Sagu Tuada Didorong Jadi Penggerak Pangan dan Ekonomi Desa

  • 21 Agt 2026 21:22 WIB
  •  Ternate

RRI.CO.ID, Ternate - Potensi sagu di Maluku Utara dinilai besar untuk dikembangkan sebagai pangan lokal sekaligus penggerak ekonomi desa. Hal itu mengemuka dalam dialog interaktif RRI Ternate, Kamis, 20 Agustus 2026, membahas penguatan desa mandiri berbasis sagu. Dialog tersebut menghadirkan Prof. Hamidin Rasulu, Mila Fatmawati, dan Ketua KUPS Sagu Tuada Ake Pulau, Risno Mahfud.

Prof. Hamidin Rasulu mengatakan, pengembangan sagu tidak cukup mengandalkan pengolahan tradisional, tetapi membutuhkan hilirisasi secara luas. Hilirisasi mencakup budidaya, teknologi pascapanen, pengolahan, standardisasi produk, pemenuhan perizinan, hingga pemasaran untuk memperluas akses pasar.

Menurut Hamidin, teknologi tepat guna dapat diterapkan sejak pemotongan, pengecilan ukuran, pemarutan, hingga pemisahan pati dan ampas. Proses tersebut dilanjutkan dengan pencucian untuk menghasilkan tepung sagu yang lebih bersih dan berkualitas.

Ia menilai standardisasi dan perizinan penting agar produk olahan sagu dapat masuk supermarket maupun pasar daring. Dengan begitu, sagu tidak hanya menjadi pangan tradisional, tetapi berpeluang berkembang sebagai komoditas bernilai tambah.

Sementara itu, Mila Fatmawati menekankan pentingnya melihat sagu dari perspektif agribisnis, mulai ketersediaan bahan baku hingga pemasaran. Ia mendorong diversifikasi produk menjadi kue, stik, kerupuk, dan pangan olahan lainnya untuk meningkatkan nilai tambah.

Diversifikasi produk dinilai dapat membuka peluang pendapatan bagi kelompok perempuan dan pelaku UMKM di desa. Mila juga mendorong kemasan menarik, pemasaran offline dan online, promosi digital, serta peluang menjangkau pasar lebih luas.

Dari sisi kandungan pangan, pengujian produk sagu Tuada menunjukkan kandungan karbohidrat tinggi sebagai salah satu keunggulan komparatif. Sagu juga disebut bebas gluten, meski penyajiannya tetap perlu diperkaya protein, lemak, vitamin, dan zat gizi lainnya.

Ketua KUPS Sagu Tuada Ake Pulau, Risno Mahfud, mengatakan sagu telah menjadi prioritas desa. Kelompok yang dibentuk sejak 2014 itu kini memiliki sekitar 15 anggota dan menjalankan usaha dengan peralatan bantuan pemerintah.

Namun, pengembangan usaha masih menghadapi kendala cuaca, terutama hujan dan angin yang menyulitkan akses menuju lokasi produksi. KUPS juga masih membutuhkan peralatan produksi dan sarana transportasi untuk mendukung aktivitas kelompok.

Risno berharap dukungan pemerintah dan perguruan tinggi terus diberikan agar KUPS berkembang serta menjadi contoh bagi desa lain. Ia juga mengkhawatirkan keberadaan lahan sagu apabila beralih fungsi untuk pembangunan, sehingga kawasan perlu terus dijaga. Pengembangan tersebut sekaligus diharapkan membuka pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui produk sagu bernilai tambah dan berdaya saing.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....