Prodi Sejarah Unkhair Bedah Kondisi Geopolitik dan Dampaknya
- 08 Mar 2026 12:11 WIB
- Ternate
RRI.CO.ID, Ternate – Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Khairun (Unkhair) menggelar diskusi ilmiah bertajuk "Konflik Timur Tengah dan Dampak Perekonomian Indonesia" di Kampus II FIB Unkhair, Gambesi, Jumat, 6 Maret 2026. Kegiatan yang dirangkaikan dengan buka puasa bersama ini berlangsung khidmat dan diikuti ratusan mahasiswa.
Diskusi tersebut menghadirkan dosen Ilmu Sejarah, Nani Jafar, sebagai narasumber utama. Sejumlah dosen, alumni, dan mahasiswa turut hadir untuk memperdalam pemahaman tentang dinamika geopolitik Timur Tengah serta pengaruhnya terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.
Koordinator Program Studi Ilmu Sejarah FIB Unkhair, Jainul Yusup, dalam sambutannya menekankan pentingnya mahasiswa sejarah memahami fenomena global secara kritis. Menurutnya, konflik di Timur Tengah tidak dapat dilepaskan dari proses sejarah panjang yang melibatkan kolonialisme dan perebutan sumber daya.
Ia menjelaskan bahwa akademisi dan mahasiswa memiliki peran penting dalam membaca peristiwa kontemporer dengan perspektif historis. Dengan memahami akar sejarah konflik, mahasiswa diharapkan mampu melihat keterkaitan antara masa lalu dan kondisi geopolitik dunia saat ini.
Dalam pemaparan materi, narasumber membedah sejumlah aspek penting terkait konflik di Timur Tengah. Salah satunya adalah sejarah pembentukan batas wilayah pasca-Perang Dunia I yang hingga kini masih memicu sengketa kedaulatan di berbagai negara kawasan tersebut.
Selain itu, konflik berkepanjangan juga memicu krisis kemanusiaan berupa gelombang pengungsi dan perubahan kebijakan luar negeri negara-negara Muslim. Indonesia sendiri tetap konsisten menyuarakan perdamaian dan mendukung penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi sesuai amanat konstitusi.
Diskusi juga menyoroti dampak nyata konflik Timur Tengah terhadap perekonomian Indonesia. Nani Jafar menjelaskan bahwa ketegangan di jalur strategis seperti Selat Hormuz atau Laut Merah dapat mengganggu distribusi energi global.
Kondisi tersebut berpotensi memicu kenaikan harga minyak dunia, meningkatkan beban subsidi energi di Indonesia, serta memicu inflasi akibat naiknya biaya logistik dan distribusi barang impor.
Selain sektor energi dan logistik, konflik geopolitik juga berdampak pada stabilitas nilai tukar rupiah. Ketidakpastian global sering membuat investor mengalihkan aset mereka ke instrumen yang dianggap lebih aman.
“Sejarah mengajarkan bahwa tidak ada konflik yang benar-benar terlokalisasi di era globalisasi. Apa yang terjadi di Palestina atau Teluk bisa terasa hingga ke pasar tradisional di Ternate dan Maluku Utara,” ujar Nani Jafar dalam diskusi tersebut.
Setelah sesi diskusi berakhir, kegiatan dilanjutkan dengan buka puasa bersama antara dosen dan mahasiswa. Suasana kebersamaan terasa hangat saat azan magrib berkumandang di area FIB Kampus II Gambesi.
Hidangan takjil khas Ternate turut melengkapi momen tersebut, sekaligus menjadi ruang diskusi santai lanjutan di luar forum resmi. Interaksi ini mempererat hubungan emosional antar sivitas akademika.
Ketua Program Studi Ilmu Sejarah menutup kegiatan dengan harapan agar forum diskusi ilmiah seperti ini dapat digelar secara rutin. Menurutnya, kegiatan akademik semacam ini penting untuk melatih mahasiswa berpikir kritis terhadap dinamika global.
Ia juga menegaskan bahwa mahasiswa sejarah harus mampu menjadi analis yang tajam terhadap peristiwa masa lalu. Dengan begitu, mereka dapat memahami kompleksitas tantangan masa depan secara lebih komprehensif.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....