Menyusuri Keheningan dan Pesona Goa Bokimoruru di Sagea

  • 06 Feb 2026 13:50 WIB
  •  Ternate
RRI.CO.ID, Sagea - SUARA jangkrik saling bersahutan di balik rimbun pepohonan, seperti nyanyian alam yang setia menyambut setiap langkah menuju Goa Bokimoruru. Irama sunyi itu menjadi pembuka perjalanan kami ke sebuah ruang tenang yang tersembunyi di Desa Sagea, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara.
Goa Bokimoruru menjadi penutup manis agenda liputan tim RRI. Selama tiga hari sebelumnya, kami berkutat dengan hiruk-pikuk kawasan industri PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP). Maka pada hari terakhir, enam orang dari tim liputan sepakat memberi jeda, meninggalkan sejenak bunyi mesin dan lalu lalang pekerja yang selama tiga hari akrab di pandangan kami.

Perjalanan darat selama sekitar 40 menit ditempuh dengan kendaraan roda empat. Waktu seolah melambat, hingga akhirnya laju kendaraan melaju pelan, pertanda tujuan kian dekat.

Di area parkir yang seadanya, kami turun dan membayar retribusi masuk Rp10 ribu per orang. Kendaraan roda empat dikenai tarif parkir Rp10 ribu, sementara roda dua Rp5 ribu. Namun, titik ini hanyalah awal.

Langkah kaki kami berlanjut menyusuri jalur setapak selama kurang lebih lima menit. Rasa lelah yang sempat singgah mendadak luruh begitu pandangan pertama dari jauh tertuju pada Sungai Goa Bokimoruru.

Bahkan sebelum benar-benar tiba, gemercik airnya yang lirih sudah lebih dulu menyapa telinga. Hati pun tak sabar ingin menggenggam pesona Bokimoruru dari jarak yang lebih dekat.

Air sungai yang bening dengan gradasi hijau tosca mengalir tenang dan menyatu harmonis dengan bebatuan karst yang menjulang tinggi. Sementara pepohonan tumbuh kokoh di sela-sela batu, menjaga keseimbangan lanskap. Tatapan kami terpaku dan takjub tanpa kata.

Untuk menyusuri lorong gua dan menikmati pahatan alami di dinding-dindingnya, pengunjung dapat menyewa perahu ketinting atau kano. Perahu ketinting dibanderol Rp100 ribu per jam dengan kapasitas maksimal lima orang, sementara kano lengkap dengan dayung dapat disewa seharga Rp50 ribu per jam.

Di sekitar lokasi, lapak-lapak UMKM turut hadir. Menawarkan makanan ringan, sebagai pelengkap sederhana bagi perjalanan yang berkesan.

Kami menyewa dua perahu, membagi tim menjadi dua kelompok kecil. Bagi sebagian besar dari kami, ini adalah pengalaman pertama. Rasa penasaran bercampur antusiasme mengiringi langkah saat perahu perlahan didorong ke tengah sungai.

Menggunakan jasa perahu ketinting, Tim Liputan RRI Ternate bergerak menyusuri keindahan Goa Bokimoruru. (Foto: Ryan Ahmad/RRI).

Dayung bergerak pelan, haluan berputar, lalu mesin ketinting dihidupkan. Pandangan kami terangkat ke bebatuan di tepian sungai yang menjulang tinggi, menaungi aliran air yang tenang. Rerumputan dan pepohonan kecil tumbuh subur di dinding karst, menambah nuansa hijau dan sejuk di dalam gua.

Tak lama kemudian, sebuah lorong menyeruak di hadapan, berbentuk terowongan, gelap pekat, nyaris tanpa celah cahaya. Mesin ketinting dimatikan, suasana hening seketika. Perahu kembali digerakkan oleh dayung, menyusuri lorong sunyi itu.

Gemercik air terdengar lebih jelas, memantul di dinding batu, menciptakan kesyahduan yang sulit dilukiskan. Kami terdiam, larut, seolah benar-benar menyatu dengan alam.

Dalam gelap yang sendu, tangan refleks merogoh ponsel, berusaha mengabadikan momen yang terasa begitu berharga. Dari balik kegelapan, kelelawar beterbangan riang, seakan menyambut para tamu yang datang menikmati keindahan rumah mereka.

Helda, salah satu anggota tim liputan RRI, tak mampu menyembunyikan rasa takjub. Ini adalah kali pertamanya menginjakkan kaki di Desa Sagea sekaligus menjelajahi Goa Bokimoruru.

“Airnya hijau, jernih, dan dingin. Rasanya ingin sekali berenang. Tapi karena waktu kami singkat, mungkin di lain kesempatan,” ujarnya sambil tersenyum.

Hal serupa dirasakan Ryan Ahmad, anggota tim liputan RRI Ternate asal Pacitan, Jawa Timur. Menurutnya, keasrian Goa Bokimoruru memiliki daya tarik yang kuat bagi siapa saja yang berkunjung.

“Bokimoruru tempatnya asri. Begitu masuk, langsung disuguhkan pemandangan sungai yang indah. Airnya hijau khas, dan guanya menjadi tujuan utama sekaligus daya tarik wisata ini,” ujarnya.

Goa Bokimoruru bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah ruang hening tempat alam berbicara dengan caranya sendiri. Pengalaman singkat di sini meninggalkan kesan mendalam, cukup untuk membuat siapa pun ingin kembali.

Salah satu potret keindahan Goa Bokimoruru. (Foto: RRI/Dhavi Baba).

Di balik keindahan itu, ada denyut kehidupan warga yang bergantung pada setiap keindahan sungai Bokimoruru. Idham, warga setempat pemilik jasa perahu ketinting, menuturkan bahwa aktivitas wisata di gua ini telah menjadi mata pencaharian utama mereka.

Saat ini tersedia lima perahu ketinting, puluhan kano, serta life jacket bagi pengunjung yang ingin menyusuri gua atau sekadar berenang. “Pengunjung tidak selalu ramai," kata dia.

"Di hari biasa, penghasilan sekitar Rp300 sampai Rp400 ribu. Tapi saat akhir pekan, bisa lebih dari Rp1 juta per hari,” ucap Idham, sembari melempar senyum singkat.

Meski penghasilan tak menentu, Idham dan rekan-rekannya tetap mensyukuri apa yang ada. Di balik rasa syukur itu, terselip harapan besar akan kelestarian Goa Bokimoruru. Ia berharap pemerintah turut menjaga keberadaan gua ini, terlebih di tengah maraknya industri pertambangan di Halmahera Tengah.

“Saya berharap destinasi ini tetap terjaga keindahannya, tidak terganggu oleh maraknya industri ekstraksi. Supaya sumber air dan segala kekayaan alam dari gua ini bisa dinikmati oleh anak cucu kita nanti,” katanya lirih, sedikit tegas.

Goa Bokimoruru pun menjadi pengingat bahwa di tengah laju pembangunan, alam masih menyimpan ruang-ruang sunyi yang layak dijaga. Tempat ini hadir sebagai lokasi manusia belajar tentang keseimbangan, dan tentang rasa kagum yang sederhana, namun menetap lama di dalam ingatan.

Rekomendasi Berita