Menunggu “Mimyen” Sampai Fajar
- 09 Mei 2026 07:25 WIB
- Ternate
Catatan pertama berburu Mimyen bersama warga di pesisir Patani
SAYA masih mengingat dinginnya angin laut dini hari itu. Setelah menempuh perjalanan darat kurang lebih tiga jam dari Kota Maba, saya akhirnya tiba di Desa Gemia, Kecamatan Patani Utara, Kamis, 7 Mei 2026 sekitar pukul 03.00 Dini hari. Langit masih gelap, hanya diterangi cahaya bulan dan lampu-lampu kecil milik warga yang mulai memenuhi bibir pantai.
Awalnya saya datang hanya untuk meliput tradisi tahunan masyarakat pesisir, tradisi “Falo Laor”. Tetapi malam itu, saya tidak hanya menjadi penonton. Untuk pertama kalinya, saya ikut berdiri di air laut bersama warga, menunggu kemunculan laor sampai menjelang subuh.
Orang-orang Patani, Halmahera Tengah menyebutnya “Mimyen”. Sementara warga Halmahera Timur mengenalnya dengan nama “Men”. Hewan laut kecil itu hanya muncul pada waktu tertentu setiap bulan Mei, lalu menghilang kembali saat matahari terbit.
Di pantai, suasana terasa seperti pertemuan keluarga besar. Anak-anak berlarian sambil membawa ember kecil, para ibu duduk berkelompok di pasir, sedangkan para lelaki berdiri menghadap laut sambil memegang jaring sederhana.
Tidak ada panggung, tidak ada musik, tidak ada kemewahan. Hanya suara ombak, angin laut dan percakapan hangat antarwarga.

Yang membuat saya terkejut, warga yang datang bukan hanya dari Patani. Banyak masyarakat dari Maba Selatan seperti Peteley, Waci, Bicoli dan desa-desa sekitarnya juga ikut berburu laor malam itu. Seperti saya, mereka rela menempuh perjalanan darat berjam-jam hanya untuk mengikuti tradisi yang berlangsung semalam.
“Kalau musim Men, pasti ramai begini,” kata Aul, warga Gemia yang berada di samping saya sambil tersenyum.
Saya lalu mencoba ikut turun ke air. Air laut terasa dingin menyentuh kaki. Sesekali ombak kecil datang menghantam lutut.

Warga tampak sudah hafal arah arus dan tanda-tanda kemunculan Mimyen.
Waktu berjalan lambat. Jam demi jam dilewati dengan menunggu.
Yang menarik, tidak ada seorang pun terlihat bosan, mereka justru menikmati suasana itu. Ada yang bercanda, ada yang bercerita tentang pengalaman berburu laor tahun-tahun sebelumnya.
Dan di tengah gelapnya malam, saya merasakan sesuatu yang jarang ditemui di kota: kebersamaan yang sederhana.
Menjelang subuh, suasana tiba-tiba berubah. Dari kejauhan terdengar suara sorakan warga memecah malam.
“Uuuuuu… Popato!”
Teriakan itu bersahut-sahutan di sepanjang pantai, warga langsung bergerak mendekati bibir laut. Saya ikut panik dan berusaha mendekat. Di permukaan air, terlihat gerakan kecil mengikuti ombak, air yang tadinya gelap tampak berubah.
Saya kemudian diberi tahu bahwa “Popato” berarti laor sudah muncul. Sorakan itu bukan sekadar teriakan biasa, melainkan bagian dari suasana khas Falo Laor yang selalu dinantikan warga setiap tahun.
Konon, masyarakat percaya semakin ramai sorakan “Uuuuuu Popato” terdengar di pantai, maka Mimyen yang muncul juga akan semakin banyak.
Tanpa berpikir panjang, saya ikut menurunkan ember kecil ke air seperti warga lainnya. Tangan saya bergerak kikuk, jauh berbeda dibanding warga yang begitu cepat menangkap Mimyen menggunakan jaring kecil.

Beberapa kali saya gagal. Ombak datang lalu membawa Mimyen menjauh. Tetapi warga di sekitar justru tertawa melihat saya yang masih kebingungan.
“Bukan begitu, harus ikut arus!” teriak seorang pemuda sambil membantu saya.
Malam itu akhirnya saya berhasil mendapatkan Mimyen untuk pertama kalinya. Jumlahnya memang tidak banyak, tetapi pengalaman itu terasa lebih berharga dibanding hasil tangkapannya.
Saya mulai memahami bahwa Falo Laor bukan sekadar tradisi mencari makanan laut. Ada rasa kebersamaan yang sulit dijelaskan. Semua orang terlihat akrab meski sebagian bahkan tidak saling mengenal.
Yang paling saya ingat adalah momen menjelang matahari terbit. Perlahan langit berubah warna menjadi jingga. Cahaya pagi mulai menyentuh permukaan laut Gemia.
Bersamaan dengan itu, Mimyen yang sejak tadi memenuhi air perlahan menghilang dan kembali menyatu dengan laut.
“Kalau matahari sudah naik, selesai sudah,” kata seorang warga, Ibu Ija.
Dan benar saja. Dalam waktu singkat, permukaan laut kembali seperti biasa. Seolah tidak pernah ada keramaian besar beberapa menit sebelumnya.
Usai berburu, warga mulai kembali membawa ember berisi Mimyen. Saya diajak mampir ke rumah salah satu warga untuk melihat cara mengolah hasil tangkapan itu.

Sebagian Mimyen diolah menjadi gohu dengan campuran bawang, cabai dan perasan jeruk. Sebagian lagi digoreng bersama rempah-rempah sederhana. Makanan itu kemudian disantap bersama pisang goreng, singkong goreng dan ubi jalar hangat.
Rasanya sederhana, tetapi suasana makan pagi setelah semalaman berburu di laut membuat semuanya terasa berbeda.
Di situ saya juga baru mengetahui satu pantangan penting. Mimyen tidak boleh terkena air tawar karena akan rusak dan tidak bisa dikonsumsi lagi. Karena itu warga selalu menggunakan air laut saat membersihkan maupun mengolahnya.
Bagi saya pribadi, malam itu bukan sekadar liputan biasa. Saya datang sebagai reporter yang ingin melihat tradisi Falo Laor. Tetapi saya pulang dengan pengalaman yang lebih dalam tentang bagaimana masyarakat pesisir menjaga hubungan mereka dengan laut.
Di tengah perkembangan zaman, tradisi seperti ini mungkin terlihat sederhana. Namun justru dalam kesederhanaan itu tersimpan cerita tentang kebersamaan, tentang identitas masyarakat pesisir, dan tentang manusia yang masih setia menunggu laut memberikan berkahnya.
Dan ketika matahari pagi benar-benar tinggi di langit Patani, saya sadar satu hal: ada tradisi yang tidak cukup hanya dilihat dan ditulis. Tradisi seperti Falo Laor harus dirasakan langsung agar benar-benar dipahami.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....