BPS: Tingkat Pengangguran Laki-Laki Perkotaan Meningkat
- 27 Jul 2025 20:39 WIB
- Ternate
KBRN, Ternate: Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan tren mengkhawatirkan dalam kondisi sosial ekonomi di wilayah perkotaan Indonesia. Tingkat pengangguran laki-laki di daerah perkotaan tercatat mengalami kenaikan, dari 5,87% pada Agustus 2024 menjadi 6,06% pada Februari 2025. Peningkatan ini menjadi sinyal kuat adanya tekanan ekonomi yang semakin berat bagi rumah tangga, terutama yang bergantung pada pendapatan pria sebagai tulang punggung keluarga.
Situasi ini berbanding lurus dengan lonjakan jumlah penduduk miskin yang hidup di wilayah perkotaan. BPS mencatat, pada Maret 2025 jumlah penduduk miskin meningkat sekitar 0,07% dibandingkan data terakhir pada September 2024. Angka ini setara dengan total sekitar 23,85 juta orang miskin di seluruh Indonesia.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa banyak kepala keluarga, khususnya laki-laki, yang kehilangan mata pencaharian dan gagal mengakses peluang kerja di kota. Akibatnya, tekanan hidup bagi keluarga miskin semakin berat. Tanpa sumber pendapatan utama, mereka terjebak dalam lingkaran kemiskinan yang makin sulit diputus.
Selain itu, beban biaya hidup di perkotaan yang tinggi turut memperparah dampaknya. Keluarga yang kehilangan nafkah utama terpaksa mengurangi konsumsi, menunda pendidikan anak, hingga berutang untuk memenuhi kebutuhan dasar. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menurunkan kualitas hidup generasi berikutnya.
Peningkatan pengangguran di kalangan pria bukan hanya masalah ekonomi, tetapi juga sosial. Ketika harapan sebagai pencari nafkah utama tak terpenuhi, ketegangan dalam rumah tangga dan risiko gangguan sosial pun meningkat.
Pemerintah didorong untuk segera mengambil langkah strategis dalam mengatasi persoalan ini, antara lain melalui penciptaan lapangan kerja yang inklusif, pelatihan vokasi, dan pemberdayaan ekonomi lokal yang bisa menyasar masyarakat perkotaan yang terdampak. Jika tidak ditangani dengan serius, ketimpangan sosial-ekonomi di kota besar akan semakin melebar dan membahayakan stabilitas jangka panjang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....