Dakwah Digital Perlu Etika dan Ilmu

  • 06 Jan 2026 11:36 WIB
  •  Ternate

KBRN,Ternate: Fenomena pendakwah digital yang lebih mengejar viralitas dibandingkan kedalaman pesan kembali menjadi sorotan. Akademisi komunikasi menilai, jika tren ini dibiarkan, masa depan dakwah berisiko kehilangan nilai keilmuan dan keteladanan.

Dosen Komunikasi Penyiaran Islam, DR.Salehudin Mattawang,M.Ag mengatakan bahwa media sosial memang membuka peluang besar bagi dakwah untuk menjangkau generasi muda. Namun, ia mengingatkan bahwa popularitas tidak boleh menjadi tujuan utama.

“Di masa depan, ruang digital akan semakin padat oleh konten. Tidak semua yang viral membawa kebenaran, dan tidak semua yang tenang berarti tidak penting,” ujarnya dalam diskusi literasi digital, Selasa (6/01/2025).

Menurutnya, dakwah adalah amanah moral dan intelektual. Ketika pendakwah hanya berfokus pada jumlah penonton, likes, dan komentar, pesan dakwah berpotensi dipermudah secara berlebihan, bahkan disalahartikan.

“Lebih baik pertumbuhannya pelan, tapi berintegritas. Dakwah yang kuat dibangun dari kejujuran ilmu, bukan sensasi,” tegasnya.

Ia juga mengajak generasi muda untuk tidak sekadar menjadi konsumen konten, tetapi mampu berpikir kritis terhadap pesan yang diterima. Setiap unggahan, kata dia, memiliki dampak jangka panjang terhadap cara berpikir dan bersikap masyarakat.

“Jika suatu hari kita memiliki pengaruh di ruang digital, sekecil apa pun itu, ingatlah bahwa yang akan dikenang bukan seberapa terkenal kita, tetapi seberapa bermanfaat jejak yang kita tinggalkan,” tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....