'Sigi Kolano': Menjaga Napas Sejarah di Jantung Kesultanan Tidore
- 12 Mei 2026 11:09 WIB
- Ternate
RRI.CO.ID, Tidore - SENIN sore jelang petang turun perlahan di ufuk barat. Angin berembus pelan menyisir wajah Soa-Sio. Langit seolah merunduk, menyalakan cahaya temaram di atas tanah yang menjadi induk Kota Tidore Kepulauan.
Di jantung Soa-Sio berdiri kokoh Masjid Kesultanan Tidore. Dalam bahasa lokal, masyarakat menyebutnya Sigi Kolano atau masjid sang penguasa. Masjid ini bukan sekadar rumah ibadah, melainkan penanda kejayaan Kesultanan Tidore yang pernah menggetarkan samudra dan mengharumkan rempah hingga ke benua-benua jauh.
Bangunannya menghadap jalan raya yang nyaris tak pernah sepi, menjadi saksi langkah warga dan pelancong yang lalu-lalang. Kubahnya berwarna biru seperti langit, sederhana, tampak kokoh dan memancarkan wibawa.
Dibangun pada 1700 pada masa pemerintahan Sultan Djamaluddin, masjid ini telah melampaui lebih dari tiga abad perjalanan sejarah. Selama rentang waktu itu, Sigi Kolano beberapa kali mengalami perubahan, terutama pada bagian atap.

Awalnya, atap masjid terbuat dari alang-alang sederhana, kemudian berganti daun rumbia, hingga akhirnya menggunakan seng yang lebih kokoh. Setiap perubahan seperti menjadi babak baru dalam perjalanan panjang masjid ini, yang semakin tua, namun tak kehilangan jiwa.
Pada periode 1725–1750, masjid ini dikenal sebagai sigi palang dengan atap alang-alang dan daun rumbia. Rentang 1750–1884, rumbia tetap setia menaunginya.
Memasuki 1884–1914, atap seng mulai digunakan. Pada 1979, seng diperbarui kembali. Hingga akhirnya, pada 2006, renovasi total dilakukan, bukan untuk menghapus jejak lama, melainkan menjaga nyala sejarah agar tetap hidup.
Jojau Kesultanan Tidore, Ishak Naser, menuturkan masjid tersebut memang telah beberapa kali dipugar. Namun, sejumlah bagian asli tetap dipertahankan sebagai penanda sejarah yang tak tergantikan waktu.
“Bangunan asli yang masih tertinggal seperti sebagian pagar masjid, kemudian sumur dan tempat wudhu. Itu yang masih asli, meskipun beberapa materialnya sudah diberi lantai keramik,” ujar Ishak, begitu diwawancarai RRI, Selasa, 30 April 2026. Menurutnya, pelestarian dilakukan agar generasi hari ini tetap dapat melihat jejak awal berdirinya Sigi Kolano.
Suasana hening terasa ketika tim liputan RRI menanggalkan alas kaki dan memasuki ruang utama masjid. Mata tertuju pada lubang-lubang kecil menyerupai jendela yang menjadi penunjuk arah kiblat. Sederhana, tetapi sarat makna.

Struktur bangunan masjid ditopang empat pilar utama yang berdiri tegap menyangga atap. Pilar-pilar itu menyimbolkan empat sahabat Nabi Muhammad SAW: Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali, fondasi nilai yang menopang iman.
Arsitektur masjid pun menyatu dengan Kedaton Kesultanan Tidore. Kubahnya bersusun tiga membentuk kerucut. Di puncaknya, sebuah tiang menjulang tinggi, laksana telunjuk yang mengarah ke langit.
Ishak Naser mengatakan, bentuk arsitektur asli masjid sejatinya masih dapat ditelusuri hingga kini. Hanya saja, perkembangan zaman membuat sejumlah material lama harus diganti dengan bahan yang lebih modern demi menjaga ketahanan bangunan.
“Arsitekturnya juga masih bisa ditelusuri seperti yang terlihat sekarang, hanya bahan materialnya saja yang diganti dengan bahan modern saat ini,” katanya. Baginya, pergantian material bukan berarti menghilangkan ruh sejarah, melainkan bagian dari ikhtiar merawat warisan agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Sebagai salah satu ikon Kota Tidore Kepulauan, masjid ini telah ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya melalui Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.20/PW/007/MKP/2007 tertanggal 26 Maret 2007. Namun jauh sebelum pengakuan administratif itu hadir, masyarakat telah lebih dahulu menobatkannya sebagai pusaka jiwa.
Di tengah deras arus teknologi dan perubahan sosial, Kesultanan Tidore kini menghadapi tantangan baru. Yakni menjaga tradisi agar tetap dipahami generasi muda. Anak-anak muda, kata Ishak, perlu diajak mengenal kembali hukum adat dan nilai-nilai lama yang dahulu menjadi pedoman hidup masyarakat Tidore.
“Kalau berbicara tantangan ya sudah pasti. Karena penerapan aturan dalam masjid itu masih mengacu pada perkembangan Islam saat itu, disesuaikan dengan perkembangan ilmu fikih pada masanya dan masih dipertahankan sampai sekarang,” ujar Ishak.
Ia menegaskan, mempertahankan tradisi bukan berarti menutup diri terhadap perubahan, melainkan menjaga keaslian sejarah agar tidak hilang ditelan zaman. “Dipertahankan ini bukan karena menganggap inilah yang paling benar, tetapi menjaga keasliannya saja,” katanya.
Senja kian larut. Cahaya keemasan menyentuh dinding biru masjid, membuatnya tampak bercahaya di ujung sore sebelum gelap tiba.
Masjid Kesultanan Tidore tetap berdiri kokoh, sebagai penjaga ingatan dan penenun sejarah. Sigi Kolano menjadi saksi bahwa di tanah kecil bernama Soa-Sio, iman dan kebudayaan pernah bertaut erat, dan terus hidup, meski zaman bergerak tanpa henti.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....