Tanjung Bongo: Pesona yang Bertahan, Harapan Menunggu Perhatian
- 29 Des 2025 11:48 WIB
- Ternate
KBRN,Ternate: Desir angin pantai pagi itu menyapa lembut, seolah menjadi salam pembuka perjalanan kami di pesisir Pelabuhan Galela. Laut membentang tenang, memantulkan cahaya matahari yang baru naik, menemani langkah tim liputan Natal RRI Ternate yang pagi itu menapaki utara Halmahera.
Tepat pukul 09.00 WIT, setelah sekitar 20 menit perjalanan darat dari Kota Tobelo, hamparan biru toska tiba-tiba menyergap pandangan. Warna laut yang jernih dan menenangkan itu menjadi gerbang alami menuju Tanjung Bongo.
Destinasi wisata unggulan di utara Halmahera ini berada di pusat Kota Galela, tepatnya di Desa Pune, Kecamatan Galela, Kabupaten Halmahera Utara. Akses yang mudah membuat perjalanan terasa singkat dan tak melelahkan.
Namun begitu tiba, suasana seakan membawa siapa pun keluar dari rutinitas. Sunyi yang ramah, debur ombak yang pelan, serta bentang alam yang nyaris tak tersentuh membuat Tanjung Bongo kerap dijuluki wisatawan sebagai “Raja Ampat mini”.
Julukan itu bukan tanpa alasan. Dari ketinggian, gugusan pulau-pulau karang kecil tampak tersusun alami, menyerupai lukisan alam yang mengingatkan pada pesona Raja Ampat di Papua Barat.
Sejak viral sekitar tahun 2018, Tanjung Bongo menjelma magnet wisata baru. Magnet yang menarik pelancong lokal hingga mancanegara.

Tim Liputan RRI Ternate mengabadikan momen di Tanjung Bongo, Kamis (25/12/2025). (Foto: RRI).
Untuk sampai ke gugusan pulau-pulaunya, pengunjung harus menyeberang sekitar lima menit menggunakan perahu fiber yang oleh warga setempat disebut taksi Tanjung Bongo. Dengan tarif Rp20.000 per orang pulang-pergi, perjalanan singkat itu menjadi bagian dari pengalaman wisata bahari yang sederhana namun berkesan.
Kekaguman itu pula yang dirasakan Zaki, Ketua Tim Liputan RRI, saat pertama kali menjejakkan kaki di Tanjung Bongo. Puluhan pulau karang kecil terhampar nyata di hadapan mata, membuat tangan refleks meraih kamera.
“Destinasinya indah, lautnya jernih, cocok untuk berenang atau snorkeling. Sayangnya, waktu kami terbatas,” ujarnya, seolah menyesali singkatnya kesempatan menikmati surga kecil ini.
Secara visual, Tanjung Bongo memang memanjakan mata. Bebatuan vulkanik yang ikonik, pulau-pulau karang yang eksotis, serta gradasi warna laut menjadi latar favorit berswafoto.
Di bawah permukaan air, terumbu karang dan ikan warna-warni berenang bebas, menjanjikan pengalaman snorkeling dan diving yang tak terlupakan.
Namun, di balik keindahan itu, tersimpan cerita yang membuat hati sedikit tercekat. Fasilitas dasar yang dulu menjadi penopang utama wisata kini tampak renta.
Dermaga dan jembatan kayu penghubung antar-pulau hancur dimakan usia. Cottage-cottage yang pernah berdiri megah, kini sebagian tenggelam dan tak lagi layak digunakan.

Tampak dari jauh, bangunan cottage yang telah renta dimakan usia. (Foto: RRI).
Suci, salah seorang pengunjung, mengenang masa ketika Tanjung Bongo berada di puncak kejayaannya. “Dulu tempat ini ramai dan sangat bagus,"
"Jembatan kayu itu jadi spot foto favorit. Sekarang sudah rusak, tidak bisa dilewati lagi,” ucap Suci.
Sepinya pengunjung membawa dampak langsung bagi warga pesisir yang menggantungkan hidup dari pariwisata. Salah satunya In, pemilik taksi Tanjung Bongo, nada suaranya berubah pelan saat mengenang masa lalu.
“Dulu sehari bisa dapat Rp1 juta sampai Rp2 juta. Sekarang, dapat Rp100 ribu sampai Rp150 ribu saja sudah syukur,” ujarnya.
Saat Tanjung Bongo viral, jumlah perahu taksi mencapai sekitar 40 unit. Kini, yang tersisa hanya tujuh.
Sebagian terpaksa dijual karena pengunjung kian berkurang. Padahal, selain mengantar wisatawan, In juga menggantungkan hidup sebagai nelayan.
“Setiap hari masih ada wisatawan, bahkan dari luar negeri. Tapi tidak seramai dulu,” katanya.

Satu dari 7 perahu (taksi) Tanjung Bongo yang tersisa. (Foto: RRI).
In menjelaskan, fasilitas dasar Tanjung Bongo awalnya dibangun oleh pemerintah daerah. Namun setelah rusak, perawatan tak lagi berlanjut.
Warga sempat memperbaiki jembatan secara swadaya, dengan peralatan seadanya. Sayangnya, usia bangunan dan intensitas penggunaan membuat upaya itu tak bertahan lama.
Kini, harapan kembali disematkan pada perhatian pemerintah.
“Kalau fasilitas dibenahi, pengunjung pasti kembali ramai, ekonomi warga juga bisa hidup lagi,” ucap In, matanya menerawang ke arah laut.
Harapan serupa juga disampaikan Kepala Desa Pune, Kecamatan Galela, Said Toboleu. Ia mengakui, operasional objek wisata Tanjung Bongo berada di bawah tanggung jawab pemerintah desa.
Dalam musyawarah bersama warga, rencana pembangunan fasilitas permanen berbahan beton terus dibahas. Meski belum sepenuhnya menemui kata sepakat.
“Pengembangan fasilitas dasar Tanjung Bongo menjadi prioritas kami di tahun 2026 dan akan dikelola secara profesional,” ujar Said optimistis. “Insyaallah, jika terealisasi, ekonomi masyarakat bisa kembali menggeliat.”
Tanjung Bongo sejatinya tak pernah kehilangan keindahannya. Lautnya tetap jernih, gugusan karangnya masih memesona, dan keramahan warga pesisir tak pernah pudar.
Yang kini dibutuhkan hanyalah sentuhan kepedulian, agar Tanjung Bongo tak sekadar menjadi kenangan indah masa lalu. Melainkan kembali menjadi ruang hidup dan harapan bagi masyarakat Galela.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....