Jejak Sang Geolog, Ternate Kehilangan Abdul Kadir D. Arief

  • 03 Mar 2026 11:47 WIB
  •  Ternate

RRI.CO.ID, Ternate – Senin sore, 2 Maret 2026, bertepatan dengan 13 Ramadan, jelang waktu berbuka, langit Kota Ternate seolah ikut merunduk. Kabar duka itu menyebar cepat dari satu layar ponsel ke layar lainnya.

Abdul Kadir D. Arief berpulang. Media sosial mendadak riuh oleh ucapan kehilangan, doa, dan kenangan tentang sosok yang selama ini akrab disapa Dedi Arief.

Kepergiannya terasa begitu mengejutkan. Di mata banyak orang, ia adalah geolog yang tak pernah lelah berbicara tentang bumi, tentang patahan dan lapisan tanah, tentang ancaman dan harapan di wilayah cincin api.

Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAIGI) Maluku Utara dan akademisi di Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU) Ternate itu dikenal bersahaja. Ia adalah sosok yang begitu teguh dan tak pernah berhenti menyalakan semangat keilmuan, terutama dalam mitigasi kebencanaan.

Bagi Dedi, geologi bukan sekadar disiplin ilmu. Ia adalah napas kehidupan.

Lahir di Ternate, 17 November 1979, Abdul Kadir Dahlan Arief, S.T., M.Eng., tumbuh bersama lanskap vulkanik dan situs-situs geologi yang menjadikan Maluku Utara seperti laboratorium alam terbuka. Hampir tak ada hari tanpa diskusi atau bacaan tentang struktur bumi yang mengisi waktunya.

Ia aktif mengawal usulan geopark di Maluku Utara, meyakini bahwa kekayaan geologi daerahnya bukan hanya warisan alam. Tetapi juga peluang edukasi dan kesejahteraan.

Di balik usianya yang baru 46 tahun, ia telah mengabdikan 21 tahun masa kerja sebagai dosen tetap di UMMU. Sejak pertama kali diangkat pada 1 April 2005 hingga berpangkat Penata III/C dengan jabatan fungsional Lektor pada 2025.

Abdul Kadir D. Arief di Mata Rektor UMMU

Di lingkungan kampus, Dedi bukan sekadar pengajar. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Laboratorium Geologi Program Studi Teknik Pertambangan UMMU sejak 2022.

Baginya, tri dharma perguruan tinggi bukan slogan administratif, melainkan panggilan moral. Ia mendampingi mahasiswa bukan hanya di ruang kelas, tetapi juga di lapangan, di lereng, di batuan panas, di hamparan alam terbuka.

Rektor UMMU, Ranita Rope, mengenang almarhum sebagai sosok kreatif, aktif, inovatif, dan menjunjung tinggi nilai kebersamaan serta etika kemuhammadiyahan. “Beliau memastikan mahasiswa percaya diri. Bahwa kuliah di Maluku Utara tidak membuat mereka kalah bersaing dengan lulusan luar daerah,” ujarnya.

Bahkan, secara pribadi, Ranita menyebut, tak banyak yang tahu bahwa Ia dan Dedi memliki hubungan keluarga yang kental, karena semasa kecil sama-sama menghabiskan waktu di Kelurahan Kasturian, Kota Ternate. Ranita mengenang, Dedi adalah sosok adik yang cerdas seorang yang sejak kecil sudah menunjukkan bakat, termasuk di dunia sepak bola.

Abdul Kadir D. Arief di Mata Wali Kota Ternate

Dedikasi Dedi tak berhenti di kampus. Ia aktif dalam kegiatan kemanusiaan, termasuk bersama Palang Merah Indonesia. Ia juga terlibat dalam penanganan tanggap darurat bencana di Kota Ternate. Keahliannya kerap menjadi rujukan pemerintah daerah dalam membaca risiko dan merumuskan langkah mitigasi.

Wali Kota Ternate, M. Tauhid Soleman, menyebut almarhum sebagai sosok berjasa yang mengantarkan objek wisata Batu Angus ditetapkan sebagai warisan geologi nasional. Bahkan sebelum wafat, Dedi dipercaya sebagai tenaga ahli Wali Kota Bidang Geologi.

Menurut Tauhid, apa yang dimiliki Dedi adalah sebuah keahlian langka di Maluku Utara. “Ini adalah amal jariyah beliau,” kata Tauhid, menyampaikan terima kasih atas nama pribadi, keluarga dan pemerintah daerah.

Di balik kiprah akademik dan pengabdian publiknya, Dedi adalah seorang suami dan ayah. Ia meninggalkan seorang istri dan satu anak, keluarga kecil yang menjadi pusat pengabdiannya selain kampus dan daerah tercinta. Hingga akhir hayat, ia masih aktif berdiskusi tentang kemajuan lembaga dan pengembangan kerja sama untuk membesarkan UMMU.

Kini, Ternate tak hanya kehilangan seorang geolog, tetapi juga penjaga nurani kebencanaan. Ia adalah pendidik yang menanamkan keyakinan, dan putra daerah yang membuktikan bahwa dari tanah vulkanik Maluku Utara, lahir insan-insan besar dengan mimpi yang tak pernah padam.

Di bulan suci Ramadan, kepergiannya menjadi duka yang dalam. Sekaligus pengingat bahwa jejak ilmu dan kebaikan akan selalu tinggal, bahkan ketika langkah telah berhenti.

Rekomendasi Berita