Saatnya Sagu sebagai Pangan Lokal Naik Kelas
- 21 Agt 2026 11:30 WIB
- Ternate
Poin Utama
- Sagu perlu ditingkatkan statusnya dari pangan sekunder menjadi pangan utama melalui kolaborasi antar pihak yang terstruktur dan berkelanjutan.
- Universitas Khairun meluncurkan Program Kemitraan Masyarakat (PKM Unkhair) bersama warga Desa Tuada untuk mendorong kemandirian pangan berbasis sagu.
- Kemitraan tersebut merupakan strategi konkret untuk memberdayakan desa dan meningkatkan nilai tambah sagu sebagai komoditas pangan strategis.
RRI.CO.ID, Ternate - Sagu sebagai pangan lokal sudah seharusnya naik kelas dan tidak hanya menjadi sumber pangan sekunder. Diperlukan kolaborasi antar pihak untuk mendorong sagu kembali menjadi salah satu sumber pangan utama.
Sebagai upaya untuk mendorong hal tersebut, Universitas Khairun dan masyarakat menjalin kemitraan dalam bentuk Program Kemitraan Masyarakat (PKM Unkhair) di Desa Tuada, Halmahera Barat. Kemitraan tersebut merupakan upaya untuk mendorong desa mandiri pangan berbasis sagu.
Mila Fatmawati, anggota tim pelaksana PKM Unkhair, melihat pentingnya cara pandang masyarakat melihat sagu. Meningkatkan produksi sagu juga harus diikuti dengan penguatan aspek usaha agar komoditas tersebut memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.
“Produk sagu tidak cukup hanya diproduksi, kita harus melihat bagaimana produk tersebut memiliki identitas, kualitas yang konsisten, kemasan yang menarik, legalitas yang lengkap, dan memiliki pasar,” ujar Mila, akademisi yang fokus dalam kajian agribisnis tersebut kepada RRI melalui keterangan tertulis, Kamis 20 Agustus 2026.
Untuk mendorong sagu "naik kelas" maka penguatan agribisnis harus dilakukan dari hulu hingga hilir. “Ketika masyarakat sudah mampu menghitung biaya produksi dan menentukan harga jual secara rasional, mereka tidak lagi hanya menjual bahan atau produk secara tradisional, dalam kondisi tersebut sesungguhnya masyarakat telah membangun sebuah usaha pangan berbasis komoditas lokal,” ucapnya.

Ketua tim pelaksana PKM Unkhair, Prof. Hamidin Rasulu melihat bahwa sagu dapat menjadi komoditi pangan yang patut dikembangkan. “Sagu merupakan pangan lokal yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Namun, potensi tersebut harus diikuti dengan perbaikan proses produksi," kata Hamidin.
Terpisah, Ketua KUPS Sagu Tuada Akepulo, Mahfud Muhammad, menyambut baik pendampingan yang dilakukan perguruan tinggi seperti Unkhair. Menurutnya, teknologi dan pengetahuan yang diberikan dapat membantu masyarakat melihat produksi sagu dapat dikembangkan lebih jauh.
“Kami berharap dengan adanya pendampingan ini, produksi sagu di Tuada bisa lebih bersih, lebih baik kualitasnya, dan bisa memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Kami juga ingin masyarakat semakin yakin bahwa sagu bisa menjadi sumber pendapatan,” katanya.
Program Kemitraan masyarakat (PKM) Desa Binaan oleh Universitas Khairun (Unkhair) yang bertajuk penguatan desa mandiri pangan berbasis produksi sagu. Melalui penerapan standar bersih dan higienis, peningkatan mutu, serta pengembangan nilai tambah produk sagu masyarakat.
Program kemitraan berlangsung di rumah produksi sagu Desa Tuada, Kecamatan Jailolo, kabupaten Halmahera Barat, dan berlangsung sejak Juli hingga Agustus 2026. PKM Unkhair melibatkan peran masyarakat desa terdiri dari Prof. Hamidin, Prof. Yusri, Mila Fatmawati, dan Maiz Papilaya (akademisi STPK Banau Halmahera Barat). Serta unsur masyarakat yakni KUPS Sagu Tuada Akepulo dan UMKM Huda Ma Guci.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....