan lokal tidak terlepas dari masalah lingkungan. Menjaga lingkungan agar terhindar dari banjir dilakukan di Tidore melalui kolaborasi seluruh elemen masyarakat,” katanya.
Di tengah perubahan zaman dan berbagai tantangan lingkungan, Kalaodi menjadi contoh bagaimana masyarakat mampu menjaga keseimbangan antara kebutuhan hidup dan kelestarian alam. Tradisi yang diwariskan leluhur tidak hanya menjadi identitas budaya, tetapi juga benteng yang menjaga hutan tetap hijau dan kehidupan masyarakat tetap lestari dari generasi ke generasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....