Seledri Halim Tumbuh Lebih Hijau di Lereng Gamalama
- 27 Feb 2026 06:23 WIB
- Ternate
RRI.CO.ID, Ternate - Di kaki Gunung Gamalama, tepatnya di Kelurahan Moya, Kecamatan Ternate Tengah, Kota Ternate, hidup seorang petani seledri bernama Halim Nurdin. Lahan yang ia kelola tak luas, namun di situlah harapan tumbuh setiap pagi bersama embun yang menempel di daun-daun hijau.
Bertahun-tahun Halim menanam seledri dengan cara yang ia kenal sejak lama. Ia tekun, disiplin, dan tak pernah setengah hati merawat tanamannya. Namun hasil panen kerap tak sesuai harapan. Daunnya kurang lebar, batangnya tak cukup kokoh, dan ukuran yang tidak seragam membuat harga jual di pasar rendah. Kerja kerasnya belum sepenuhnya berbuah manis.
Perubahan bermula ketika Penyuluh Pertanian Kelurahan Moya memperkenalkan pupuk biokonversi dan pupuk organik cair (POC) dari kotoran ayam. Program tersebut dipraktikkan bersama kelompok tani setempat, didampingi Junior Agronomis PT Bio Agromitra serta PJI dari Wahana Visi Indonesia.
Bagi Halim, gagasan itu terdengar menjanjikan, namun juga mengundang ragu. Ia terbiasa menggunakan pupuk kimia dan khawatir pupuk organik tak mampu memberi hasil optimal. Meski demikian, keinginannya memperbaiki kualitas panen mendorongnya mengambil langkah berani mencoba.
Kepada rri.co.id, Kamis 26 Februari 2026, Halim menceritakan dengan pendampingan intensif, Halim mulai mengaplikasikan pupuk biokonversi pada media tanam sebelum penanaman. Setelah bibit tumbuh, ia rutin menyemprotkan POC kotoran ayam yang telah matang setiap pekan ke daun, batang, hingga permukaan tanah. Proses itu dijalaninya dengan disiplin.
Beberapa pekan kemudian, perubahan nyata terlihat. Daun seledri tumbuh lebih hijau dan lebar. Batangnya tegak dan kuat. Tanah di sekitar tanaman terasa lebih gembur dan subur. Kebun kecilnya seperti mendapatkan energi baru.
Melihat hasil tersebut, Halim tak ragu memperluas area tanam. Ia juga mulai memanfaatkan pupuk biogranul untuk memperkuat nutrisi tanaman. Tiga bulan berselang, panen pun tiba dengan hasil yang berbeda dari sebelumnya.
Kini, dalam sepekan ia dapat memanen dua kali. Setiap kali petik menghasilkan 50–60 ikat seledri. Satu ikat berisi lima tangkai dan dijual di Pasar Higienis Gamalama dengan harga Rp4.000 per ikat. Dari sekali panen, ia mampu meraup Rp200 ribu hingga Rp240 ribu.
Pendapatannya tak lagi bertumpu pada seledri semata. Dari ternak ayam kampung yang ia pelihara yang juga menjadi sumber bahan POC Halim memperoleh tambahan penghasilan Rp100 ribu hingga Rp150 ribu per ekor.
Perlahan, kehidupan Halim berubah. Kebunnya bukan hanya ruang produksi, tetapi juga laboratorium kecil pembelajaran. Dari tanah yang sama, ia memanen pengalaman: bahwa keberanian mencoba adalah pintu menuju perubahan.
“Jika ingin berhasil maka harus berani mencoba. Jika sudah mencoba, hasil yang diperoleh dapat diterapkan untuk usaha yang sekarang dan akan datang,” ujar Halim, menatap barisan seledri yang kini tumbuh lebih segar di lereng Gamalama.