Alif, Tunas Muda Bahasa Ternate dari Pulau Hiri

  • 21 Nov 2025 16:58 WIB
  •  Ternate

KBRN, Ternate: Di depan ruang kelas sederhana di SMP Negeri 10 Kota Ternate, seorang anak berusia dua belas tahun tanpa sadar menjadi penjaga masa depan bahasa daerahnya. Alif Harus, begitu namanya, siswa kelas VII asal Kecamatan Pulau Hiri, kini menjadi buah bibir di media sosial.

Bukan karena aksi ekstrem atau tingkah nyeleneh seperti kebanyakan konten viral, tetapi karena sesuatu yang jauh lebih berharga. Yakni, kefasihannya bercakap dalam bahasa Ternate, lengkap dengan gestur luwes, mimik lucu, dan keluguan khas anak pulau.

Video Alif bersama rekan sekelasnya, Maharani, ketika berbincang dalam bahasa Ternate, tersebar luas di TikTok hingga Facebook. Warganet pun ikut terpikat.

Ada yang bangga, ada yang terharu, ada pula yang merasa tersentil. Bahasa ibu yang mulai ditinggalkan ternyata hidup di bibir seorang bocah dari seberang pulau.

Tak hanya video itu, rekaman lain saat ia diwawancarai guru tentang program Makan Bergizi Gratis (MBG) ikut viral. Dalam kefasihannya berbahasa Ternate, ia kerap melontarkan cerita-cerita jenaka yang semakin mengokohkan daya tariknya.

Dunia maya tertawa. Tetapi juga belajar dari cara Alif menjaga identitas.

Viralnya Alif membuat banyak pihak ingin mengenalnya lebih dekat, termasuk RRI Ternate yang mengundang siswa polos itu ke program Bacarita Pagi, Jumat (21/11/2025). Bersama gurunya, ia duduk di studio Pro 4 RRI, ditemani pejabat Dinas Pendidikan Kota Ternate, Nurlela Sarbin, yang hadir untuk memberikan apresiasi.

Di udara pagi itu, Ipe sapaan akrabnya menceritakan kisah sederhana yang membentuk kepiawaiannya berbahasa daerah. “Saya belajar dari orang tua,” ujarnya dalam bahasa Ternate yang lancar, tanpa ragu, tanpa jeda.

Kebiasaan bertutur menggunakan bahasa Ternate ia sampaikan, telah dilakukannya sejak kecil, sebelum masa sekolah. “Dari kecil, di rumah semua berbahasa Ternate, jadi saya menjadi terbiasa berbahasa Ternate," ucap Alif yang bercita-cita menjadi koki itu.

Di rumah, Alif tumbuh dalam kehangatan bahasa Ternate yang menjadi bahasa utama keluarganya. Bahasa Ternate, kata Alif, digunakan berdampingan dengan bahasa melayu Ternate dan bahasa Indonesia, bahkan di lingkungan pergaulan pun sama.

Di Pulau Hiri, sebagian besar masyarakat masih setia bertutur dengan bahasa Ternate dalam percakapan sehari-hari. Maka tak heran, anak bungsu dari pasangan Taeba dan Harus ini fasih bukan sekadar karena belajar, tetapi karena hidup dalam bahasa itu.

Guru SMP Negeri 10, Fitriyani Tinamba, membenarkan hal tersebut. “Anak-anak di lingkungan Alif masih fasih bahasa Ternate asli,” ujarnya.

“Walau di sekolah kami tidak ada mata pelajaran bahasa daerah, kehidupan sehari-hari tetap memakai bahasa Ternate. Itu yang membuat mereka tidak kehilangan kemampuan berbahasa daerah," ucap Fitriyanti.

Kemampuan seperti yang dimiliki Alif kini menjadi sesuatu yang mulai langka, terutama di tengah arus modernisasi yang menyapu kota-kota besar. Banyak anak seusianya tak lagi menggunakan bahasa daerah, bahkan tak memahaminya.

Bahasa ibu yang seharusnya menjadi akar budaya perlahan memudar dan terancam punah. Karena itu, Alif menyampaikan pesan untuk teman-teman sebaya.

“Anak-anak sekarang jangan malu pakai bahasa daerah Ternate. Orang tua juga harus ajarkan, supaya tidak punah.” ucap Alif, dengan nada santai tapi tegas.

Apa yang diutarakan Alif, menjadi pesan sederhana dari seorang bocah dua belas tahun. Namun, pesan tersebut bisa mengandung makna dan kekuatan yang lebih besar, bahkan dari sebuah kampanye.

Upaya pelestarian bahasa Ternate sendiri sebenarnya telah lama dilakukan pemerintah. Nurlela Sarbin menjelaskan bahwa Pemkot Ternate melalui Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2003 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Dalam Perda itu, Pemkot telah menetapkan bahasa Ternate sebagai muatan lokal yang diwajibkan di sekolah dasar. Bahkan sejak 2012, mata pelajaran ini sudah diajarkan di tingkat SD dengan kurikulum serta silabus resmi dari Dinas Pendidikan.

Secara nasional, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mencatat ada 718 bahasa daerah di Indonesia. Namun hingga 2025, sebagian di antaranya telah mengalami kemunduran dan terancam punah.

Di Maluku Utara saja terdapat 19 bahasa daerah, dan sebagian besar kini berada dalam kondisi memprihatinkan. Karena itu, Balai Bahasa Provinsi Maluku Utara sejak 2022 menggencarkan program revitalisasi.

Hingga 2025, delapan bahasa daerah telah direvitalisasi, termasuk bahasa Ternate, Buli, Tobelo, Sula, Sahu, Makian Dalam, Makian Luar, dan Bacan. “Revitalisasi menjadi ruang bagi tunas-tunas baru bahasa daerah,” kata Kepala Balai Bahasa Provinsi Maluku Utara, Nukman.

Kini, tunas bahasa daerah itu, tampaknya mulai tumbuh di Pulau Hiri. Dan salah satunya melalui anak yang ceplas-ceplos bernama Alif itu.

Di tengah derasnya modernisasi, kehadiran Alif seperti angin segar. Ia mengingatkan bahwa bahasa daerah bukan sekadar alat bertutur, tetapi rumah bagi identitas.

Warisan yang tidak boleh dilepas. Juga tidak boleh dibiarkan tenggelam di antara gempuran teknologi dan budaya global.

Alif mungkin tidak menyadari perannya, tetapi lewat kefasihannya, ia telah menjadi cermin. Bahwa pelestarian bahasa tidak selalu dimulai dari kelas atau peraturan pemerintah.

Bahasa daerah harus dilestarikan dari rumah, dari kebiasaan, dan dari keberanian anak kecil untuk tetap menjadi dirinya. Dan di Pulau Hiri, pada diri seorang bocah dua belas tahun, bahasa Ternate menemukan harapan untuk tetap hidup lebih lama.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....