BMKG Gelar Sekolah Lapang Nelayan dan Mitigasi Bencana di Halbar
- 28 Jul 2026 23:15 WIB
- Ternate
RRI.CO.ID, Jailolo - Sekolah Lapang Nelayan (SLN) dan Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami (SLG) yang merupakan program dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), secara resmi telah digelar di Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, dan dibuka langsung oleh Anggota Komisi V DPR RI, Irine Yusiana Roba Putri, pada Selasa, 28 Juli 2026. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Babullah Ternate dan Stasiun Geofisika Kelas III Ternate.
Deputi Bidang Meteorologi, Andri Ramdhani kepada rri.co.id menyatakan, pelaksanaan SLN dan SLG di Halmahera Barat ini karena wilayahnya dipandang rawan terhadap potensi gempa dan tsunami, dan juga merupakan wilayah kepulauan yang di dominasi oleh masyarakat pesisir serta nelayan.
“BMKG ingin memastikan bahwa peringatan BMKG ini tidak hanya cepat, tepat, akurat tetapi juga mudah dipahami oleh masyarakat dan dapat ditindaklanjuti, untuk keselamatan masyarakat khusus wilayah pesisir dan juga nelayan baik dari bahaya cuaca ekstrim maupun gempa dan tsunami,” ujar Andri, Selasa 28 Juli 2026.
Andri Ramdhani juga berharap, kegiatan ini tentunya juga mendapat dukungan dari Anggota Komisi V DPR RI, Irine Yusiana Roba Putri, guna membangun ataupun membentuk komunitas tanggung masyarakat, komunitas tamu terhadap bencana dan juga terhadap potensi bahaya gempa dan tsunami.
“Hal ini juga meningkat produktivitasm karena di SLC juga bisa memahami informasi potensi ikan, sehingga masyarakat nelayan selain bisa selamat,, juga dapat meningkat kesejahteraannya dalam produktivitas pencarian tangkap Ikan,” ucap Andri.
Pada kesempatan yang sama, Anggota Komisi V DPR RI, Irine Yusiana Roba Putri mengapresiasi kepada BMKG terkait dengan program SLN dan SLG ini. Ia mengatakan, perlu disadari bahwa masih banyak sekali masyarakat yang belum mendapatkan pengetahuan yang cukup terkait dengan perubahan iklim ataupun krisis iklim ini. Sementara yang diketahui bahwa posisi Maluku Utara yang berada di kepulauan yang sebagian besar wilayahnya adalah laut ini menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat Maluku Utara.
“Jadi pada prinsipnya sekolah lapang ini membekali baik itu nelayan ataupun masyarakat secara umum, agar bagaimana untuk memitigasi bencana yang baik itu datang dari laut ataupun gempabumi dan juga tsunami,” ucap Irine kepada rri.co.id.
Irine juga berharap, seluruh masyarakat mampu menjadikan informasi dari BMKG terkait dengan perubahan cuaca ataupun kondisi iklim yang sedang berlangsung ini, dan bisa dimanfaatkan secara luas untuk membekali diri agar selamat dari bencana yang bisa datang kapan saja.
Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Babullah Ternate, Desindra Dedy Kurniawan, menyatakan bahwa ada beberapa Program Sekolah Lapang BMKG diantaranya, Sekolah Lapang Nelayan, Sekolah Lapang Gempa, dan juga Sekolah Lapang iklim.
“Memang di tahun 2026 ini BMKG Maluku Utara mendapatkan dua program saja atau dua amanah yaitu Sekolah Lapang Gempa Bumi atau SLG dan Lapang Cuaca Nelayan. Namun untuk target kami sebetulnya seluruh wilayah Maluku Utara tapi memang untuk setiap tahunnya itu bertahap dan tidak bisa semuanya. Maka di Tahun ini 2026 ini kami mengadakan di Jalolo Halmahera Barat, sementara di Tahun sebelumnya kami sudah pernah mengadakan di Ternate, kemudian Tidore, Sula dan Halsel,” ujar Desindra.
Desindra berharap, ada sinergisitas antara BMKG di daerah maluku utara, Pemerintah Provinsi Maluku Utara dan juga Pemerintah Daerah lain, karena BMKG tidak bisa menggelar Sekolah Lapang ini sendiri. Makanya BMKG perlu bersinergi dan bergandengan tangan agar Sekolah Lapang ini bisa terlaksana dengan baik dan bisa bermanfaat untuk masyarakat Maluku Utara.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....