Menata Ulang Paradigma Manusia di Era AI
- 19 Agt 2025 21:02 WIB
- Ternate
KBRN, Ternate: Diskusi reflektif program Tamu Kita membahas ulang paradigma generasi di tengah derasnya kecerdasan buatan. Acara digelar Selasa (19/8/2025) melalui platform zoom dengan menghadirkan dua narasumber dari bidang berbeda.
Tema diskusi kali ini, “Manusia, Makna, dan Masa Depan: Menata Ulang Paradigma Generasi di Era AI”. Pertanyaan utama yang muncul, apakah manusia masih memahami dunia dan kemanusiaan secara utuh di tengah banjir informasi.
Akademisi Universitas Jayabaya, Rheinatus A. Beresaby menyoroti tantangan berpikir dengan pola lama menghadapi persoalan zaman modern. Menurutnya, manusia sering gagal membedakan mana dunia dan mana manusia dalam pusaran informasi.
“Kita sering memecahkan masalah hari ini dengan pola pikir masa lalu,” kata Rheinatus dalam pemaparannya. Ia menegaskan bahwa pola kuno kerap mengaburkan orientasi makna manusia di tengah perkembangan teknologi mutakhir.
Sementara itu, Nadir Wardana, aktivis NGO kesehatan dan alumni Universitas Indonesia, menyoroti potensi besar AI dalam layanan publik. Ia menekankan, teknologi bisa mempercepat pelayanan kesehatan, namun tetap mengandung risiko depersonalisasi manusia.
“Teknologi memang bisa mengoptimalkan pelayanan, tetapi jika mengabaikan nilai kemanusiaan, kita hanya terjebak dalam efisiensi,” kata Nadir. Menurutnya, keseimbangan antara etika dan teknologi sangat penting untuk tetap menjaga relasi antar manusia.
Nadir juga menegaskan bahwa penggunaan AI harus diiringi dengan kesadaran etik yang kokoh. Tanpa itu, sistem otomatisasi berisiko menggantikan interaksi manusia yang seharusnya tetap menjadi prioritas utama.
Kedua narasumber sepakat bahwa tantangan generasi bukan sekadar memahami teknologi. Lebih jauh, generasi kini dituntut merekonstruksi paradigma baru tentang hakikat manusia dalam kehidupan modern berbasis kecerdasan buatan.
Rheinatus mengingatkan bahwa manusia harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan pesat. “Kita harus update, relevan, dan adaptif. AI berkembang terus, manusia pun wajib tumbuh dalam makna dan kesadaran,” ucapnya tegas.
Diskusi ini memberi perspektif bahwa kemajuan teknologi seharusnya ditempatkan sebagai alat, bukan tujuan akhir. AI yang bijak digunakan akan mendukung masa depan yang tetap menjaga nilai kemanusiaan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....