Inflasi Malut Tembus 5,85 Persen, Ikan Jadi Pemicu

  • 03 Mar 2026 15:51 WIB
  •  Ternate

RRI.CO.ID, Ternate - Tekanan harga kembali membayangi perekonomian Maluku Utara pada Februari 2026. Badan Pusat Statistik Provinsi Maluku Utara mencatat inflasi tahunan (year on year/y-on-y) sebesar 5,85 persen, mencerminkan kenaikan harga komoditas yang cukup luas di awal tahun.

Berdasarkan pemantauan di Kabupaten Halmahera Tengah dan Kota Ternate, Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 106,41 pada Februari 2025 menjadi 112,64 pada Februari 2026. Kenaikan ini menegaskan adanya tekanan harga yang berdampak langsung pada daya beli masyarakat.

Secara bulanan, inflasi Februari 2026 tercatat sebesar 0,83 persen (month to month/m-to-m). Sementara itu, inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) terhadap Desember 2025 mencapai 2,33 persen.

Angka tersebut menunjukkan tren kenaikan harga yang konsisten sejak awal tahun. Kondisi ini menjadi sinyal bagi pemerintah daerah untuk memperkuat pengendalian pasokan dan stabilisasi harga, terutama menjelang periode konsumsi tinggi.

Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Maluku Utara, Simon Sapary, menjelaskan inflasi y-on-y dipicu kenaikan pada delapan kelompok pengeluaran. Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mencatat lonjakan tertinggi sebesar 14,61 persen.

Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya meningkat 10,28 persen serta kelompok makanan, minuman, dan tembakau naik 7,96 persen. Kenaikan juga terjadi pada kelompok restoran, kesehatan, pakaian dan alas kaki, transportasi, serta perlengkapan rumah tangga.

"Di sisi lain, tiga kelompok pengeluaran justru mengalami deflasi. Kelompok pendidikan mencatat penurunan paling dalam sebesar 20,40 persen," kata Simon, ditulis Selasa, 3 Maret 2026.

Selanjutnya, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya turun 0,20 persen serta kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan turun 0,18 persen. Deflasi pada kelompok ini sedikit meredam tekanan inflasi secara keseluruhan.

Dari sisi komoditas, tarif listrik dan emas perhiasan menjadi penyumbang utama inflasi tahunan. Sejumlah komoditas perikanan seperti ikan malalugis, cakalang, tuna, tongkol, hingga ikan kembung turut memberikan andil signifikan terhadap kenaikan harga. Selain itu, bahan bakar rumah tangga, kontrak rumah, tarif angkutan udara dan laut, beras, sigaret kretek mesin (SKM), bawang merah, minyak goreng, martabak, hingga daging ayam ras juga memperkuat tekanan inflasi Februari 2026.

"Adapun komoditas yang menahan laju inflasi tahunan antara lain tarif sekolah menengah atas dan bensin. Sejumlah kebutuhan pokok seperti cabai merah, terong, pisang, sawi hijau, bawang putih, tomat, hingga tahu mentah turut menyumbang deflasi," ujarnya.

Secara bulanan, inflasi terutama dipicu kenaikan harga komoditas perikanan, emas perhiasan, tarif angkutan udara, serta sejumlah sayuran dan bahan pangan. Sementara itu, turunnya harga bensin, bawang merah, minyak goreng, bayam, ikan lolosi, hingga susu bubuk menjadi faktor penahan inflasi m-to-m di Maluku Utara pada Februari 2026.

Rekomendasi Berita