Menembus Pekat Malam demi Mamoa
- 20 Agt 2025 13:12 WIB
- Ternate
KBRN, Halmahera Utara: Hembusan angin dari luasnya laut di depan mata tidak menyurutkan langkah demi langkah untuk menyusuri pasir pantai. Setiap langkah harus dipertimbangkan dengan matang agar tidak menghasilkan suara gaduh, tidak ada cahaya bantuan, hanya sinar rembulan yang menjadi panduan.
Sesekali kami berbisik untuk memastikan suara yang berasal dari kejauhan. "Apakah itu suara Mamoa"? tanya saya kepada seorang pemuda yang menjadi pemandu untuk melihat secara langsung salah satu satwa endemis Maluku Utara di habitatnya.
Itulah secuil kisah pengalaman dalam melakukan liputan lapangan untuk mendokumentasikan Burung Gosong Maluku (Eulipoa wallacei) di Desa Simau, Kecamatan Galela, Halmahera Utara, Minggu (10/8/2025). Saya didampingi Suhardi Abdul Gafur (31), Ketua Komunitas Salabia yang bergerak dalam perlindungan satwa endemis berstatus rentan tersebut.

Menembus pekat malam dan kawasan mangrove untuk mencapai habitat Gosong Maluku.Foto: RRI/Mario Panggabean
Suhardi menyampaikan bahwa satwa yang memiliki nama lokal Mamoa atau Salabia ini memiliki banyak keunikan. Salah satunya dengan bertelur di dalam pasir yang sebelumnya telah digali.
Selain bertelur di dalam pasir, Suhardi juga mengatakan keunikan lainnya bahwa satwa endemis itu memiliki kecerdasan. "Selain bertelur di dalam pasir, burung ini juga memiliki keunikan dengan menggali lubang jebakan untuk memperdaya predator agar tidak mendapatkan telurnya," ucap Suhardi pemuda Desa Simau yang tergerak untuk menyelamatkan Mamoa sejak 2018 lalu.
Satwa Endemis Berstatus Rentan dan Unik
Gosong Maluku (Eulipoa wallacei) yang juga disebut dengan Moluccan scrubfowl merupakan satwa endemis Kepulauan Maluku. Naturalis dan penjelajah asal Inggris, Alfred Russel Wallace mencatat penemuan pertamanya dengan Gosong Maluku di Maluku Utara pada tahun 1858.
Mengenang jasanya, pada 1860, ilmuwan G.R Gray melekatkan Wallace dalam nama ilmiah satwa yang sangat sensitif dengan suara dan cahaya tersebut.
Satwa endemis berjenis Burung Gosong yang berukuran kecil dengan panjang sekitar 31 cm, menjadi satu – satunya spesies di dalam genus tunggal Eulipoa dan satu- satunya dari jenis Burung Gosong yang diketahui bertelur pada malam hari.
“Momoa masih berkerabat dengan Maleo. Mereka termasuk dalam kelompok Megapoda yaitu burung berkaki besar yang mempunyai telur besar dan tidak mengerami telurnya,” ujar Jihad, Bird Conservation Officer Burung Indonesia, mengutip artikel Mongabay 13 Desember 2015.

Habitat Gosong Maluku di pesisir Galela. Satwa endemis Kepulauan Maluku ini hanya bertelur di malam hari. Tampak pemilik lahan yang menjadi habitat Gosong Maluku mengambil telur di lubang pasir tempat satwa tersebut bertelur. Di Desa Simau sendiri, pemilik lahan telah memiliki cukup kesadaran, mereka tidak mengambil secara keseluruhan telur yang diambil. Telur yang di dapat sebagian akan diserahkan kepada komunitas untuk dilakukan penetasan dan dikembangbiakkan. Foto: RRI/Mario Panggabean
Kakinya yang besar dipergunakan untuk mencari makan maupun menggali sarang. Gosong Maluku sekilas memiliki kemiripan dengan ayam kampung dengan ukuran tubuh antara 33-34 cm, bulu cokelat, tungging putih, serta kaki cokelat kekuningan.
Habitat hidup satwa ini berada di hutan perbukitan dan hutan pegunungan yang berada di atas ketinggian 750mdpl. Meski hidup di hutan, satwa ini akan pergi ke pesisir pantai yang terpapar sinar matahari secara langsung untuk bertelur.
Satwa endemis ini memiliki kebiasaan yang unik. Buletin Oriental Bird Club berjudul “The Moluccan Scrubfowl” yang di tulis pada 25 Juni 1997 mencatat keunikan satwa tersebut.
Untuk bertelur, Gosong Maluku akan pergi ke pesisir pantai, menggali lubang pasir untuk bertelur, menutup kembali kemudian pergi terbang meninggalkan telurnya. Proses bertelur juga hanya dilakukan pada malam hari oleh induk betina.
Betina yang akan bertelur menggali pasir pantai hampir sedalam satu meter dan meletakkan telurnya di dalam lubang. Telur yang dihasilkan oleh seekor induk betina memiliki berat rata – rata 103 gram yang hampir mendekati ukuran telur angsa.
Padahal, ukuran induk burung ini hanya memiliki bobot sekitar 500 gram. Hal itu berarti, ukuran telur yang dihasilkan memiliki bobot sekitar 20 persen dari berat badan burung dewasa.
Selain itu, satwa endemis ini tidak mengerami telurnya, telur yang telah ditinggalkan di lubang pasir akan menetas dengan sendirinya. Ketika telur menetas, anakan Gosong Maluku akan menggali pasir untuk keluar dan mencapai permukaan dan segera pergi untuk mencapai hutan.
Telur Gosong Maluku Foto: RRI/Mario Panggabean
Data yang dipublikasi IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) mencatat bahwa satwa endemis tersebut masuk ke dalam “Daftar Merah IUCN” untuk spesies yang terancam pada tahun 2021 (Threatened Species). Selain itu, dalam aturan perlindungan di Indonesia, satwa tersebut juga telah dilindungi dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Kehutanan (Permen LHK) Nomor 106/2018.
Buah Konservasi
Atas usaha kerja keras para pemuda dan masyarakat yang ikut serta mendukung konservasi, Desa Simau kini menjadi salah satu destinasi ekowisata di Halmahera Utara. Tidak hanya wisatawan , para peneliti internasional yang ingin melalukan riset Gosong Maluku juga datang ke desa yang berada di pesisir Galela tersebut.
"Yang banyak datang malah dari luar negeri untuk mengambil dokumentasi burung seperti dari China, Australia, Amerika, Jepang, dan Eropa juga pernah datang," kata Suhardi yang memimpin komunitas yang telah menerima penghargaan Kehati - MU (Keanekaragaman Hayati - Maluku Utara) dua kali berturut - turut dari lembaga non profit berbasis perlindungan lingkungan, Burung Indonesia ini.
Suhardi juga mengungkap pendapat dan dukungan wisatawan yang jauh- jauh datang untuk melihat Gosong Maluku dan aktivitas perlindungan yang dilakukan oleh pemuda desa. "Mereka sangat senang dan takjub ketika melihat Mamoa atau Salabia secara langsung di habitatnya apalagi kalo mereka berhasil mendapatkan gambar burung, mereka sangat senang sekali," ungkapnya.

Kawasan mangrove di Desa Simau dengan latar belakang pegunungan yang menghijau indah. Foto: RRI/Mario Panggabean
Desa Simau juga tidak hanya menjadi salah satu habitat terbesar bagi Burung Gosong Maluku. Di desa ini juga merupakan kawasan pesisir yang cukup menjaga kawasan mangrove. Sehingga keindahan desa Simau semakin lengkap sebagai salah satu destinasi ekowisata berbasis pelestarian dan keindahan alam di pesisir Galela.
"Dari sini keindahan bukit - bukit yang mengelilingi Galela akan terlihat jelas, ada kawasan mangrove yang memiliki kawasan yang paling luas di wilayah Galela dan habitat satwa yang berada di kawasan mangrove," kata Suhardi mempromosikan keindahan dan keunikan desanya.
Rasa Khawatir
Sebagai penggerak konservasi yang tumbuh dari kesadaran, Suhardi memiliki rasa khawatir terhadap pengambilan telur Gosong Maluku. Meski, ia mengakui, pengambil telur tidak mengambil secara keseluruhan namun, rasa khawatirnya dilatarbelakangi oleh tingginya permintaan di pasaran.
"Kalo kita bicara konservasi, saya punya rasa khawatir akan punahnya burung ini karena melihat tingginya peminat telur ini sangat banyak malah sampai di luar Halmahera Utara," ujarnya dengan nada bergetar.
Ia juga menyampaikan minimnya keterlibatan pemerintah untuk ikut serta dalam perlindungan satwa endemis ini. "Sampai saat ini saya belum melihat adanya intervensi pemerintah untuk mencari solusi akan hal ini," ungkapnya.

Suhardi Abdul Gafur (31), Ketua Komunitas Salabia.Foto: RRI/Mario Panggabean
Terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Halmahera Utara, Yudhihart Noya menyampaikan bahwa telah menyampaikan kepada pemerintah desa untuk membatasi pengambilan telur. "Jika diambil sepuluh ya sisakanlah lima agar tidak punah," katanya, Senin (11/8/2025)
Alumnus sarjana Teologi ini juga menjelaskan bahwa pemerintah desa merupakan perpanjangan tangan dari pemerintah daerah. "Harusnya pemerintah desa paham bahwa mereka merupakan perpanjangan tangan dari pemerintah daerah untuk memberikan solusi di wilayahnya, kita ini Kadis Lingkungan banyak yang dikelola nah mereka (pemerintah desa) harusnya bisa menerapkan peraturan desa untuk melarang atau membatasi pengambilan telur Mamoa itu," ucap Yudhihart.
Sudah seharusnya semua pihak membuka mata atas anugerah hayati yang dimiliki Maluku Utara. Gosong Maluku merupakan satwa endemis yang hanya ada di Kepulauan Maluku sehingga sudah seharusnya menjaga dan melestarikannya.
Sudah terlihat bahwa melakukan perlindungan satwa tersebut ternyata mendatangkan manfaat. Namun, yang juga menjadi catatan penting, agar keunikan dan keindahan Gosong Maluku tidak hanya menjadi kisah pengantar tidur generasi nanti.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....