Papua dan Cerita di Balik Logo HUT Haltim ke-23

  • 19 Mei 2026 10:43 WIB
  •  Ternate

HUJAN turun perlahan sore itu di Kota Maba. Rintiknya membasahi halaman Kantor Stasiun Relay RRI Maba, membuat suasana mendadak tenang. Di teras kantor kecil itu, beberapa teman jurnalis duduk santai sambil menyeruput kopi dan menulis berita.

Di salah satu sudut ruangan, Iksan Kakiet duduk santai sambil menyeruput kopi. Pria yang akrab disapa Papua atau Paps itu baru saja menyelesaikan desain logo Hari Ulang Tahun ke-23 Kabupaten Halmahera Timur tahun 2026.

Percakapan awalnya sederhana. Tentang hujan, kesibukan liputan dan persiapan HUT Haltim yang mulai terasa di berbagai sudut kota. Namun tak lama kemudian, Papua mulai bercerita tentang logo yang baru selesai didesainnya.

Tangannya sesekali menunjuk gambar logo di layar iPad nya. Sorot matanya terlihat serius ketika menjelaskan setiap warna dan simbol yang ada di dalam desain tersebut.

“Logo ini bukan hanya gambar biasa,” katanya pelan. “Saya ingin ada cerita Haltim di dalamnya.”

Papua merupakan jurnalis kelahiran Subaim, 9 April 1988. Di balik profesinya sebagai pewarta, ia ternyata memiliki ketertarikan besar pada dunia desain grafis. Kemampuan itu dipelajarinya secara otodidak sejak lama.

Bagi Papua, mendesain logo HUT daerah bukan sekadar memenuhi kebutuhan visual sebuah perayaan. Ia ingin logo itu menjadi simbol perjalanan Halmahera Timur yang terus tumbuh sejak dimekarkan tahun 2003 silam.

Karena itu, ia memilih beberapa warna utama yang dianggap memiliki makna kuat tentang Haltim.

Logo HUT ke-23 Kabupaten Halmahera Timur, Tahun 2026 yang didesain Iksan Kakiet (Foto: Dokumentasi Iksan Kakiet for RRI)

Warna hijau, menurutnya, melambangkan kesuburan. Sebuah gambaran tentang tanah Halmahera Timur yang kaya dan memiliki potensi besar di sektor pertanian maupun perkebunan.

Sementara warna merah dipilih sebagai simbol keberanian. Papua menyebut Haltim harus menjadi daerah yang berani mengambil sikap dalam berbagai keadaan.

“Merah itu tentang keberanian masyarakat dan pemerintah menghadapi tantangan,” ujarnya.

Ada pula warna kuning yang melambangkan kemakmuran. Ia berharap Haltim terus berkembang menjadi daerah yang memberi kesejahteraan bagi masyarakatnya.

Sedangkan warna hitam dimaknai sebagai simbol keilmuan. Menurut Papua, pembangunan daerah tidak cukup hanya mengandalkan sumber daya alam, tetapi juga membutuhkan manusia yang berpengetahuan. Warna itu juga digunakan pada tulisan tema HUT Haltim ke-23 yakni “Harmoni untuk Pembangunan Berkelanjutan”.

Selain warna, terdapat simbol padi dalam desain logo tersebut. Papua menjelaskan, padi menjadi penanda bahwa Halmahera Timur merupakan salah satu lumbung pangan di Provinsi Maluku Utara.

Di bagian lain terdapat simbol Coka Iba, identitas budaya yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat Haltim.

“Coka Iba itu bagian dari falsafah hidup orang Haltim,” katanya. “Di situ ada nilai Fagogoru ngaku re rasai, budi re bahasa, mtait re miymoi.”

Baginya, simbol budaya itu penting dimasukkan agar logo tidak kehilangan identitas lokal. Sebab Haltim bukan hanya tentang pembangunan, tetapi juga tentang adat, kebersamaan dan nilai hidup masyarakatnya.

Sementara angka 23 dibuat menonjol sebagai penanda usia Kabupaten Halmahera Timur yang kini memasuki tahun ke-23 sejak resmi dimekarkan pada 2003 lalu.

Di tengah suara hujan yang masih terdengar di atap seng kantor RRI, Papua terus bercerita tentang proses desain yang dilaluinya. Ia mengaku beberapa kali mengganti konsep sebelum akhirnya menemukan bentuk yang dianggap paling sesuai.

Tidak ada ruangan khusus atau meja kerja mewah. Ide-ide itu lahir di sela aktivitas liputan, malam yang panjang, hingga obrolan sederhana tentang Haltim yang terus berkembang.

“Saya hanya ingin karya ini punya arti bagi daerah,” ucapnya sambil tersenyum kecil.

Bagi Papua, menjadi bagian dari HUT Haltim ke-23 melalui sebuah logo merupakan kebanggaan tersendiri. Apalagi karya itu kini hadir di baliho, spanduk dan berbagai media publikasi resmi pemerintah daerah.

Hujan akhirnya mulai reda. Langit Maba perlahan kembali terang. Papua menutup percakapan sore itu dengan sederhana, seperti caranya memulai cerita.

“Semoga logo ini bisa menjadi semangat untuk Haltim yang lebih baik,” katanya dengan senyum.

Dan sore itu, di Kantor Stasiun Relay RRI Maba, sebuah logo ternyata bukan hanya soal desain. Ia menjadi cerita tentang kecintaan seorang anak daerah terhadap tanah kelahirannya sendiri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....