Nenek Fatma Akhirnya Tinggal di Rumah Layak Huni
- 21 Nov 2025 13:25 WIB
- Ternate
KBRN, Ternate: Di sudut sebuah gang sempit Kelurahan Makassar Barat, Kota Ternate, berdiri rumah beton berukuran 6x6 meter yang nyaris rampung. Catnya belum sepenuhnya kering, dan pintu permanen belum terpasang, namun senyum seorang perempuan paruh baya memancarkan cahaya yang lebih hangat dari bangunan itu sendiri.
Namanya Fatma Dara, 57 tahun. Hari-harinya dulu dihabiskan dalam sebuah gubuk kecil berdinding tripleks tipis dan seng bekas, yang hanya cukup untuk menghindari hujan dan panas. Tapi hari ini berbeda. Di depan rumah barunya, matanya berkaca-kaca.
“Saya sangat bersyukur. terima kasih Ibu Gubernur. Kondisi rumah saya sudah berubah jauh sekali. Saya biar tinggal di gubuk juga sudah bersyukur, apalagi sekarang sudah jadi seperti ini,” ucapnya lirih kepada rri.co.id, menahan haru.
Fatma adalah salah satu penerima manfaat Program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang digagas Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda dan Wakil Gubernur Sarbin Sehe. Melalui bantuan senilai Rp50 juta yang dikelola Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Provinsi Maluku Utara, rumah Fatma kini berdiri kokoh, hampir siap ditempati.

Rumah Fatma Dara, di Kampung Makassar Barat, Ternate, sebelum dibangun Pemprov Maluku Utara.(Foto: RRI/Yudi).
Sejak 2017, Fatma hidup seorang diri di gubuk kecil itu. Dinding tripleksnya dipaku seadanya agar tidak terlihat rapuh dari luar. Jika hujan turun deras, ia memilih duduk semalaman agar air tidak membasahi tempat tidurnya.
Meski hidup dalam keterbatasan, ia tidak pernah mengeluh."Rezeki orang itu beda-beda. Saya jalani saja. Sesekali dapat bantuan dari kelurahan,” ucapnya sambil tersenyum tipis.
Untuk bertahan hidup, Fatma membuka warung kelontong kecil di depan rumahnya. Ia menjual sabun, kopi sachet, hingga kue kering, sekadar menyambung hidup dan membayar kebutuhan harian.

Rumah Nenek Fatma setelah dibangun. Kadis Perkim Musrifah Alhadar bersama tim saat lakukan peninjauan lapangan.(Foto: RRI/Yudi).
Kepala Dinas Perkim Malut, Musrifah Alhadar, yang ditemui terpisah mengatakan pekerjaan rumah Fatma telah mencapai 95 persen."Pekerjaan beratnya sudah selesai, tinggal finishing. Tidak lama lagi bisa ditempati,” katanya.
Ia menegaskan bahwa program ini diprioritaskan bagi masyarakat desil 1 hingga 4 sesuai basis data DTSEN."Ibu Gubernur selalu menekankan, penerima harus benar-benar yang membutuhkan,” ucapnya.
Untuk tahun 2025, Pemprov Malut mengalokasikan 700 unit RTLH, melalui tiga pola Bangun Baru, Rehabilitasi, dan Dapur Sehat.
Sebelum percakapan berakhir, Fatma menyampaikan doa untuk orang yang mengubah hidupnya."Saya titip salam untuk Ibu Sherly. Semoga diberi kelancaran dalam tugas dan selalu sehat,” ucapnya sambil menyeka mata.
Di halaman kecil itu, berdiri sebuah rumah 6x6 meter tidak besar bagi sebagian orang, namun bagi Fatma, itu adalah simbol keadilan sosial, kesempatan hidup yang lebih layak, dan jawaban atas doa panjang di atas lantai tripleks yang dulu sering basah oleh hujan.